Wartatrans.com, JAKARTA — Abdul Aziz memilih jalan sunyi: menjaga denyut kesenian Betawi agar tak tergerus zaman. Sejak 2007, pegiat budaya ini mendirikan Sanggar Seni Bintang Timur sebagai ruang regenerasi lenong dan kesenian lokal Betawi, khususnya bagi generasi muda.
Aziz melihat tantangan besar dalam pelestarian budaya tradisional di tengah perubahan selera dan gaya hidup anak muda. Karena itu, ia tak sekadar mempertahankan tradisi, melainkan berusaha menafsirkannya ulang agar tetap relevan.

“Budaya Betawi harus hidup di keseharian, bukan hanya dipajang sebagai artefak,” kata Aziz suatu waktu.

Pertunjukan lenong.
Upayanya mendekatkan lenong kepada generasi muda dilakukan secara langsung. Aziz kerap turun ke sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMA, untuk mengenalkan lenong sebagai seni pertunjukan yang cair, komunikatif, dan dekat dengan realitas sosial.
Dalam prosesnya, Aziz tak ragu berinovasi. Ia pernah mementaskan lenong tanpa iringan musik gambang kromong—sebuah langkah yang menuai kritik dari kalangan pelaku seni tradisi. Namun bagi Aziz, inovasi adalah jalan agar lenong tak membeku dalam pakem.
“Kalau terlalu kaku, anak muda tidak akan datang,” ujarnya.
Selain aktif di dunia pendidikan, Aziz juga menggerakkan pemuda karang taruna agar terlibat dalam kegiatan berkesenian. Sanggar Bintang Timur pun berkembang menjadi ruang kolektif, tempat seni Betawi dipelajari, diperdebatkan, dan dipentaskan ulang sesuai konteks zaman.
Bagi Aziz, pelestarian budaya bukan sekadar menjaga bentuk lama, melainkan memastikan nilai dan semangatnya tetap hidup. Lenong, di tangannya, bukan nostalgia masa lalu, melainkan percakapan yang terus diperbarui dengan generasi hari ini.*** (Septiadi)




















