Menu

Mode Gelap
Rayakan Liburan dengan Perjalanan Hemat, DAMRI Hadirkan Promo “Twin Date 4.4 Kelola 196 Ribu Penumpang, Pelindo Regional 2 Pastikan Kelancaran Arus Lebaran 2026 KAI Daop 7 Madiun Layani 492 Ribu Pelanggan Selama Angkutan Lebaran 2026 Awal Libur Panjang Paskah, Volume Penumpang Kereta Api Tembus 183 Ribu KCIC Imbau Masyarakat Pesan Tiket Whoosh Lebih Awal Jelang Libur Panjang Paskah Dukung Persiapan Konsumsi Jemaah Haji, Garuda Terbangkan 15 Ton Makanan Siap Saji ke Jeddah

SOSOK

Abdul Azis Menjaga Lenong Tetap Hidup di Tangan Generasi Muda

badge-check


 Abdul Azis Menjaga Lenong Tetap Hidup di Tangan Generasi Muda Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Abdul Aziz memilih jalan sunyi: menjaga denyut kesenian Betawi agar tak tergerus zaman. Sejak 2007, pegiat budaya ini mendirikan Sanggar Seni Bintang Timur sebagai ruang regenerasi lenong dan kesenian lokal Betawi, khususnya bagi generasi muda.

Aziz melihat tantangan besar dalam pelestarian budaya tradisional di tengah perubahan selera dan gaya hidup anak muda. Karena itu, ia tak sekadar mempertahankan tradisi, melainkan berusaha menafsirkannya ulang agar tetap relevan.

“Budaya Betawi harus hidup di keseharian, bukan hanya dipajang sebagai artefak,” kata Aziz suatu waktu.

Pertunjukan lenong.

Upayanya mendekatkan lenong kepada generasi muda dilakukan secara langsung. Aziz kerap turun ke sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMA, untuk mengenalkan lenong sebagai seni pertunjukan yang cair, komunikatif, dan dekat dengan realitas sosial.

Dalam prosesnya, Aziz tak ragu berinovasi. Ia pernah mementaskan lenong tanpa iringan musik gambang kromong—sebuah langkah yang menuai kritik dari kalangan pelaku seni tradisi. Namun bagi Aziz, inovasi adalah jalan agar lenong tak membeku dalam pakem.

“Kalau terlalu kaku, anak muda tidak akan datang,” ujarnya.

Selain aktif di dunia pendidikan, Aziz juga menggerakkan pemuda karang taruna agar terlibat dalam kegiatan berkesenian. Sanggar Bintang Timur pun berkembang menjadi ruang kolektif, tempat seni Betawi dipelajari, diperdebatkan, dan dipentaskan ulang sesuai konteks zaman.

Bagi Aziz, pelestarian budaya bukan sekadar menjaga bentuk lama, melainkan memastikan nilai dan semangatnya tetap hidup. Lenong, di tangannya, bukan nostalgia masa lalu, melainkan percakapan yang terus diperbarui dengan generasi hari ini.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Di Galery Ruang Darmin, Yahya TS Tegaskan Identitas Betawi Lewat Pameran “Betawie Punye Yahye”

2 April 2026 - 09:20 WIB

Dukun Visual di Grup Komik

1 April 2026 - 15:24 WIB

Penyair Taufiq Ismail Terima Buku “Sultanah Safiatudin” dari L K Ara

31 Maret 2026 - 10:44 WIB

Jalin Keakraban, Obor Sastra Gelar Halal Bihalal Penyair dan Sastrawan

30 Maret 2026 - 19:38 WIB

Ahmadun: Buku Mesir Love Story di Bawah Langit Para Nabi Karya Halimah Munawir Menginspirasi

30 Maret 2026 - 18:58 WIB

Indonesia Perkuat Kerja Sama Pariwisata dengan Jepang, Dukung Strategi Penguatan Pasar Asia Timur

30 Maret 2026 - 08:49 WIB

Peluncuran Buku Karya L K Ara di PDS HB Jassin Berlangsung Khidmat dan Penuh Energi Sastra

28 Maret 2026 - 21:53 WIB

Illiza Sa’aduddin Djamal Luncurkan Dua Buku L K Ara di PDS H.B. Jassin

27 Maret 2026 - 13:02 WIB

Dari Keterbatasan Menuju Keberkahan: Kisah Inspiratif Siti Patimah Azzahra Bersama PNM

27 Maret 2026 - 11:31 WIB

Terjerat Pinjol hingga Perjanjian Iblis: Film Horor “Aku Harus Mati” Siap Menghantui Bioskop 2 April 2026

26 Maret 2026 - 23:54 WIB

Trending di SENI BUDAYA