Menu

Mode Gelap
KAI Daop 7 Madiun dan Kejari Blitar Teken MoU Penanganan Hukum Perdata dan TUN Update KA Mudik: Penjualan Tiket Tembus 2,1 Juta, Okupansi Capai 47,1 Persen IPC TPK Hadirkan Kepedulian Ramadan Lewat 1.600 Paket Takjil Gratis untuk TKBM dan Pengguna Jasa Tahun 2025, FIF Catatkan Laba Bersih Rp4,63 Triliun  Pemain “Istiqomah Cinta” Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Panti Asuhan Begini Strategi J&T Cargo Siapkan Layanan di Ramadhan

SENI BUDAYA

Membaca Surat Puitik LK Ara untuk Penguasa

badge-check


 Membaca Surat Puitik LK Ara untuk Penguasa Perbesar

Wartatrans.com, SASTRA —Tulisan “Mengapa Saya Menulis Syair Surat untuk Prabowo” karya LK Ara dapat dibaca sebagai pernyataan sikap kebudayaan seorang warga yang memilih jalur sastra untuk berhadapan dengan kekuasaan. Ia tidak hadir sebagai manifesto politik, melainkan sebagai kesaksian tradisi—bahwa dalam sejarah Nusantara, kata-kata yang berirama pernah menjadi medium paling beradab untuk menyampaikan kritik, nasihat, dan pengingat kepada penguasa.

Dalam khazanah budaya Melayu–Aceh, syair bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi instrumen etika. Ia hidup di ruang istana dan rakyat, menjembatani jarak antara yang memerintah dan yang diperintah. Penulis menempatkan dirinya secara sadar dalam garis tradisi ini: penyair sebagai penjaga nurani, bukan agitator; pengingat, bukan penuntut. Di sini, bahasa tidak dipakai untuk menguasai, melainkan untuk mengetuk—pelan namun berulang.

Menariknya, tokoh yang dituju – Prabowo, tidak diposisikan sebagai figur personal, melainkan simbol kekuasaan modern. Dengan demikian, syair surat ini bekerja pada dua lapis sekaligus: sebagai dialog imajiner dengan pemegang kuasa, dan sebagai cermin sosial bagi pembacanya. Penulis menolak bahasa teknokratis yang penuh angka dan laporan, memilih metafora alam, waktu, dan rakyat—sebuah pilihan yang menegaskan keyakinan bahwa krisis kemanusiaan dan ekologis sering kali lebih jujur dibaca melalui bahasa kiasan ketimbang statistik.

Akar kultural penulis dari tanah Gayo dan Aceh ini memberi bobot moral pada kata, dalam tradisi tersebut, bukan barang ringan; ia mengandung tanggung jawab. Syair hadir sebagai “penjaga ingatan”, mencatat luka alam dan keletihan rakyat agar kekuasaan tidak kelak berkilah dengan dalih ketidaktahuan. Dalam konteks ini, sastra berfungsi sebagai arsip batin kolektif—sesuatu yang sering luput dari dokumen resmi negara.

Tulisan ini juga menawarkan posisi tengah yang jarang dirawat dalam ruang publik hari ini. Di satu sisi, penulis menolak diam karena diam adalah persetujuan pasif. Di sisi lain, ia menolak kemarahan yang kehilangan adab. Syair dipilih sebagai jalan sunyi: tidak gaduh, tetapi juga tidak menyerah. Sebuah sikap yang mengingatkan bahwa kebudayaan bekerja dalam tempo panjang, tidak selalu serempak dengan hiruk-pikuk politik harian.

Kesadaran bahwa syair surat ini mungkin tak pernah dibaca langsung oleh tokoh yang dituju justru mempertegas watak kebudayaannya. Sastra, dalam pandangan penulis, tidak selalu ditulis untuk sampai ke alamat kekuasaan, melainkan untuk hidup di kesadaran zaman. Nilainya terletak pada daya gugah, bukan pada kepastian respons.

Pada akhirnya, teks ini adalah kesaksian tentang peran penyair di tengah ujian sejarah. Ia menjawab pertanyaan klasik—di mana suara kebudayaan ketika negeri menghadapi persoalan?—dengan tindakan konkret: menulis. Dengan adab, dengan kesetiaan pada kata, dan dengan cinta pada negeri. Dalam lanskap budaya Indonesia hari ini, sikap semacam ini mengingatkan kita bahwa sastra masih memiliki fungsi publik: sebagai ruang etik, ingatan, dan harapan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemain “Istiqomah Cinta” Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Panti Asuhan

4 Maret 2026 - 21:24 WIB

Roda Kematian Militerisme: Kemanusiaan yang Tergerus Peradaban Keras – Refleksi Lukisan Munadi

2 Maret 2026 - 19:16 WIB

Kunjungi Terminal Teluk Lamong, Wali Kota Surabaya Pererat Kolaborasi Pengembangan Layanan Logistik

2 Maret 2026 - 16:55 WIB

“Tobat Woy!” Jadi Magnet, Para Pencari Tuhan Jilid 19 Rajai Rating Sahur Ramadan 2026

27 Februari 2026 - 14:10 WIB

Sinetron Lorong Waktu Jilid 2 Hadirkan Petualangan Sarat Makna di Ramadan 1447 H

27 Februari 2026 - 11:13 WIB

Swara Reiki January: Menjaga Iman di Negeri Ratu Elizabeth, Menemukan Makna Islam di Inggris

27 Februari 2026 - 09:52 WIB

Baiti Syaghaf Bersyukur Tamara di “Lorong Waktu Jilid 2” Makin Dicintai, Aktingnya Dipuji Lebih Dewasa

26 Februari 2026 - 21:50 WIB

Bangga Jadi WNI, Swara Reiki January Pilih Kembali ke Merah Putih Usai Raih Gelar Sarjana di London

26 Februari 2026 - 17:30 WIB

Diawali Santunan Anak Yatim, Nita Thalia Jalani Operasi Facelift di Klinik Bedah Plastik Queen Sunter

25 Februari 2026 - 20:37 WIB

PJBW Pekan ke-64: Wartawan Berbagi Takjil dan Sedekah Barang untuk Anak Yatim dan Kaum Dhuafa

23 Februari 2026 - 20:39 WIB

Trending di RAGAM