Wartatrans.com, JAKARTA — Tokoh muda asal Aceh, Dr. (Cand) Khaidir Abdurrahman, S.IP., M.A.P., menjalani prosesi adat peusijuek (tepung tawar) sebagai wujud tasyakuran atas amanah barunya sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia. Acara khidmat dan penuh kekeluargaan ini diselenggarakan di Aula Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), Jalan RP Soeroso, Menteng, Jakarta, pada Minggu (11/8/2026).
Prosesi peusijuek dipimpin langsung oleh sejumlah tokoh penting Aceh, di antaranya Wakil Gubernur Aceh H. Fadhlullah, SE., ulama kharismatik Aceh Tgk. Tu Bulqaini, Ketua MAA Perwakilan Aceh Surya Darma, Ketua Diaspora Global Aceh Mustafa Abubakar, serta tokoh perempuan Aceh Pocut Haslinda.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut para kepala daerah dan tokoh nasional asal Aceh, seperti Bupati Aceh Utara Ayah Wa, Wakil Bupati Aceh Timur, Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria, pengusaha sukses Ismail Rasyid, serta ratusan warga Aceh di Jabodetabek yang hadir untuk memberikan doa dan ucapan selamat.
Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, SE., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi serta ucapan selamat atas terpilihnya Khaidir Abdurrahman sebagai anggota BPK RI. Ia berharap kehadiran putra daerah di lembaga pemeriksa keuangan negara ini dapat memperkuat komunikasi yang konstruktif dengan pemerintah.
”Pemerintah berharap BPK terus membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah,” pesan Wagub.

Dr. (Cand) Khaidir Abdurrahman, S.IP., M.A.P. – Anggota BPK RI (tengah) bersama jurnalis Wartatrans.com.
Selain itu, Wagub juga memaparkan kondisi terkini Aceh yang sedang berada dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi. Pemerintah pusat dan daerah saat ini mengelola alokasi anggaran hampir Rp60 triliun selama tiga tahun untuk mengejar ketertinggalan dan memperbaiki berbagai kerusakan infrastruktur.
Dalam pemaparannya, Wagub merincikan beberapa tantangan pemulihan infrastruktur di Aceh:
Sungai: Terdapat 414 sungai di Aceh, di mana 70 di antaranya masih mengalami pendangkalan yang tersebar di berbagai kabupaten, termasuk salah satunya di kawasan Langkahan, Aceh Utara.
Jembatan: Dari total 405 jembatan rusak, sebanyak 202 jembatan sedang dikerjakan oleh TNI dan 70 jembatan lainnya dalam proses pengerjaan.
Infrastruktur Jalan: Tercatat ada sekitar 2.500 titik jalan yang mengalami putus total dan memerlukan penanganan segera.
Dukungan Tokoh Nasional dan Harapan Baru
Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, yang turut hadir memberikan sambutan, menyampaikan rasa bangga dan harapannya agar kehadiran Khaidir Abdurrahman di BPK RI dapat semakin memperkuat kinerja lembaga tersebut dalam mengawal tata kelola keuangan negara.
Khaidir Abdurrahman pernah duduk di DPR RI pada tahun 2014 (Komisi IX membidangi tenaga kerja, transmigrasi, kependudukan, hingga kesehatan), menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas terselenggaranya tradisi peusijuek bagi dirinya.
”Ini adalah bagian dari adat istiadat kita di Aceh. Saya mohon doa dari seluruh masyarakat agar dapat mengemban tugas negara ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Khaidir.
Yunidar ZA, penulis buku Perang dan Damai, yang turut hadir dalam acara tersebut menambahkan bahwa tradisi peusijuek merupakan bagian dari kearifan lokal (local wisdom) untuk merajut perdamaian, menyatukan persepsi, serta memanjatkan doa bersama.
”Selamat melaksanakan tugas kepada Dr. Tgk. Khaidir sebagai Anggota BPK RI. Semoga ini memberikan harapan baru bagi tata kelola keuangan di seluruh Indonesia ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang memiliki wewenang memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
Ketua Panitia Peusijuek Zulkifli Ibrahim menyampaikan terima kasih kepada para tokoh dan warga Aceh yang telah memenuhi undangan panitia. “Kami segenap panitia menyampaikan apresiasi bahwa seluruh rangkaian acara Peusijuek berjalan dengan baik,” kata Zulkifli Ibrahim.
Upacara Peusijuek juga diisi dengan tausyiah oleh Tgk Tu Bulqaini dan ditutup dengan. Makan siang bersama dengan sajian makanan khas Aceh.*** (Fikar W Eda)






















