Menu

Mode Gelap
Pengurus KNG Raya Gelar Pertemuan Bahas RAT 2026 dan Bantuan Bencana Hari Pertama Tahun Baru, Menhub Dudy Pantau Arus Lalu Lintas di Jalur Tol Keluar-Masuk Jakarta Menhub Dudy Pastikan Kesiapan untuk Arus Balik Nataru di Stasiun Yogya UMK Kubu Raya 2026 Naik 7,7 Persen, Ditetapkan Rp3,1 Juta Warga Tangse Masuk Hutan Lindung, Cari Pelaku Tambang Ilegal Penyebab Banjir Bandang Penyeberangan Merak–Bakauheni Terpantau Aman dan Lancar, Cuaca Bersahabat

PERISTIWA

Puisi Tidak Mampu Pulihkan Bencana, Tapi Penyair Bisa Tahan Derita

badge-check


					Puisi Tidak Mampu Pulihkan Bencana, Tapi Penyair Bisa Tahan Derita Perbesar

Sub: Puisi Derita Din Saja

Wartatrans.com — Penderitaan akud, adalah penyakit batin yang melampaui kekebalan nalar dan intuisi, akibatnya seperti kebalnya pejuang terhadap deraan perang dan bencana abad.

Keadaan yang melampaui batas itu adalah magis, di luar akal dan kerap juga penganalisa fakta akan kehilangan teori pengungkit asal mula dan resume ilmuan pikiran akan kalap juga kehilangan radar deteksi kemungkinan.

Keadaan sublim dan magis itu juga dirasakan korban perang maupun korban bencana, Din Saja meramunya menjadi uraian tipikal derat derita ke sebuah puisi tanpa judul, mengapa tak memberi judul? judul apa pula yang bisa mewakili kata teramat menyakitkan? Cinta?

Sebagaimana kebahagiaan yang terlalu sangat amat bahagia, lalu ketika diberi lagi tambahan bahagia, tidak akan merasakan apa itu kelebihan, keenakan, kenikmatan.

__________

Mereka tidak menangis

Dengan bencana ini

Tidak akan menangis

 

Bukan karena tidak sedih

Karena kesedihan

Telah lama hilang

Oleh penderitaan

 

Mereka tidak menangis

Bukan karena tidak sakit

Karena kesakitan

Tidak pernah berhenti menerjang

 

Mereka tidak menangis

Bukan karena tidak bisa marah

Karena kemarahan

Dihancurkan harga diri

 

Mereka tidak menangis

Apakah karena mereka kuat

2025

_____

Mereka para korban yang masih ada setelah sempat dilahap bah, lumpur bahkan lari dan menyelamatkan diri ketika bencana pada 2025 yang tercatat telah hampir 1000 orang wafat akibat kalah oleh maut, mereka yang derita yang juga sedang di depan hidung menerima derita imbas bencana, inilah orang yang dimaksudkan penyair.

Sebagai suatu naluri umum mendapat derita, pastilah menangis, tetapi di bait pembuka, dinyatakannya bahwa mereka tidak menangis, tidak akan. Artinya tabahkah? dendamkah? hancurkah rasa dan ekspresi keadaan lumrah itu pada korban bencana tersebut?

Namun ketiadaan tangis oleh Din dimaksudkan akibat penderitaan telah menghilangkan tangis, telah terlampau sering derita, telah di ujung rasa kesakitan, kebas atau kesemutan atau kena bius mungkin sedikit memberikan keterangan tentang apa yang dimaksudkan.

Banjir atau bencana secara umum hanya membawa air bah, tetapi bencana kali ini adalah gelondongan, bukan serpihan, berbanding ya sama bahkan sehampiran dengan Tsunami, membawa rumah, mobil, besi, tembok, kasur bahkan juga sesama tubuh membungkus gulungan rupa-rupa itu menjadi sebuah gelombang hayat menuju mayat.

Kesedihan dan keperihan yang tak lagi tertangiskan, itulah gambaran setengah dari awal penguraian paparan puisi Din Saja, rasanya memang keterlampauan yang menihilkan arti normalnya manusia, seperti mayat hidup, bagai kucing hanyut yang tak mampu lagi sesugukan, akibat lelahnya pertarungan dan pertaruhan mati atau hidup, tetapi ini bukan kucing, tapi saudaramu sebangsa dan setanah air. Di mana kita letakkan keajaiban?

Dua bait penutup, penyair Din memberi pembaca clu, menyisip ekspresi pikir dan rasa sebagai tatanan gambaran keseluruhan penderitaan sebagai aksentuasi ketidakberdayaan setelah diperdaya sedemikian panjang oleh hidup.

Orang-orang yang menjadi korban bencana alam itu adalah para petani, pekebun juga para urban yang hidupnya bersisian atau paling tidak sangat beraroma hutan dan perbukitan, gunung dan alam raya.

Mereka umumnya masyarakat yang jauh dari kata kaya raya apalagi hidup bagai mencecapi surga, kecuali aromanya. Aroma.

/Apa karena mereka kuat/

penutup larik bait terakhir sekaligus puisi itu sesungguhnya bukan pertanyaan, tetapi jawaban. Kekuatan itu tidak bisa dinilai berdasarkan kesanggupan dan atau ketidak-sanggupan, tetapi justru oleh kegaiban, oleh institusi alam semesta yang unsurnya tak semata kosmik namun energi ungkit yang mampu meletup dalam sunyi, sebagaimana atom, satu tempat yang dimisalkan perlu rangkaian rumit untuk memantiknya agar jangan jadi lilin, namun bencana maha dahsyat sebagaimana yang dirasakan penyintas Hiroshima dan Nagasaki.

Penderitaan dan kesanggupan bukanlah soal kekuatan, sebab ada kelapa yang mampu dicapai pucuknya tanpa perlu keahlian di kala bah menerjang kita untuk memanjat atau mati.

Hidup adalah bencana, bangun pagi atau mati.

Kekuatan adalah asal ada pemiliknya, manusia meminjamnya atau diberi sesaat energi hidup dan bertahan untuk menghargai hidup itulah energi magis hadir sebagai sunnatullah.

Kefahaman pada nilai-nilai hidup dan humanitat yang dilampirkan Din Saja memberi kita narasi ajaib bahkan ia melampirkan hiperbola yang ditendang secara masif untuk menjadi bahan renungan bukan semata bahan cerita.***

(Muhrain)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pengurus KNG Raya Gelar Pertemuan Bahas RAT 2026 dan Bantuan Bencana

2 Januari 2026 - 12:02 WIB

Warga Tangse Masuk Hutan Lindung, Cari Pelaku Tambang Ilegal Penyebab Banjir Bandang

2 Januari 2026 - 06:35 WIB

Kembang Api di Jembatan Esplanade, Singapura: Harapan Baru Menyambut 2026

2 Januari 2026 - 01:10 WIB

Presiden Tinjau Huntara Aceh Tamiang, Tegaskan Komitmen Pemerintah Tangani Dampak Bencana

1 Januari 2026 - 21:37 WIB

Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026

1 Januari 2026 - 21:20 WIB

Trending di PERISTIWA