Wartatrans.com, JAKARTA — Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dari riuhnya media sosial, lalu melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita.
Pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, saya memilih menikmati hari bersama keluarga: suami, anak, cucu, dan menantu.

Kami berkeliling Jakarta. Tidak ada agenda besar, hanya ingin menikmati suasana kemerdekaan, melihat wajah ibu kota, dan merasakan bagaimana masyarakat menjalani hari yang seharusnya menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.
Kami melewati sejumlah ruas jalan Jakarta, termasuk kawasan Gatot Subroto hingga Semanggi, yang sebelumnya ramai disebut-sebut sebagai kawasan rawan demonstrasi.
Terus terang, saya sempat bertanya dalam hati: benarkah Jakarta seperti yang digambarkan dalam berbagai unggahan di media sosial?
Jawabannya saya temukan sendiri di jalan. Jakarta tidak seperti yang saya bayangkan setelah melihat berbagai video yang beredar.
Jalanan yang kami lewati relatif lancar. Aktivitas masyarakat berjalan sebagaimana biasa. Tidak terlihat suasana mencekam seperti yang tergambar dalam sejumlah video kerusuhan yang beredar luas.
Saya melihat kendaraan berlalu-lalang. Keluarga bepergian. Tempat-tempat usaha tetap beraktivitas. Mal-mal ramai. Masyarakat menikmati hari libur bersama keluarga.
Bahkan di kawasan Gatot Subroto, saya melihat restoran Kampung Kecil dengan parkiran kendaraan yang penuh.
Pemandangan sederhana itu bagi saya justru sangat bermakna.
Sebab, sebuah kota yang benar-benar lumpuh dan mencekam tentu tidak akan memperlihatkan kehidupan masyarakat seperti itu.
Di sinilah saya merasa kita perlu lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa demonstrasi atau kerusuhan tidak pernah terjadi. Saya juga tidak menutup mata terhadap dinamika sosial dan politik yang berkembang.
Tetapi kita harus mampu membedakan antara fakta, opini, potongan peristiwa, dan informasi yang sengaja dibuat untuk membangun ketakutan.
Satu video berdurasi beberapa detik dapat membuat seseorang yang berada jauh dari Jakarta membayangkan seluruh ibu kota sedang terbakar.
Satu gambar dapat dibagikan ribuan kali tanpa diketahui kapan dan di mana peristiwa itu terjadi.
Satu narasi dapat membuat masyarakat percaya bahwa Jakarta tidak aman, padahal pada waktu yang sama kehidupan jutaan warga tetap berjalan normal.
Menurut saya, inilah yang kejam.
Bukan karena kritik atau demonstrasinya, tetapi karena ketika sebuah situasi digunakan untuk menakut-nakuti masyarakat, maka yang menjadi korban bukan hanya pemerintah atau kelompok tertentu.
Masyarakat biasa juga menjadi korban. Orang tua menjadi khawatir terhadap anaknya. Keluarga takut bepergian. Pelaku usaha kehilangan pelanggan. Pedagang kecil ikut terdampak. Orang-orang yang sebenarnya tidak tahu persoalan politik menjadi ketakutan karena menerima informasi yang belum tentu utuh.
Karena itu, saya ingin mengajak kita semua untuk lebih dewasa menghadapi informasi.
Jangan mudah percaya hanya karena sebuah video terlihat dramatis. Periksa sumbernya. Perhatikan waktunya. Lihat konteksnya.
Dan yang paling penting, jangan ikut menyebarkan sesuatu yang kita sendiri belum tahu kebenarannya.
Di tengah perjalanan keluarga kami hari itu, ada satu pemandangan yang sangat berkesan.
Langit Jakarta dihiasi atraksi 81 pesawat, helikopter, dan penerjun payung TNI serta Polri dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di sekitar Istana Merdeka dan wilayah Jakarta.
Bagi saya, itu bukan sekadar pertunjukan. Ada pesan kebangsaan yang kuat di sana. Di bawah langit yang sama, kita semua sebenarnya adalah satu bangsa.
Ada aparat negara. Ada pedagang. Ada mahasiswa. Ada pekerja. Ada pengusaha. Ada seniman. Ada ibu rumah tangga. Ada anak-anak. Ada orang tua.
Kita boleh berbeda pilihan. Kita boleh berbeda pandangan. Kita bahkan boleh keras mengkritik pemerintah jika kita melihat ada kebijakan yang tidak tepat.
Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita lupa bahwa rumah besar kita bernama Indonesia.
Saya Mendukung Demonstrasi Mahasiswa. Saya ingin menegaskan satu hal.
Mahasiswa adalah bagian penting dari sejarah perubahan bangsa ini. Suara mahasiswa tidak seharusnya dimatikan. Kritik tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman.
Demonstrasi yang dilakukan secara damai, tertib, dan berdasarkan kepentingan rakyat adalah bagian dari kehidupan demokrasi.
