Wartatrans.com, JAKARTA + Presiden Prabowo Subianto turun ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (22/8/2026), memimpin penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ketika 1.842 titik panas terpantau di lima provinsi Kalimantan sehari sebelumnya.
Data Posko Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng per 21 Agustus mencatat 1.639 kejadian dengan luas area terbakar 4.499,21 hektare.

BNPB mencatat 48.889,69 hektare lahan terbakar di enam provinsi prioritas hingga 9 Agustus, dengan Kalimantan Barat menyumbang 28.680,47 hektare.
Di Palangka Raya, Prabowo memimpin rapat di Posko Aju kawasan Bandara Tjilik Riwut. Pemerintah pusat menambah empat helikopter water bombing, sekitar 100 pompa air, 2.000 alat pelindung diri, serta perlengkapan pendukung.
“Yang terpenting saat ini adalah segera menghentikan perluasan dan penambahan titik api,” kata Prabowo seusai penanganan karhutla di Palangka Raya, Sabtu (22/8/2026).
Ia menegaskan perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran akan ditindak sesuai hukum.
Operasi berlangsung ketika kondisi atmosfer masih mendukung risiko kebakaran. BMKG menyebut kondisi kering masih mendominasi Indonesia, sementara El Niño berada pada intensitas sangat kuat.
BNPB mencatat 1.842 titik panas di Kalimantan pada 21 Agustus berdasarkan NASA-NOAA20, terdiri atas 976 titik di Kalimantan Tengah, 489 di Kalimantan Barat, 237 di Kalimantan Timur, 125 di Kalimantan Selatan, dan 15 di Kalimantan Utara.
Hotspot bukan otomatis kebakaran aktual dan deteksi satelit memiliki keterbatasan pada wilayah tertutup awan atau blank zone.
BMKG menggunakan SPARTAN atau Fire Danger Rating System untuk membaca kondisi meteorologi yang mendukung karhutla. Sistem ini tidak menunjukkan lokasi api, tetapi tingkat bahaya berdasarkan kondisi cuaca.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, “Spartan bukan menginformasikan lokasi kebakaran (titik api), tapi gambaran kondisi cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran apabila terdapat sumber atau hotspot,” dalam sosialisasi daring, Selasa (23/6/2026).
Persoalan berikutnya adalah bagaimana data diubah menjadi keputusan. Peneliti IPB University Prof. Imas Sukaesih Sitanggang mengatakan, “Ketersediaan data saja tidak cukup apabila tidak diolah menjadi informasi yang bermanfaat bagi pengguna.”
Tim IPB mengembangkan sistem OLAP Hotspot Karhutla untuk menganalisis histori titik panas berdasarkan lokasi, waktu, dan tingkat kepercayaan. Sistem itu dirancang melengkapi SiPongi+ dengan analisis pola dan tren.
Batas teknologi terlihat pada pemadaman. Modifikasi cuaca bergantung pada kondisi awan, sedangkan water bombing membutuhkan akses udara, sumber air, lokasi api, cuaca, dan koordinasi pasukan darat.
Karhutla bukan persoalan baru. BNPB mencatat kebakaran 1997-1998 membakar lebih dari sembilan juta hektare, sedangkan pada 2015 sekitar 2,6 juta hektare dengan kerugian ekonomi diperkirakan Rp221 triliun.
Pada 2026, biaya ekonomi belum layak disimpulkan sebagai angka final. Namun, pengerahan helikopter, pompa, personel, dan operasi penanganan menunjukkan karhutla tetap menyerap sumber daya negara.
Teknologi semakin mampu membaca risiko dan menemukan indikasi kebakaran. Namun, ketika api menyala, efektivitasnya tetap bergantung pada verifikasi lapangan, akses lokasi, dan kemampuan pemadaman. (Artha Tidar/bs)































