Wartatrans.com, DEPOK– Masjid tak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga bisa menjadi ruang belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi generasi muda. Semangat inilah yang melandasi pelatihan Citizen Journalism dan Content Creator di Masjid Ar-Riyadh, Perumahan Nuansa Permai, Kelapa Dua, Cimanggis, Depok, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan yang diikuti puluhan peserta, mayoritas kalangan remaja, ini menghadirkan dua narasumber berpengalaman di bidang jurnalistik dan industri kreatif, yakni jurnalis senior Romi Syahril, MM, M.I.Kom, serta Mohammad Isfan Sabri, Head Unit Section MNC Promo.
Menariknya, pelatihan ini tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan jurnalistik dan kreativitas digital, tetapi juga menjadi upaya mendekatkan generasi muda dengan masjid melalui kegiatan yang edukatif dan produktif.
Romi Syahril, yang merupakan redaktur Harian Terbit, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), sekaligus pengurus Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, membawakan materi tentang Citizen Journalism atau jurnalisme warga.
Menurut Romi, perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membuka kesempatan luas bagi masyarakat untuk terlibat dalam penyebaran informasi. Berbekal telepon genggam, siapa pun dapat mendokumentasikan peristiwa, mengangkat persoalan lingkungan, melaporkan kegiatan sosial, hingga membagikan kisah inspiratif dari sekitarnya.
Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
“Menjadi jurnalis warga bukan sekadar merekam peristiwa atau mengunggah informasi ke media sosial. Kita juga harus memastikan informasi yang disampaikan berdasarkan fakta dan dapat dipertanggungjawabkan, sesuai kaidah jurnalistik 5W+1H,” ujar Romi.
Ia berharap, melalui pelatihan ini, generasi muda semakin kritis dalam menerima informasi, tidak mudah menyebarkan berita yang belum terverifikasi, serta mampu memanfaatkan media digital untuk menyampaikan hal-hal positif.
Sementara itu, Mohammad Isfan Sabri memberikan pemahaman mengenai dunia Content Creator. Ia menjelaskan bahwa menjadi kreator konten bukan semata-mata membuat video menarik atau mengikuti tren yang sedang viral.
Menurut Isfan, konten yang berkualitas membutuhkan proses kreatif, mulai dari pencarian ide, penentuan tujuan, penyusunan konsep, produksi, penyuntingan, hingga evaluasi setelah dipublikasikan.
“Di balik sebuah konten yang berhasil menarik perhatian audiens, ada proses kreatif yang harus dijalani. Karena itu, seorang content creator perlu memahami apa yang ingin disampaikan dan siapa audiens yang menjadi sasaran,” terangnya.
Kedua materi tersebut saling melengkapi. Jika Citizen Journalism mengajarkan peserta mengumpulkan, memeriksa, dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab, Content Creation membekali mereka dengan kemampuan mengemas informasi menjadi karya digital yang menarik dan mudah dipahami.
Dengan bekal tersebut, para remaja diharapkan mampu menghasilkan konten yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat. Misalnya, membuat video kegiatan kerja bakti, mendokumentasikan aktivitas sosial di masjid, atau mengangkat kisah inspiratif tokoh di lingkungan tempat tinggal mereka.
Dekatkan Remaja dengan Masjid
Ketua panitia, Ustaz Abdul Aziz dari Raih Dua Cahaya yang berada di bawah naungan Jawa-Depok, mengatakan pemilihan masjid sebagai lokasi pelatihan merupakan bagian dari upaya mendekatkan generasi muda dengan lingkungan keagamaan.
“Kami sengaja mengadakan kegiatan ini di Masjid Ar-Riyadh, bukan di kampus atau gedung pendidikan. Harapannya, anak-anak remaja yang selama ini belum dekat dengan masjid bisa lebih rajin datang ke masjid. Jadi, mereka tidak hanya pandai dalam ilmu dunia, tetapi juga memiliki bekal ilmu akhirat,” ungkapnya.
Menurutnya, masjid memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan diri anak muda. Berbagai kegiatan positif dapat diselenggarakan agar masjid semakin dekat dengan kehidupan dan kebutuhan generasi masa kini.
Romi Syahril pun mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menilai masjid dapat memainkan peran yang lebih luas, tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pendidikan, kegiatan sosial, dan pengembangan keterampilan generasi muda.
“Masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga dapat menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan pengembangan kapasitas generasi muda. Melalui kegiatan seperti ini, para remaja memperoleh kesempatan memperluas wawasan, mengenal keterampilan baru, serta memahami cara menggunakan teknologi secara lebih produktif,” pungkasnya.
Pelatihan ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital, generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta tanggung jawab. Dengan dukungan lingkungan yang positif, masjid pun dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk melahirkan generasi yang cakap bermedia, kreatif berkarya, dan tetap berpegang pada nilai-nilai keagamaan.*** (Byl)






















