Wartatrans.com, BANDA ACEH — Seniman Tanzil Murda menghadirkan identitas dan ingatan budaya Aceh melalui karya Rampagoe: Peeling Time dalam Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.
Mengusung tema “Cultural Nuances”, karya berukuran 75 × 75 cm dengan teknik mix on canvas ini mengangkat rampagoe, alat tradisional untuk mengupas dan membelah pinang dalam tradisi bersirih atau pajôh ranub.
Di tangan Tanzil, rampagoe tidak lagi sekadar benda fungsional. Ia menjadi simbol ingatan budaya yang perlahan tergerus perubahan zaman.
Judul Peeling Time atau “mengupas waktu” menjadi metafora untuk membuka kembali lapisan tradisi, ingatan dan identitas masyarakat Aceh.
Karya ini menampilkan rampagoe dalam skala besar, berpadu dengan figur perempuan tua berjilbab, tangan robot, pinang, sirih, ornamen, tekstur dan fragmen visual lainnya. Figur perempuan menjadi simbol penjaga ingatan antargenerasi, sementara tangan robot merepresentasikan perubahan zaman.
Melalui pendekatan Pop Art kontemporer figuratif dan teknik mixed media, Tanzil menghadirkan benda sederhana menjadi objek monumental.
Pesan yang ditawarkan sederhana tetapi kuat: ketika sebuah benda budaya mulai dilupakan, ingatan tentang identitas masyarakat juga ikut terancam hilang.
Rampagoe: Peeling Time karena itu bukan sekadar nostalgia tentang masa lalu Aceh. Karya ini menjadi pertanyaan tentang apa yang dipertahankan, apa yang ditinggalkan, dan warisan budaya apa yang akan diberikan kepada generasi mendatang.
Di ruang pameran internasional USK, rampagoe akhirnya bukan hanya menjadi benda budaya Aceh, tetapi bahasa visual tentang waktu, perubahan dan ingatan manusia.*** (Kamaruzzaman)


























