Wattatrans.com, ACEH — Di tengah tantangan bencana yang kerap melanda wilayah dataran tinggi, Aliansi Relawan Wilayah Tengah Aceh (ARA) memilih memperkuat langkah dari akar rumput. Melalui kegiatan silaturahmi, diskusi, dan halal bihalal yang digelar di Kala Nami, para relawan menegaskan pentingnya membangun sistem penanganan bencana yang lebih tangguh dan terkoordinasi.
Mengusung tema “Mufakat Rakyat untuk Percepatan Penanganan Bencana Aceh”, forum ini tidak sekadar menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga wadah konsolidasi antarrelawan lintas komunitas. Puluhan peserta hadir, mulai dari posko rakyat, Relawan Gayo, hingga berbagai elemen masyarakat sipil yang selama ini terlibat langsung dalam penanganan bencana di Aceh Tengah.

Dalam diskusi, relawan memaparkan dinamika di lapangan yang menuntut respons cepat dan adaptif, terutama saat menghadapi bencana longsor dan banjir. Kondisi geografis yang rentan membuat akses jalan kerap terputus, sehingga diperlukan inisiatif cepat dari relawan untuk membuka jalur distribusi bantuan.
“Di lapangan, kecepatan menjadi kunci. Ketika akses tertutup, relawan sering kali harus bergerak lebih dulu agar bantuan bisa segera menjangkau warga,” ungkap salah satu peserta diskusi.
Tak hanya fokus pada penanganan darurat, relawan juga menyoroti pentingnya keberlanjutan dalam penanganan pascabencana. Pendampingan masyarakat, termasuk pemulihan psikologis (trauma healing), dinilai sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses pemulihan.
Forum ini juga menjadi refleksi bersama tentang perlunya penguatan sistem, mulai dari koordinasi antar pihak, dukungan logistik bagi relawan, hingga perencanaan infrastruktur yang lebih tahan terhadap bencana. Menurut para peserta, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah menjadi kunci untuk menciptakan respons yang lebih efektif.
Meski berbagai tantangan masih dihadapi, semangat gotong royong menjadi energi utama yang terus dijaga. Kegiatan ini pun diharapkan menjadi titik awal lahirnya langkah-langkah strategis yang lebih terarah, sekaligus memperkuat sinergi dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Dengan mengedepankan solidaritas dan kolaborasi, relawan Aceh Tengah menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat sipil tetap menjadi pilar penting dalam membangun ketangguhan daerah terhadap bencana.*** (Kamaruzzaman)

























