Menu

Mode Gelap
Menhub Dudy Sebut Perlunya Uji Kompetensi Calon Direksi Perusahaan Pelayaran PELNI Kembangkan Ekosistem Bisnis Kelautan dan Wisata di Pulau Kapota Trafik Pelabuhan Regional 2 Meningkat, Pelindo Catat Pertumbuhan Arus Petikemas dan Barang hingga Agustus 2026 Mempawah Perpanjang Tanggap Darurat Karhutla hingga 6 Oktober Silaturahmi BRSN DPP ke DPW PKS DKI Jakarta, Perkuat Konsolidasi Relawan dan Saksi Menuju 2029 Kabut Asap Karhutla di Fakfak: Kesiapsiagaan Kesehatan Menjadi Prioritas Bersama.

KABIN

Semester I-2026, AirAsia Indonesia Pangkas 6,9% Kerugian Operasional Utama

badge-check


 Armada AirAsia Indonesia Perbesar

Armada AirAsia Indonesia

Wartatrans.com, JAKARTA – PT AirAsia Indonesia Tbk (“AAID/CMPP” atau “Perseroan”) menerbitkan laporan keuangan konsolidasian Semester I 2026 (1H26), membuktikan ketangguhan bisnis serta efisiensi operasional di tengah dinamika ekonomi global melalui anak perusahaannya, PT Indonesia AirAsia (“Indonesia AirAsia”).

Selama semester pertama 2026, lonjakan harga avtur dunia sebesar 46,7% YoY memicu pembengkakan biaya bahan bakar maskapai hingga 26,1%, menjadi Rp 1,99 triliun.

Kondisi ini makin menantang akibat Rupiah yang melemah 5,0% terhadap Dolar AS.

Namun, lewat penataan rute penerbangan dan efisiensi biaya yang ketat, Indonesia AirAsia berhasil meredam dampak tersebut.

Hasilnya, kerugian operasional Perseroan (di luar pengaruh selisih kurs) berhasil dipangkas 6,9% menjadi Rp678,4 miliar.

Total pendapatan Perseroan tercatat sebesar Rp3,91 triliun, turun tipis 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,98 triliun.

Penyesuaian ini merupakan hasil dari langkah terukur Indonesia AirAsia dalam mengelola kapasitas, di mana perusahaan memprioritaskan rute-rute yang menguntungkan dibanding sekadar mengejar volume penumpang.

Penjualan tiket penerbangan Indonesia AirAsia berkontribusi sebesar Rp3,31 triliun. Sementara itu, pendapatan dari layanan tambahan (ancillary revenue) menyumbang Rp595 miliar, didorong oleh layanan bagasi, makanan dalam pesawat (in-flight meals), penerbangan charter, serta kargo udara.

Indonesia AirAsia menyesuaikan total kapasitas penerbangan menjadi 3,44 juta kursi (turun 4,2%) dengan menata ulang rute dan alokasi pesawat.

Untuk mengimbangi lonjakan harga avtur, harga tiket rata-rata dinaikkan 4,9% menjadi Rp1,13 juta. Langkah ini berhasil menaikkan Revenue per Available Seat Kilometer (RASK) sebesar 17,4% menjadi Rp854, yang menunjukkan kualitas pendapatan perusahaan makin membaik.

Di sisi lain, minat terbang masyarakat tetap tinggi, terbukti dari 2,83 juta penumpang yang terangkut dalam 19.125 penerbangan, dengan tingkat keterisian pesawat (Load Factor) yang bertahan tinggi di angka 82%.

Dari sisi pengelolaan biaya, Perseroan terus menerapkan disiplin anggaran yang ketat. Hal ini terlihat dari Cost per Available Seat Kilometer (CASK ex-fuel) yang berhasil ditekan sebesar 1,2%.

Efisiensi internal ini efektif meredam lonjakan beban operasional, sehingga Perseroan sukses memangkas kerugian (di luar pengaruh selisih kurs) sebesar 6,9%.

Semester pertama 2026 menjadi periode ujian bagi daya tahan industri penerbangan global dalam menghadapi lonjakan biaya operasional. Alih-alih mengejar volume penumpang yang tidak efisien, Indonesia AirAsia bergerak cepat menyesuaikan kapasitas, memangkas rute yang kurang potensial, dan menyesuaikan harga tiket dengan tetap mempertahankan load factor di angka 82%.

“Fokus kami pada efisiensi biaya internal, terutama pemangkasan anggaran pemasaran non-esensial dan penataan jadwal perawatan pesawat, berhasil menurunkan biaya operasional sebesar 2,2% sekaligus menekan kerugian operasional utama kami di 6,9%,” jelas Direktur Utama PT AirAsia Indonesia Tbk (AAID/CMPP), Captain Achmad Sadikin Abdurachman, Senin (28/7/2026).

Memasuki semester kedua 2026, Perseroan menurutnya, akan berfokus mempercepat pemulihan kinerja melalui optimalisasi rute-rute potensial, peningkatan utilisasi armada, serta efisiensi operasional secara menyeluruh.

Langkah ini juga didukung integrasi dengan ekosistem AirAsia Group, khususnya melalui layanan penerbangan lanjutan (Fly-Thru) yang menghubungkan penumpang Indonesia AirAsia ke lebih dari 150 destinasi di Asia-Pasifik.

“Ke depan, kami akan terus mencermati perkembangan pasar dengan mengedepankan fleksibilitas operasional dan disiplin struktur biaya. Langkah terukur ini menjadi kunci utama untuk menjaga keberlanjutan bisnis Perseroan, sambil tetap menghadirkan layanan penerbangan yang berkualitas dan terjangkau bagi para penumpang,” tutupnya. (omy)

Baca Lainnya

PELNI Kembangkan Ekosistem Bisnis Kelautan dan Wisata di Pulau Kapota

23 September 2026 - 18:10 WIB

Trafik Pelabuhan Regional 2 Meningkat, Pelindo Catat Pertumbuhan Arus Petikemas dan Barang hingga Agustus 2026

23 September 2026 - 17:32 WIB

Lebih dari 170.000 Warga Rasakan Manfaat Kontribusi Publik FIFGROUP

23 September 2026 - 15:20 WIB

Bazar Murah HUT ke-81 TNI Hadirkan Kebutuhan Pokok Terjangkau di Pasar Thumburuni

23 September 2026 - 08:29 WIB

Kemenhub Terus Pantau Dampak Karhutla pada Penerbangan di Kalimantan

23 September 2026 - 03:52 WIB

KSOP Utama Tanjung Perak Pastikan Kesiapan E-RTG Baru di Terminal Petikemas Nilam

22 September 2026 - 22:33 WIB

Pelindo Regional 4 Perkuat Budaya Dialog Lewat BWL

22 September 2026 - 18:16 WIB

6 Pesawat N219 PTDI Siap Perkuat Armada di TNI-AD

22 September 2026 - 15:37 WIB

Pelindo Regional 2 Banten Pastikan Kelancaran Pasokan Gandum untuk Industri Pangan Nasional

22 September 2026 - 12:28 WIB

KAI Mini Fair di Stasiun Tugu, Loko Food Truck Sajikan Kuliner untuk Teman Perjalanan

22 September 2026 - 12:14 WIB

Trending di EKOBIS