Wartatrans.com, TAKENGON — Lapangan Musara Alun yang selama ini menjadi ruang publik dan lokasi jogging setiap pagi, kini menuai sorotan.
Sejumlah warga menilai kawasan tersebut kerap dijadikan tempat mengumbar aurat, baik oleh laki-laki yang mengenakan celana pendek maupun perempuan dengan pakaian ketat, yang dinilai tidak mencerminkan nilai-nilai syariat Islam.

Kondisi ini memunculkan harapan agar Dinas Syariat Islam Aceh Tengah lebih aktif hadir di tengah masyarakat, tidak hanya melakukan penindakan, tetapi juga memberikan pemahaman dan edukasi tentang tata cara berpakaian yang sesuai dengan ajaran Islam, khususnya di ruang publik.
Selain persoalan berpakaian, praktik perjudian di arena pacuan kuda juga kembali disorot.
Aktivitas tersebut disebut sudah menjadi rahasia umum dan terkesan dibiarkan, sehingga memunculkan anggapan seolah-olah perjudian menjadi sesuatu yang sah dan dibolehkan.
Seiring waktu, Aceh yang dikenal sebagai daerah bersyariat Islam dinilai perlahan mengalami degradasi nilai. Mandeknya peran pengawasan dan pembinaan dari instansi terkait disebut menjadi salah satu penyebab utama.
Kekhawatiran semakin meningkat menjelang bulan suci Ramadhan. Lapangan Musara Alun diprediksi menjadi salah satu lokasi yang kurang nyaman bagi masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa, apabila tidak ada langkah antisipatif dari pemerintah daerah.
Seorang teungku/ustaz yang ditemui menyampaikan bahwa moralitas generasi saat ini berpotensi semakin melemah jika pemerintah daerah tidak bekerja maksimal sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Menurutnya, penerapan syariat Islam yang konsisten justru bisa menjadi daya tarik wisata religi, yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dan mempercepat pemulihan ekonomi daerah.
“Keindahan alam Aceh Tengah adalah anugerah Allah. Sudah sepatutnya kita menjaganya dengan aturan dan syariat-Nya,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga bumi Allah ini, agar Aceh Tengah tetap dikenal sebagai daerah yang indah secara alam dan kuat secara nilai.*** (Kamaruzzaman)




















