Menu ✖

Mode Gelap
Menperin Lantik Pengurus Pusat Iperindo Periode 2026–2030 Dampak Karhutla, 3 Laga Bola Isenmulang Pindah Lokasi Menembus Bukit Sejak Zaman Kolonial, Ini 10 Terowongan Kereta Api Tertua Hingga September, Penumpang Transjakarta-MRT-LRT Jakarta Tembus 368,4 Juta MRA Indonesia–Portugal Buka Peluang Awak Kapal Perikanan Indonesia Bekerja di Level Global KAI Layani 394 Juta Pelanggan, Integrasi Kereta dan Transportasi Kota Makin Luas

Uncategorized

Efisiensi Anggaran, Pemkot Depok Alihkan Insentif Bimroh ke Guru Ngaji

badge-check


 Efisiensi Anggaran, Pemkot Depok Alihkan Insentif Bimroh ke Guru Ngaji Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK — Pemerintah Kota Depok menghapus insentif bagi 2.000 pembimbing rohani (bimroh) pada 2026. Kebijakan itu diambil dengan alasan efisiensi anggaran. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk bimroh kini dialihkan kepada 630 guru ngaji atau guru lekar.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, Syihabuddin Ahmad, mengatakan pihaknya tengah melakukan proses seleksi dan verifikasi terhadap para penerima insentif tersebut. “Insya Allah sebelum akhir April sudah selesai,” kata Syihabuddin dalam acara Halal Bihalal Idulfitri 1447 Hijriah sekaligus rapat pleno dan koordinasi MUI Kota Depok, Senin, 13 April 2026.

Menurut dia, verifikasi terhadap guru ngaji akan dilakukan secara berkala setiap tahun. Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan program berjalan tepat sasaran.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Depok, Supian Suri, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut tidak semata-mata soal efisiensi. Ia menyebut adanya pengurangan pembiayaan dari pemerintah pusat mencapai Rp 380 miliar turut memengaruhi kebijakan anggaran daerah.

“Ini bukan hanya efisiensi, tetapi ada prioritas program yang harus dipenuhi,” ujar Supian.

Salah satu prioritas itu adalah peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an di kalangan siswa sekolah dasar. Berdasarkan evaluasi pemerintah kota, dari sekitar 32 ribu siswa SD di Depok, hanya sekitar 30 persen yang mampu membaca Al-Qur’an.

“Kondisinya masih memprihatinkan. Banyak anak SD yang belum bisa membaca Al-Qur’an,” kata Supian.

Ia menambahkan, program guru lekar sebelumnya dinilai belum berjalan optimal karena tidak semua tokoh agama yang terlibat fokus pada kegiatan pengajaran. Evaluasi program, menurut dia, menjadi langkah wajar untuk memperbaiki efektivitas kebijakan ke depan.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Little Harbour, Dermaga Aman bagi Anak dan Ruang Tenang bagi Orang Tua di Pelindo Regional 2

21 Oktober 2026 - 22:01 WIB

Suasana Panas Terjadi Saat Pembacaan Vonis Bupati Pati Non Aktif Sudewo

21 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Hari Santri Nasional 2026, H. Fikri Hudi Oktiarwan Ajak Santri Teguhkan Khittah Kebangsaan dan Perkuat Persatuan

21 Oktober 2026 - 18:17 WIB

Kemenhub-Polri Perkuat Sinergi dan Kolaborasi di Sektor Transportasi

21 Oktober 2026 - 16:30 WIB

Para Pakar Bicara Blok Andaman Berpotensi Gerus Kewenangan Khusus Aceh

21 Oktober 2026 - 15:16 WIB

Wahyoe Liluk Winarto Kembali Menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Semarang

21 Oktober 2026 - 14:01 WIB

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, KKP Pulihkan Usaha Perikanan Pascabencana Sumatra

21 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Tani Merdeka Aceh, APPSI, dan SPPG Sepakat Jalin Kerja Sama untuk Serap Hasil Pertanian Lokal

21 Oktober 2026 - 12:23 WIB

Usai Ditetapkan PT Toba Pulp Lestari Tersangka Korporasi, Konsesi Hutan Jadi Sorotan

21 Oktober 2026 - 11:21 WIB

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, KNMP Terbukti Jadi Penggerak Ekonomi Pesisir

21 Oktober 2026 - 11:08 WIB

Trending di EKOBIS