Menu ✖

Mode Gelap
Tanzil Murda Hadirkan Ingatan Budaya Aceh Lewat Rampagoe: Peeling Time Terminal Kijing Perkuat Peran sebagai Simpul Logistik dan Perdagangan Strategis di Kalbar H. Fikri Hudi Oktiarwan Dorong Pengelolaan Sampah Jawa Barat Tuntas dari Hulu Hingga Hilir WASPADA ! Udara di Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama Masuk Kategori BERBAHAYA pada 9 Oktober 2026 Di Tengah Kekeringan Hampir Empat Bulan, PUPR2KP  Alirkan Air Bersih ke Kampung Lusiferi PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan

SENI BUDAYA

Tanzil Murda Hadirkan Ingatan Budaya Aceh Lewat Rampagoe: Peeling Time

badge-check


 Tanzil Murda Hadirkan Ingatan Budaya Aceh Lewat Rampagoe: Peeling Time Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH — Seniman Tanzil Murda menghadirkan identitas dan ingatan budaya Aceh melalui karya Rampagoe: Peeling Time dalam Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.

Mengusung tema “Cultural Nuances”, karya berukuran 75 × 75 cm dengan teknik mix on canvas ini mengangkat rampagoe, alat tradisional untuk mengupas dan membelah pinang dalam tradisi bersirih atau pajôh ranub.

Di tangan Tanzil, rampagoe tidak lagi sekadar benda fungsional. Ia menjadi simbol ingatan budaya yang perlahan tergerus perubahan zaman.

Judul Peeling Time atau “mengupas waktu” menjadi metafora untuk membuka kembali lapisan tradisi, ingatan dan identitas masyarakat Aceh.

Karya ini menampilkan rampagoe dalam skala besar, berpadu dengan figur perempuan tua berjilbab, tangan robot, pinang, sirih, ornamen, tekstur dan fragmen visual lainnya. Figur perempuan menjadi simbol penjaga ingatan antargenerasi, sementara tangan robot merepresentasikan perubahan zaman.

Melalui pendekatan Pop Art kontemporer figuratif dan teknik mixed media, Tanzil menghadirkan benda sederhana menjadi objek monumental.

Pesan yang ditawarkan sederhana tetapi kuat: ketika sebuah benda budaya mulai dilupakan, ingatan tentang identitas masyarakat juga ikut terancam hilang.

Rampagoe: Peeling Time karena itu bukan sekadar nostalgia tentang masa lalu Aceh. Karya ini menjadi pertanyaan tentang apa yang dipertahankan, apa yang ditinggalkan, dan warisan budaya apa yang akan diberikan kepada generasi mendatang.

Di ruang pameran internasional USK, rampagoe akhirnya bukan hanya menjadi benda budaya Aceh, tetapi bahasa visual tentang waktu, perubahan dan ingatan manusia.*** (Kamaruzzaman)

Baca Lainnya

Zulfikar Kirbi, Seni Harus Terus Mengalir, Jangan Sampai Berhenti

7 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 Hadirkan Semangat Persahabatan Lintas Negara di USK

7 Oktober 2026 - 12:38 WIB

Sembilan Tahun Ruang Baca, Doa untuk Negeri Mengiringi Perayaan

5 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Komunitas Ruang Baca Rayakan HUT ke-9 Lewat Galeri Esai di Warung Kopi

5 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Wahyu Zein, Penyany Sekaligus Komposer Rilis EP dan Sukses Tembus 8 Ribuan Montly Listeners di Spotify

5 Oktober 2026 - 08:25 WIB

Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 Digelar di USK, Hadirkan Seniman dari Berbagai Negara

5 Oktober 2026 - 08:13 WIB

Erna Santoso: Batik Harus Dicintai Generasi Muda

4 Oktober 2026 - 05:08 WIB

Wartatrans Support Musik Indonesia Lewat Gigzi ‘Asupan Gizi Para Musisi’

3 Oktober 2026 - 18:37 WIB

Di Hari Batik Nasional, Halimah Munawir Angkat Kekayaan Batik dalam Novel Padmi

3 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Agnez Mo, Judika, Ungu, hingga D’Masiv Meriahkan Ajang Balap Dunia di Mandalika

2 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Trending di RAGAM