Menu

Mode Gelap
LDII Sulsel Hadiri Upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Polda Sulsel, Tegaskan Komitmen Sinergi Jaga Kamtibmas Dzul Rajali Nahkodai Senat Mahasiswa STKIP YPUP Makassar, Siap Bangkitkan Semangat Organisasi Kamaruzzaman Latih Kelompok Perempuan Beutong Bersatu Mengolah Kopi, Dorong Lahirnya Usaha Berbasis Komunitas Dzul Rajali Nahkodai Senat Mahasiswa STKIP YPUP Makassar, Siap Bangkitkan Semangat Organisasi 20 Muharram 1448 H: Momentum Memperkuat Iman, Hijrah, dan Kepedulian Sosial Lewat Car Free Day, FIFGROUP Gaungkan Kampanye “Perempuan Berperan” untuk Mendorong Kesetaraan Gender

RAGAM

Perempuan di Sambas Ditangkap atas Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak Angkat

badge-check


 Perempuan di Sambas Ditangkap atas Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak Angkat Perbesar

Wartatrans.com, SAMBAS — Kepolisian Resor Sambas, Kalimantan Barat, menangkap seorang perempuan berinisial SK, 38 tahun, atas dugaan melakukan kekerasan seksual terhadap anak angkat laki-lakinya yang masih berusia sembilan tahun. Kasus ini kini menjadi perhatian publik dan ditangani secara intensif oleh aparat kepolisian.

SK, warga Kecamatan Paloh, diamankan Satuan Reserse Kriminal Polres Sambas setelah adanya laporan resmi dari pendamping korban. Penangkapan dilakukan usai penyidik mengumpulkan keterangan korban, saksi, serta sejumlah barang bukti yang dinilai menguatkan dugaan tindak pidana tersebut.

“Kami telah mengamankan seorang perempuan berusia 38 tahun sebagai tersangka dalam kasus dugaan perbuatan pencabulan terhadap anak di bawah umur,” kata Kepala Seksi Humas Polres Sambas AKP Sadoko saat dikonfirmasi, Selasa, 27 Januari.

Kasus ini mencuat setelah beredar luas di media sosial dan memicu keprihatinan masyarakat. Menanggapi hal tersebut, kepolisian menyatakan penanganan perkara dilakukan secara profesional dan sesuai prosedur hukum.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sambas AKP Rahmad Kartono mengatakan penetapan status tersangka dilakukan setelah gelar perkara. “Penetapan tersangka dilakukan pada Sabtu, 24 Januari, setelah penyidik menyatakan alat bukti cukup,” ujarnya.

Menurut Rahmad, perkara ini menjadi atensi khusus karena menyangkut keselamatan dan masa depan anak. Ia menegaskan komitmen kepolisian untuk menuntaskan kasus tersebut hingga ke tahap hukum berikutnya.

“Kami berkomitmen menangani setiap perkara yang berkaitan dengan anak, perempuan, dan kelompok rentan secara tegas dan objektif sesuai ketentuan hukum,” kata Rahmad.

Berdasarkan penyelidikan sementara, tersangka diduga tidak hanya melakukan perbuatan asusila, tetapi juga merekam kejadian tersebut dan memperlihatkannya kepada pihak lain. Dugaan ini disebut dapat memperberat posisi hukum tersangka.

Ketua Humanity Women Children Indonesia (HWCI) Kalimantan Barat, Eka Nurhayati Ishak, mengatakan kasus ini terungkap setelah adanya laporan dan proses pendampingan terhadap korban. “Dari penelusuran awal, ditemukan indikasi kuat terjadinya kekerasan seksual terhadap anak, yang kemudian kami laporkan ke aparat penegak hukum,” ujarnya.

Sehari-hari, SK diketahui bekerja sebagai penjual lontong sayur di lingkungan tempat tinggalnya. Aktivitasnya yang dinilai biasa membuat warga sekitar tidak menaruh kecurigaan hingga kasus ini terungkap.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, SK ditahan di Rumah Tahanan Polres Sambas untuk kepentingan penyidikan. Polisi masih mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang mengetahui atau terlibat dalam perkara tersebut.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 418 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman pidana penjara maksimal 12 tahun.

Sementara itu, perlindungan terhadap korban menjadi prioritas utama. Kepolisian bersama instansi terkait memastikan korban mendapatkan pendampingan hukum, kesehatan, dan psikologis.

“Kami memastikan korban memperoleh perlindungan maksimal. Pemulihan kondisi fisik dan mental korban menjadi perhatian utama,” kata AKP Sadoko.

Saat ini, korban berada dalam perlindungan keluarga bersama sang nenek. Dalam waktu dekat, korban direncanakan dibawa ke Pontianak untuk mendapatkan pendampingan psikologis dan layanan konseling di tingkat provinsi.

Kasus ini kembali menegaskan pentingnya peran keluarga, masyarakat, dan negara dalam melindungi anak dari segala bentuk kekerasan. Kepolisian mengimbau masyarakat agar segera melapor jika mengetahui atau mencurigai adanya tindak kekerasan terhadap anak.***

DWIGYDZIGY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LDII Sulsel Hadiri Upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Polda Sulsel, Tegaskan Komitmen Sinergi Jaga Kamtibmas

5 Juli 2026 - 20:12 WIB

20 Muharram 1448 H: Momentum Memperkuat Iman, Hijrah, dan Kepedulian Sosial

5 Juli 2026 - 12:45 WIB

Walikota Langsa Rombak Kabinet Secara Besar besaran 

5 Juli 2026 - 05:24 WIB

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Krakatau Bergerak ke Barat, Belum Berdampak pada Bandara dan Jalur Penerbangan

4 Juli 2026 - 15:09 WIB

Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban 

4 Juli 2026 - 06:38 WIB

Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

3 Juli 2026 - 21:59 WIB

Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin

3 Juli 2026 - 21:05 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Tambang

3 Juli 2026 - 15:29 WIB

Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra

3 Juli 2026 - 15:14 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Trending di ANJUNGAN