Menu

Mode Gelap
Daimler Truck Operasikan Pusat Suku Cadang Global di Jerman, Pasokan Mercedes-Benz Indonesia Dipastikan Makin Cepat Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang Paradoks Lansia Indonesia: Menua dalam Jeratan Sektor Informal Terminal Teluk Lamong Raih Digital PR Award 2026 Berkat Strategi Komunikasi Digital yang Inovatif Semester I 2026, Penumpang KAI Divre III Palembang Tembus 603.967 Orang, Naik 11 Persen Kepala Dinas Keuangan Subulussalam Belum Dilantik Meski Lelang Jabatan Selesai, Publik Pertanyakan Alasannya

SOSOK

Abdul Azis Menjaga Lenong Tetap Hidup di Tangan Generasi Muda

badge-check


 Abdul Azis Menjaga Lenong Tetap Hidup di Tangan Generasi Muda Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Abdul Aziz memilih jalan sunyi: menjaga denyut kesenian Betawi agar tak tergerus zaman. Sejak 2007, pegiat budaya ini mendirikan Sanggar Seni Bintang Timur sebagai ruang regenerasi lenong dan kesenian lokal Betawi, khususnya bagi generasi muda.

Aziz melihat tantangan besar dalam pelestarian budaya tradisional di tengah perubahan selera dan gaya hidup anak muda. Karena itu, ia tak sekadar mempertahankan tradisi, melainkan berusaha menafsirkannya ulang agar tetap relevan.

“Budaya Betawi harus hidup di keseharian, bukan hanya dipajang sebagai artefak,” kata Aziz suatu waktu.

Pertunjukan lenong.

Upayanya mendekatkan lenong kepada generasi muda dilakukan secara langsung. Aziz kerap turun ke sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMA, untuk mengenalkan lenong sebagai seni pertunjukan yang cair, komunikatif, dan dekat dengan realitas sosial.

Dalam prosesnya, Aziz tak ragu berinovasi. Ia pernah mementaskan lenong tanpa iringan musik gambang kromong—sebuah langkah yang menuai kritik dari kalangan pelaku seni tradisi. Namun bagi Aziz, inovasi adalah jalan agar lenong tak membeku dalam pakem.

“Kalau terlalu kaku, anak muda tidak akan datang,” ujarnya.

Selain aktif di dunia pendidikan, Aziz juga menggerakkan pemuda karang taruna agar terlibat dalam kegiatan berkesenian. Sanggar Bintang Timur pun berkembang menjadi ruang kolektif, tempat seni Betawi dipelajari, diperdebatkan, dan dipentaskan ulang sesuai konteks zaman.

Bagi Aziz, pelestarian budaya bukan sekadar menjaga bentuk lama, melainkan memastikan nilai dan semangatnya tetap hidup. Lenong, di tangannya, bukan nostalgia masa lalu, melainkan percakapan yang terus diperbarui dengan generasi hari ini.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Syuting “Lautan Cinta” di Yogyakarta, Abidzar Al-Ghifari Nikmati Kebersamaan dengan Para Pemain

28 Juni 2026 - 14:22 WIB

Kementerian Kebudayaan Resmikan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Banyumas

28 Juni 2026 - 13:23 WIB

Syech Mulyadi Abadikan Semangat PPN XIV Aceh Lewat Puisi “Dari Tanah Aceh, PPN Ku Kenal”

28 Juni 2026 - 01:58 WIB

Trending di SENI BUDAYA