Wartatrans.com, SUMATERA— Rumah Budaya Halimah Munawir Anwar (HMA) turut mengambil peran dalam upaya berbagi dan pemulihan pascabencana banjir bandang yang melanda Sumatera dan Aceh. Bantuan yang disalurkan bukan semata kebutuhan pokok, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan martabat para penyintas.
Pendiri Rumah Budaya HMA, Halimah Munawir mengatakan bahwa bagi korban yang kehilangan hampir seluruh harta benda, bantuan sekecil apa pun memiliki arti besar. Terutama bagi mereka yang rumahnya hanyut dan hanya tersisa pakaian yang melekat di badan.


Halimah Munawir dan Rumah Budaya
“Bagi orang yang kehilangan segalanya, itu sangat berarti. Apalagi mereka yang rumahnya habis. Kadang hanya baju yang ada di badan,” kata Halimah, Jumat (09/01/2026).
Lebih jauh Halimah menuturkan, bantuan berupa pakaian layak pakai, kain sarung, dan mukena disambut dengan antusias oleh para penyintas.
“Ketika mereka menerima baju, kain sarung, mukena, mereka senang sekali. Ekspresi itu yang membuat kami yakin bantuan ini memang dibutuhkan,” ujar Sastry Bakri, rekan sesama penyair yang menyalurkan bantuan tersebut ke para korban bencana.
Selain bantuan material, Rumah Budaya HMA juga menghadirkan pendekatan kultural dan literasi sebagai bagian dari pemulihan psikososial. Pendekatan ini dirasakan langsung oleh Sastry Bakri, yang turun ke lokasi dan berinteraksi dengan korban.

Penyerahan bantuan.
“Saya merasakannya sendiri karena bertemu langsung dengan korban bencana dan mendengarkan cerita mereka,” kata Sastry.
Dalam pertemuan awal dengan warga huntara, Sastry memperkenalkan bahwa bantuan tersebut berasal dari jejaring penulis, penyair, dan pengusaha yang memiliki kepedulian terhadap korban bencana, yaitu Rumah Budaya HMA.
Dari pertemuan itu kemudian digelar kegiatan sederhana berupa lomba menulis pengalaman para penyintas selama berada di huntara.
“Warga diminta menuliskan pengalaman mereka selama di huntara. Dari kegiatan itu dipilih lima pemenang,” ujar Sastry.

Bantuan sederhana namun penuh arti.
Kelima pemenang tersebut masing-masing menerima amplop berisi uang tunai sebesar Rp. 50 ribu sebagai bentuk apresiasi. Menurut Sastry, para pemenang dipilih bukan semata dari gaya bahasa, tetapi dari kecerdasan mereka merangkai pengalaman dan menjawab pertanyaan melalui tulisan.
“Lima pemenang ini cerdas menjawab dengan tulisan. Itu yang kami apresiasi,” kata Sastry Bakri.
Bagi Rumah Budaya HMA, kegiatan ini bukan sekadar penyaluran bantuan, melainkan upaya mengembalikan suara dan kepercayaan diri penyintas bencana. Menulis dipandang sebagai cara untuk menyembuhkan, sekaligus merekam ingatan kolektif atas peristiwa yang mereka alami.*** (Jasa)
























