Sub: Puisi Derita Din Saja
Wartatrans.com — Penderitaan akud, adalah penyakit batin yang melampaui kekebalan nalar dan intuisi, akibatnya seperti kebalnya pejuang terhadap deraan perang dan bencana abad.

Keadaan yang melampaui batas itu adalah magis, di luar akal dan kerap juga penganalisa fakta akan kehilangan teori pengungkit asal mula dan resume ilmuan pikiran akan kalap juga kehilangan radar deteksi kemungkinan.
Keadaan sublim dan magis itu juga dirasakan korban perang maupun korban bencana, Din Saja meramunya menjadi uraian tipikal derat derita ke sebuah puisi tanpa judul, mengapa tak memberi judul? judul apa pula yang bisa mewakili kata teramat menyakitkan? Cinta?
Sebagaimana kebahagiaan yang terlalu sangat amat bahagia, lalu ketika diberi lagi tambahan bahagia, tidak akan merasakan apa itu kelebihan, keenakan, kenikmatan.

__________
Mereka tidak menangis
Dengan bencana ini
Tidak akan menangis
Bukan karena tidak sedih
Karena kesedihan
Telah lama hilang
Oleh penderitaan
Mereka tidak menangis
Bukan karena tidak sakit
Karena kesakitan
Tidak pernah berhenti menerjang
Mereka tidak menangis
Bukan karena tidak bisa marah
Karena kemarahan
Dihancurkan harga diri
Mereka tidak menangis
Apakah karena mereka kuat
2025
_____
Mereka para korban yang masih ada setelah sempat dilahap bah, lumpur bahkan lari dan menyelamatkan diri ketika bencana pada 2025 yang tercatat telah hampir 1000 orang wafat akibat kalah oleh maut, mereka yang derita yang juga sedang di depan hidung menerima derita imbas bencana, inilah orang yang dimaksudkan penyair.
Sebagai suatu naluri umum mendapat derita, pastilah menangis, tetapi di bait pembuka, dinyatakannya bahwa mereka tidak menangis, tidak akan. Artinya tabahkah? dendamkah? hancurkah rasa dan ekspresi keadaan lumrah itu pada korban bencana tersebut?
Namun ketiadaan tangis oleh Din dimaksudkan akibat penderitaan telah menghilangkan tangis, telah terlampau sering derita, telah di ujung rasa kesakitan, kebas atau kesemutan atau kena bius mungkin sedikit memberikan keterangan tentang apa yang dimaksudkan.
Banjir atau bencana secara umum hanya membawa air bah, tetapi bencana kali ini adalah gelondongan, bukan serpihan, berbanding ya sama bahkan sehampiran dengan Tsunami, membawa rumah, mobil, besi, tembok, kasur bahkan juga sesama tubuh membungkus gulungan rupa-rupa itu menjadi sebuah gelombang hayat menuju mayat.
Kesedihan dan keperihan yang tak lagi tertangiskan, itulah gambaran setengah dari awal penguraian paparan puisi Din Saja, rasanya memang keterlampauan yang menihilkan arti normalnya manusia, seperti mayat hidup, bagai kucing hanyut yang tak mampu lagi sesugukan, akibat lelahnya pertarungan dan pertaruhan mati atau hidup, tetapi ini bukan kucing, tapi saudaramu sebangsa dan setanah air. Di mana kita letakkan keajaiban?
Dua bait penutup, penyair Din memberi pembaca clu, menyisip ekspresi pikir dan rasa sebagai tatanan gambaran keseluruhan penderitaan sebagai aksentuasi ketidakberdayaan setelah diperdaya sedemikian panjang oleh hidup.
Orang-orang yang menjadi korban bencana alam itu adalah para petani, pekebun juga para urban yang hidupnya bersisian atau paling tidak sangat beraroma hutan dan perbukitan, gunung dan alam raya.
Mereka umumnya masyarakat yang jauh dari kata kaya raya apalagi hidup bagai mencecapi surga, kecuali aromanya. Aroma.
/Apa karena mereka kuat/
penutup larik bait terakhir sekaligus puisi itu sesungguhnya bukan pertanyaan, tetapi jawaban. Kekuatan itu tidak bisa dinilai berdasarkan kesanggupan dan atau ketidak-sanggupan, tetapi justru oleh kegaiban, oleh institusi alam semesta yang unsurnya tak semata kosmik namun energi ungkit yang mampu meletup dalam sunyi, sebagaimana atom, satu tempat yang dimisalkan perlu rangkaian rumit untuk memantiknya agar jangan jadi lilin, namun bencana maha dahsyat sebagaimana yang dirasakan penyintas Hiroshima dan Nagasaki.
Penderitaan dan kesanggupan bukanlah soal kekuatan, sebab ada kelapa yang mampu dicapai pucuknya tanpa perlu keahlian di kala bah menerjang kita untuk memanjat atau mati.
Hidup adalah bencana, bangun pagi atau mati.
Kekuatan adalah asal ada pemiliknya, manusia meminjamnya atau diberi sesaat energi hidup dan bertahan untuk menghargai hidup itulah energi magis hadir sebagai sunnatullah.
Kefahaman pada nilai-nilai hidup dan humanitat yang dilampirkan Din Saja memberi kita narasi ajaib bahkan ia melampirkan hiperbola yang ditendang secara masif untuk menjadi bahan renungan bukan semata bahan cerita.***
(Muhrain)










