Menu

Mode Gelap
Menteri KKP Trenggono Kerahkan Kapal Pengawas Perikanan Angkut Bantuan ke NTT Whoosh Meriahkan Kemerdekaan RI dengan Paduan Suara dan Siagakan Puluhan Petugas Pakai Kostum Nusantara Haji Fikri Apresiasi Desa Wisata Gunung Malang dan Tugu Utara Tembus Top 15 Jawa Barat Didong dan Tari Guel Semarakkan Panggung Kemerdekaan di Gedung Agung Yogyakarta Pentas Seni Kemerdekaan RI di RT 05 Tegalsari Semarang Juga Diisi Tasyakuran Pembangunan Talud Jalan PNM Jadikan Semangat Kemerdekaan sebagai Energi Pemberdayaan Perempuan Ultra Mikro

PERISTIWA

Puisi Tidak Mampu Pulihkan Bencana, Tapi Penyair Bisa Tahan Derita

badge-check


 Puisi Tidak Mampu Pulihkan Bencana, Tapi Penyair Bisa Tahan Derita Perbesar

Sub: Puisi Derita Din Saja

Wartatrans.com — Penderitaan akud, adalah penyakit batin yang melampaui kekebalan nalar dan intuisi, akibatnya seperti kebalnya pejuang terhadap deraan perang dan bencana abad.

Keadaan yang melampaui batas itu adalah magis, di luar akal dan kerap juga penganalisa fakta akan kehilangan teori pengungkit asal mula dan resume ilmuan pikiran akan kalap juga kehilangan radar deteksi kemungkinan.

Keadaan sublim dan magis itu juga dirasakan korban perang maupun korban bencana, Din Saja meramunya menjadi uraian tipikal derat derita ke sebuah puisi tanpa judul, mengapa tak memberi judul? judul apa pula yang bisa mewakili kata teramat menyakitkan? Cinta?

Sebagaimana kebahagiaan yang terlalu sangat amat bahagia, lalu ketika diberi lagi tambahan bahagia, tidak akan merasakan apa itu kelebihan, keenakan, kenikmatan.

__________

Mereka tidak menangis

Dengan bencana ini

Tidak akan menangis

 

Bukan karena tidak sedih

Karena kesedihan

Telah lama hilang

Oleh penderitaan

 

Mereka tidak menangis

Bukan karena tidak sakit

Karena kesakitan

Tidak pernah berhenti menerjang

 

Mereka tidak menangis

Bukan karena tidak bisa marah

Karena kemarahan

Dihancurkan harga diri

 

Mereka tidak menangis

Apakah karena mereka kuat

2025

_____

Mereka para korban yang masih ada setelah sempat dilahap bah, lumpur bahkan lari dan menyelamatkan diri ketika bencana pada 2025 yang tercatat telah hampir 1000 orang wafat akibat kalah oleh maut, mereka yang derita yang juga sedang di depan hidung menerima derita imbas bencana, inilah orang yang dimaksudkan penyair.

Sebagai suatu naluri umum mendapat derita, pastilah menangis, tetapi di bait pembuka, dinyatakannya bahwa mereka tidak menangis, tidak akan. Artinya tabahkah? dendamkah? hancurkah rasa dan ekspresi keadaan lumrah itu pada korban bencana tersebut?

Namun ketiadaan tangis oleh Din dimaksudkan akibat penderitaan telah menghilangkan tangis, telah terlampau sering derita, telah di ujung rasa kesakitan, kebas atau kesemutan atau kena bius mungkin sedikit memberikan keterangan tentang apa yang dimaksudkan.

Banjir atau bencana secara umum hanya membawa air bah, tetapi bencana kali ini adalah gelondongan, bukan serpihan, berbanding ya sama bahkan sehampiran dengan Tsunami, membawa rumah, mobil, besi, tembok, kasur bahkan juga sesama tubuh membungkus gulungan rupa-rupa itu menjadi sebuah gelombang hayat menuju mayat.