Mahasiswa harus memiliki ruang untuk menyampaikan kegelisahan mereka terhadap keadaan bangsa.
Pemerintah juga harus memiliki keberanian untuk mendengar.
Demikian pula masyarakat harus memiliki kebijaksanaan untuk memahami bahwa kritik terhadap pemerintah tidak otomatis berarti kebencian terhadap negara.
Justru dalam demokrasi yang sehat, kritik dapat menjadi cermin bagi kekuasaan.
Yang saya tidak dukung adalah ketika ada oknum yang memanfaatkan demonstrasi, memanfaatkan kemarahan masyarakat, kemudian membawa situasi ke arah kekacauan, provokasi, atau upaya memecah belah anak bangsa.
Itu dua hal yang berbeda. Jangan mencampuradukkan aspirasi mahasiswa dengan tindakan oknum yang ingin memanfaatkan keadaan.
Jangan pula menjadikan mahasiswa sebagai kambing hitam hanya karena ada pihak lain yang menunggangi situasi.
Saya juga berharap kepada siapa pun yang menggunakan media sosial agar lebih bertanggung jawab.
Indonesia sedang membutuhkan ketenangan, bukan ketakutan. Kita membutuhkan kritik yang bernas, bukan provokasi.
Kita membutuhkan informasi yang akurat, bukan potongan video yang sengaja dilepaskan dari konteks.
Kita membutuhkan perdebatan gagasan, bukan pertengkaran antarsesama anak bangsa.
Saya percaya masyarakat Indonesia sudah semakin cerdas. Rakyat bisa membedakan mana kritik dan mana provokasi. Mana perjuangan dan mana kepentingan.
Mana demonstrasi untuk memperbaiki bangsa dan mana kerumunan yang sengaja dimanfaatkan untuk menciptakan kekacauan.
Karena itu, saya berharap mereka yang selama ini berusaha menggambarkan Jakarta seolah-olah tidak aman dapat berhenti menakut-nakuti masyarakat.
Jika memang ada persoalan, sampaikan persoalan itu dengan jujur. Jika ada kesalahan pemerintah, kritik. Jika ada kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, perjuangkan perubahan. Jika ada ketidakadilan, lawan dengan cara yang bermartabat. Tetapi jangan menciptakan ketakutan yang tidak perlu.
Indonesia Tidak Boleh Kehilangan Persaudaraan
Pada akhirnya, perjalanan sederhana bersama keluarga pada 17 Agustus 2026 memberi saya sebuah pelajaran.
Kemerdekaan bukan hanya tentang upacara, bendera merah putih, pesawat yang melintas di langit, atau parade pasukan.
Kemerdekaan juga berarti kemampuan kita untuk hidup bersama dalam perbedaan.
Kita boleh berbeda pendapat tanpa harus menjadi musuh. Kita boleh mengkritik tanpa harus membenci. Kita boleh melakukan demonstrasi tanpa harus merusak. Kita boleh berbeda pilihan politik tanpa harus memutus persaudaraan.
Dan pemerintah pun harus mampu menerima kritik tanpa menganggap setiap kritik sebagai ancaman.
Saya melihat sendiri Jakarta pada 17 Agustus 2026. Di jalan Gatot Subroto menuju Semanggi, saya melihat kehidupan yang berjalan.
Restoran ramai. Parkiran penuh. Mal-mal dipenuhi masyarakat. Kendaraan bergerak. Keluarga-keluarga menikmati hari libur.
Dan di langit Jakarta, pesawat, helikopter serta penerjun payung TNI dan Polri menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan.
Itulah Jakarta yang saya lihat. Bukan Jakarta yang digambarkan oleh potongan-potongan video tanpa konteks.
Maka pesan saya sederhana: Jangan biarkan media sosial membuat kita kehilangan akal sehat. Jangan biarkan provokasi membuat kita takut kepada negeri sendiri.
Jangan biarkan kepentingan segelintir orang menghancurkan persaudaraan anak bangsa.
Mari kita kawal demokrasi. Mari kita dukung mahasiswa menyampaikan aspirasi secara damai. Mari kita kritik pemerintah dengan gagasan dan data. Mari kita lawan ketidakadilan dengan cara yang bermartabat.
Tetapi pada saat yang sama, mari kita jaga Indonesia agar tetap menjadi rumah bersama.
Karena pada akhirnya, pemerintah bisa berganti, pejabat bisa berganti, kelompok politik bisa berganti, tetapi Indonesia harus tetap ada untuk anak cucu kita.
Dan pada hari kemerdekaan ke-81 ini, saya memilih untuk melihat Indonesia dengan mata sendiri, bukan hanya melalui layar media sosial.
Dirgahayu Republik Indonesia: Merdeka!***
Duren Sawit 2026.


























