Wartatrans.com, MAGELANG — Karya seni dapat menjadi ruang pertemuan antara cinta, perjuangan, ingatan sejarah, dan kegelisahan terhadap kondisi bumi. Gagasan tersebut mengemuka dalam refleksi Claudia Olivia atas karya-karya Hisam Al Gibran yang berdialog dengan buku puisi Ode Untuk Namamu karya Rekki Zakkia.
Dalam refleksinya yang ditulis di Borobudur, 8 Oktober 2026, Claudia menyoroti bagaimana Hisam menghadirkan beragam simbol melalui medium kulit, benda sehari-hari, serta perpaduan figur mitologis dan tulisan kontemporer. Karya-karya tersebut tidak sekadar menjadi ekspresi artistik, tetapi juga membuka ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan dirinya, sesama, sejarah, dan alam.
Salah satu karya yang disorot adalah Wani Sumarah. Melalui komposisi warna, figur, tulisan, serta konstruksi kulit yang direntangkan dengan tali, karya ini menghadirkan gambaran tentang keberanian untuk berserah di tengah tekanan kehidupan.
Sementara itu, karya Pertiwi Maha Anarki menampilkan sosok Ibu Bumi yang memancarkan kehidupan melalui aliran air dari gunung-gunung suci menuju lembah. Kehadiran simbol Naga Jawa dan bendera anarkis menciptakan pertemuan antara kesakralan alam, kedaulatan, dan semangat pemberontakan.
Claudia melihat karya tersebut sebagai pengingat bahwa penghormatan terhadap bumi harus berhadapan dengan kenyataan kerusakan lingkungan. Hutan, sungai, dan tanah bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian penting dari kehidupan, identitas, dan keberlanjutan masyarakat.
Refleksi itu juga menghubungkan karya visual Hisam dengan puisi-puisi perlawanan Rekki Zakkia. Puisi-puisi dari era 1990-an, termasuk seruan kepada Udin dan Wiji Thukul, berdampingan dengan tulisan-tulisan yang lebih mutakhir. Kehadiran nama-nama tersebut menegaskan bahwa ingatan sejarah dan tuntutan keadilan tetap relevan dalam kehidupan masa kini.

Di sisi lain, tema cinta hadir melalui karya-karya yang mengolah mitologi, spiritualitas, dan pengalaman manusia. Dalam Pada Sebuah Taman, misalnya, figur Adam dan Hawa yang terinspirasi wayang dipertemukan dengan simbol ular dan taman bercahaya. Perpaduan itu membuka pertanyaan tentang makna mencintai seseorang: apakah cinta tumbuh dari kesamaan yang dikenali atau dari kesediaan menerima keunikan orang lain?
Puisi-puisi Rekki Zakkia turut memperkaya dialog tersebut melalui gambaran hutan, kitab suci, kepulangan, dan doa. Cinta digambarkan sebagai pengalaman yang mampu mengubah pemahaman manusia terhadap bahasa, hubungan, dan kehidupan.
Dimensi keseharian juga tampak dalam karya Kiai Turrangga Jati, yang memanfaatkan panel-panel lengkung Vespa sebagai medium ekspresi seni. Sementara itu, Ada Api Di Dalam Diriku menggunakan kompor sederhana untuk menggambarkan intensitas batin melalui simbol api, panas, dan proses pembakaran.
Bagi Claudia, karya-karya tersebut memperlihatkan bahwa cinta dan perjuangan tidak hanya hadir dalam pernyataan besar atau semangat perlawanan, tetapi juga dalam tindakan merawat kehidupan sehari-hari, mendampingi mereka yang terluka, dan memastikan kehidupan dapat terus berlangsung.
Melalui dialog antara karya Hisam Al Gibran dan puisi Rekki Zakkia, seni menjadi ruang untuk mempertanyakan kembali batas antara diri dan dunia luar. Permukaan karya menampung berbagai pengalaman, ingatan, dan gagasan yang saling berkelindan, sekaligus mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kehidupan di sekitarnya.
Claudia menutup refleksinya dengan pemahaman bahwa kulit menyimpan jejak perjumpaan, kompor menyimpan kemungkinan nyala, dan hati menyimpan keduanya. Api, sebagaimana hati, membutuhkan sesuatu di luar dirinya agar dapat menyala.
Refleksi ini menempatkan seni bukan hanya sebagai objek untuk dinikmati, melainkan juga sebagai pengalaman yang menggerakkan kesadaran tentang cinta, perjuangan, lingkungan, dan tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.*** (RM Sudarmono)


























