Menu

Mode Gelap
Pelindo Solusi Digital dan Forwahub Hadirkan Peduli Anak Yatim di Momen Ramadhan Roda Kematian Militerisme: Kemanusiaan yang Tergerus Peradaban Keras – Refleksi Lukisan Munadi Cecep (Tangerang) Terhenti di Top 21 Aksi 2026 Kunjungi Terminal Teluk Lamong, Wali Kota Surabaya Pererat Kolaborasi Pengembangan Layanan Logistik Kuliner Kereta Hadirkan Menu Takjil Khusus Berbuka Puasa Selama Ramadan 574 Ribu Tiket Lebaran 2026 Terjual dari Gambir dan Pasar Senen, 86 Ribu Kursi Masih Tersedia

SENI BUDAYA

Roda Kematian Militerisme: Kemanusiaan yang Tergerus Peradaban Keras – Refleksi Lukisan Munadi

badge-check


 Roda Kematian Militerisme: Kemanusiaan yang Tergerus Peradaban Keras – Refleksi Lukisan Munadi Perbesar

Wartatrans.com, BANTEN — Perang, kekerasan, dan persenjataan berat—tank, roket, bom nuklir, hingga drone—adalah produk peradaban modern yang lahir dari kecanggihan olah pikir manusia. Namun justru di titik inilah paradoks kemanusiaan mengemuka: ketika rasionalitas dan teknologi mencapai puncaknya, rasa kemanusiaan kerap runtuh dan kehilangan arah. Pertanyaan mendasarnya menjadi mendesak untuk diajukan kembali: bagaimana kemanusiaan dapat berdiri tegak, lurus, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri?

Persenjataan keras sebagai hasil karya manusia modern sering dilegitimasi atas nama bela diri, bela kelompok, bela negara, atau stabilitas global. Namun, di balik alasan-alasan tersebut, patut dipertanyakan ulang: sejauh mana pembenaran itu masih layak secara moral dan kultural? Ketika kekerasan terorganisasi dilembagakan, perang tidak lagi sekadar konflik, melainkan sebuah sistem—sebuah roda kematian yang terus berputar tanpa empati.

Berbeda dengan teknologi perang modern yang bersifat destruktif massal, ilmu bela diri tradisional seperti silat, kung fu, beksi, taekwondo, dan lainnya lahir dari etika pengendalian diri. Ilmu-ilmu ini menekankan pelumpuhan, bukan pemusnahan; pertahanan, bukan agresi. Dalam konteks ini, bela diri tradisional merepresentasikan nilai peradaban yang masih memelihara kesadaran moral—bahwa kekuatan harus dikendalikan oleh nurani dan keadilan, dan hanya digunakan dalam kondisi yang benar-benar mendesak.

Di tengah realitas kemanusiaan hari ini—ketika penghancuran dan pembunuhan kerap dinormalisasi—pertanyaan etis menjadi semakin relevan: masih pantaskah kita membiarkan pelanggaran hukum dan kekerasan terus berlangsung tanpa rasa bersalah kolektif? Di sinilah seni mengambil peran penting sebagai ruang refleksi, kritik, dan perlawanan simbolik terhadap banalitas kekerasan.

Lukisan karya Munadi berjudul Roda Kematian Militerisme menjadi medium perenungan tersebut. Menggunakan akrilik di atas kanvas berukuran 50 x 60 cm, karya ini tidak sekadar menghadirkan visual, melainkan menghadirkan kegelisahan zaman. Lukisan ini merespons eskalasi konflik dan ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dalam relasinya dengan Iran, yang mencerminkan wajah militerisme global kontemporer.

Melalui simbol, warna, dan gestur visual, Munadi menghadirkan perang bukan sebagai peristiwa heroik, melainkan sebagai siklus kematian yang terus berulang—tanpa akhir, tanpa pemenang sejati. Roda menjadi metafora kuat: ia berputar, melindas, dan menyingkirkan kemanusiaan yang rapuh di bawahnya. Dalam perspektif budaya, karya ini adalah kritik terhadap peradaban keras yang menjadikan teknologi dan kekuatan militer sebagai ukuran keunggulan, sembari mengabaikan nilai empati, keadilan, dan keberadaban.

Pada akhirnya, Roda Kematian Militerisme mengajak kita untuk kembali menundukkan kepala ke tanah—bukan sebagai simbol kekalahan, tetapi sebagai kesadaran akan asal-usul kemanusiaan. Dari tanah, manusia berasal; dan kepada nilai-nilai kemanusiaanlah seharusnya peradaban kembali berpijak.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kunjungi Terminal Teluk Lamong, Wali Kota Surabaya Pererat Kolaborasi Pengembangan Layanan Logistik

2 Maret 2026 - 16:55 WIB

“Tobat Woy!” Jadi Magnet, Para Pencari Tuhan Jilid 19 Rajai Rating Sahur Ramadan 2026

27 Februari 2026 - 14:10 WIB

Sinetron Lorong Waktu Jilid 2 Hadirkan Petualangan Sarat Makna di Ramadan 1447 H

27 Februari 2026 - 11:13 WIB

Swara Reiki January: Menjaga Iman di Negeri Ratu Elizabeth, Menemukan Makna Islam di Inggris

27 Februari 2026 - 09:52 WIB

Baiti Syaghaf Bersyukur Tamara di “Lorong Waktu Jilid 2” Makin Dicintai, Aktingnya Dipuji Lebih Dewasa

26 Februari 2026 - 21:50 WIB

Bangga Jadi WNI, Swara Reiki January Pilih Kembali ke Merah Putih Usai Raih Gelar Sarjana di London

26 Februari 2026 - 17:30 WIB

Diawali Santunan Anak Yatim, Nita Thalia Jalani Operasi Facelift di Klinik Bedah Plastik Queen Sunter

25 Februari 2026 - 20:37 WIB

PJBW Pekan ke-64: Wartawan Berbagi Takjil dan Sedekah Barang untuk Anak Yatim dan Kaum Dhuafa

23 Februari 2026 - 20:39 WIB

Gallery Hanjuang: Ruang Seni dan Apresiasi yang Tumbuh dari Mimpi di Pinggir Kali Cilakar

19 Februari 2026 - 09:30 WIB

Long Weekend Imlek, InJourney Hadirkan Pengalaman Berkesan di Bandara, Hotel, dan Destinasi Wisata

18 Februari 2026 - 14:35 WIB

Trending di BANDARA