Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Di tengah keterisolasian dan trauma pascabencana, Posko Rakyat menginisiasi kegiatan posschooling bagi anak-anak Desa Atu Payung, Kabupaten Aceh Tengah. Program ini menjadi upaya menjaga keberlangsungan pendidikan dasar di wilayah yang hingga kini masih terputus dari kondisi normal.
Relawan Posko Rakyat, Wedy Sastra Yoga Bintang, mengatakan kegiatan tersebut digagas karena anak-anak tak hanya membutuhkan pangan dan tempat tinggal, tetapi juga perhatian serius di bidang pendidikan. “Selain rumah, bahan pangan, dan ekonomi yang belum tahu kapan akan pulih, ada anak-anak yang rindu kembali belajar,” ujar Wedy, Selasa, 7 Januari 2026.

Sebanyak 30 siswa sekolah dasar mengikuti pembelajaran posschooling dengan metode home schooling yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap program wajib belajar sembilan tahun. Namun, keterbatasan logistik masih menjadi persoalan utama.

Relawan berusaha membawa ginset ke kampung Atu Payung Kecamatan Bintang Kabupaten Aceh Tengah
“Untuk konsumsi, kami hanya mampu membagikan roti ringan. Stoknya cukup sekitar empat hari, terhitung sejak Sabtu hingga hari ini,” kata Wedy. Kondisi di lapangan disebut masih mencekam, terutama saat hujan turun. Gemuruh air dan bebatuan dari pegunungan yang mengalir deras di Sungai Atu Payung kerap memicu trauma warga, membuat mereka bergegas keluar dari rumah-rumah yang sebagian sudah dalam kondisi reot.
Relawan Posko Rakyat berupaya mengisi pagi hari dengan kegiatan hiburan dan psikososial bagi anak-anak serta pemuda desa. Ketiadaan listrik memperparah situasi. Untuk kebutuhan komunikasi, relawan membawa perangkat Starlink agar tetap terhubung dengan kota. “Namun kami hanya relawan. Kami tidak memiliki kekuatan logistik dan prasarana yang memadai,” ujarnya.
Kebutuhan hunian sementara atau huntara disebut menjadi hal mendesak. Nurisama, S.Pd., salah satu pendamping kegiatan pendidikan di Atu Payung, menegaskan bahwa tanpa huntara, sulit menggerakkan aktivitas warga. “BBM sangat sulit, kalaupun ada harganya jauh dari jangkauan. Hasil pertanian pun sebagian tidak bisa dijual,” katanya.
Meski berada dalam situasi mencekam, semangat belajar anak-anak tetap menyala. Mereka datang mengikuti posschooling dengan mengenakan seragam olahraga sekolah. “Hari ini mereka rindu belajar,” ujar Nurisama. “Pendidikan tetap harus berjalan, di tengah keterbatasan apa pun.”*** (Jasa)