Kesedihan dan keperihan yang tak lagi tertangiskan, itulah gambaran setengah dari awal penguraian paparan puisi Din Saja, rasanya memang keterlampauan yang menihilkan arti normalnya manusia, seperti mayat hidup, bagai kucing hanyut yang tak mampu lagi sesugukan, akibat lelahnya pertarungan dan pertaruhan mati atau hidup, tetapi ini bukan kucing, tapi saudaramu sebangsa dan setanah air. Di mana kita letakkan keajaiban?

Dua bait penutup, penyair Din memberi pembaca clu, menyisip ekspresi pikir dan rasa sebagai tatanan gambaran keseluruhan penderitaan sebagai aksentuasi ketidakberdayaan setelah diperdaya sedemikian panjang oleh hidup.

Orang-orang yang menjadi korban bencana alam itu adalah para petani, pekebun juga para urban yang hidupnya bersisian atau paling tidak sangat beraroma hutan dan perbukitan, gunung dan alam raya.

Mereka umumnya masyarakat yang jauh dari kata kaya raya apalagi hidup bagai mencecapi surga, kecuali aromanya. Aroma.

/Apa karena mereka kuat/

penutup larik bait terakhir sekaligus puisi itu sesungguhnya bukan pertanyaan, tetapi jawaban. Kekuatan itu tidak bisa dinilai berdasarkan kesanggupan dan atau ketidak-sanggupan, tetapi justru oleh kegaiban, oleh institusi alam semesta yang unsurnya tak semata kosmik namun energi ungkit yang mampu meletup dalam sunyi, sebagaimana atom, satu tempat yang dimisalkan perlu rangkaian rumit untuk memantiknya agar jangan jadi lilin, namun bencana maha dahsyat sebagaimana yang dirasakan penyintas Hiroshima dan Nagasaki.

Penderitaan dan kesanggupan bukanlah soal kekuatan, sebab ada kelapa yang mampu dicapai pucuknya tanpa perlu keahlian di kala bah menerjang kita untuk memanjat atau mati.

Hidup adalah bencana, bangun pagi atau mati.

Kekuatan adalah asal ada pemiliknya, manusia meminjamnya atau diberi sesaat energi hidup dan bertahan untuk menghargai hidup itulah energi magis hadir sebagai sunnatullah.

Kefahaman pada nilai-nilai hidup dan humanitat yang dilampirkan Din Saja memberi kita narasi ajaib bahkan ia melampirkan hiperbola yang ditendang secara masif untuk menjadi bahan renungan bukan semata bahan cerita.***

(Muhrain)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menteri KKP Trenggono Kerahkan Kapal Pengawas Perikanan Angkut Bantuan ke NTT

17 Agustus 2026 - 17:27 WIB

Haji Fikri Apresiasi Desa Wisata Gunung Malang dan Tugu Utara Tembus Top 15 Jawa Barat

17 Agustus 2026 - 16:49 WIB

Didong dan Tari Guel Semarakkan Panggung Kemerdekaan di Gedung Agung Yogyakarta

17 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Pentas Seni Kemerdekaan RI di RT 05 Tegalsari Semarang Juga Diisi Tasyakuran Pembangunan Talud Jalan

17 Agustus 2026 - 16:40 WIB

PNM Jadikan Semangat Kemerdekaan sebagai Energi Pemberdayaan Perempuan Ultra Mikro

17 Agustus 2026 - 14:23 WIB

Upacara Kemerdekaan di Kampung Nelayan, Trenggono Targetkan 5.000 KNMP hingga 2029

17 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Di HUT Ke-81 RI, Kepala Pangkalan PLP Tanjung Priok: Semangat Kemerdekaan Harus Bebaskan Diri dari Malas dan Penyalahgunaan Wewenang

17 Agustus 2026 - 12:18 WIB

HUT Ke-81 RI, Pelindo Tegaskan Komitmen Penguatan Konektivitas untuk Memajukan Ekonomi Indonesia

17 Agustus 2026 - 11:19 WIB

Musara Gayo Jabodetabek Gelar Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Kenang Perjuangan Pejuang Gayo dan Radio Rimba Raya

17 Agustus 2026 - 10:58 WIB

Peringatan 21 Tahun Damai Aceh Diwarnai Tembakan, Rakyat Aceh Melawan

17 Agustus 2026 - 10:48 WIB

Trending di RAGAM