Wartatrans.com, JAKARTA – Perjalanan panjang selama 46 tahun Sanggar Matahari dirayakan secara khidmat dan meriah dalam perhelatan yang merangkul lintas generasi, komunitas seni, hingga dunia pendidikan, di PDS HB Jassin Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Perayaan hari jadi yang mengukuhkan konsistensi sanggar sebagai simpul kebudayaan kerakyatan ini dipenuhi oleh isak tangis haru, apresiasi sastra, serta pementasan seni yang melibatkan anak-anak muda hingga penyandang disabilitas.
Kemeriahan HUT ke-46 ini diwarnai oleh penampilan memukau dari berbagai pengisi acara yang membentang dari kelompok seni sekolah hingga musisi dan sastrawan independen. Deretan penampil yang turut memeriahkan panggung antara lain:
Tersajakkanlah, Vanderwijck7, Matahari Muda, Keboen Sastra Bogor, Teater Kosong Satoe – SDN Pulogadung 01, Sanggar Seni Nurul Yaqin, dan Sahabat Matahari – SKHN 01 Tangsel (sekolah khusus yang menampilkan inklusivitas seni bagi anak-anak berkebutuhan khusus).
Sanggar Matahari sebagai tuan rumah.
Kehadiran kelompok-kelompok seni sekolah dan difabel menegaskan napas Sanggar Matahari sejak awal berdirinya: bahwa seni adalah milik semua kalangan tanpa terkecuali.
Diskusi Seni dalam Pendidikan Keluarga dan Tokoh Sastra Nasional
Rangkaian acara juga diisi dengan sesi diskusi bertajuk “Seni dalam Pendidikan Keluarga”. Diskusi mendalam ini menghadirkan narasumber-narasumber terkemuka di bidangnya, yakni kritikus sastra terkemuka Maman S. Mahayana, tokoh teater legendaris Rudolf Puspa, serta Gema Aliza Putra (putra tertua dari mendiang Andrie S. Putra / Ane Matahari). Diskusi ini mengupas bagaimana penanaman nilai estetika, moral, dan kebudayaan berakar dari ruang lingkup keluarga dan keteladanan para pendiri.

Penampilan Matahari Muda dan Teater Kosong Satu SDN 01 Pulk Gadung dalam HUT Sanggar Matahari (Ft: dok)
Acara yang sarat kekeluargaan ini turut dihadiri langsung oleh pendiri sanggar, Hj. Rosnilla Djalal, yang menyampaikan rasa haru dan terima kasih mendalam karena masih diberikan kesempatan untuk merayakan hari jadi Sanggar Matahari bersama anak, cucu, sahabat, dan para seniman.
Sejumlah tokoh penting kebudayaan dan pimpinan lembaga turut hadir memberikan dukungan, di antaranya:
Achmad Fachrozi (Direktur Utama PT Balai Pustaka), Sutardji Calzoum Bachri (Presiden Penyair Indonesia), para sastrawan dan seniman terkemuka seperti Fanny J. Poyk, Kurnia Effendi, Guntoro Sulung, Remmy Novaris DM, dan masih banyak lagi.
Prosesi Pemotongan Tumpeng Simbolik
Puncak perayaan ditandai dengan prosesi pemotongan nasi tumpeng oleh lima personel Sanggar Matahari, Dedies Putra Siregar, Devie K Syahni, Irma K Syahni, Denie S Putra, Herie S Putra. Tumpeng tersebut kemudian secara simbolis diserahkan kepada Hj. Rosnilla Djalal, Rudolf Puspa, Dirut PT Balai Pustaka Achmad Fachrozi, dan Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri sebagai wujud penghormatan lintas generasi dan institusi terhadap perjuangan panjang sanggar.
Dengan terselenggaranya perayaan ini, Sanggar Matahari membuktikan bahwa meski para pendiri utamanya telah berpulang, api kreativitas dan ketulusan dalam merawat kebudayaan Indonesia akan terus menyala dari generasi ke generasi.
Sanggar Matahari adalah kelompok kesenian independen yang bergerak di bidang teater, musikalisasi puisi, sastra, dan pendidikan seni kemanusiaan. Didirikan di Jakarta pada 5 Oktober 1980 oleh H. Fredie Arsi dan Hj. Rosnilla Djalal, sanggar ini terus berkomitmen menjadi ruang inkubasi dan rumah bersama bagi ekosistem seni Indonesia.*** (Fikar W Eda)


























