Menu

Mode Gelap
Besok, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Berkumandang Serentak di 37 Bandara InJourney Airports Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata Puluhan Relawan Airnav Indonesia, Taspen, dan Jasindo Mengabdi di Boyolali

SOSOK

Abdul Azis Menjaga Lenong Tetap Hidup di Tangan Generasi Muda

badge-check


 Abdul Azis Menjaga Lenong Tetap Hidup di Tangan Generasi Muda Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Abdul Aziz memilih jalan sunyi: menjaga denyut kesenian Betawi agar tak tergerus zaman. Sejak 2007, pegiat budaya ini mendirikan Sanggar Seni Bintang Timur sebagai ruang regenerasi lenong dan kesenian lokal Betawi, khususnya bagi generasi muda.

Aziz melihat tantangan besar dalam pelestarian budaya tradisional di tengah perubahan selera dan gaya hidup anak muda. Karena itu, ia tak sekadar mempertahankan tradisi, melainkan berusaha menafsirkannya ulang agar tetap relevan.

“Budaya Betawi harus hidup di keseharian, bukan hanya dipajang sebagai artefak,” kata Aziz suatu waktu.

Pertunjukan lenong.

Upayanya mendekatkan lenong kepada generasi muda dilakukan secara langsung. Aziz kerap turun ke sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMA, untuk mengenalkan lenong sebagai seni pertunjukan yang cair, komunikatif, dan dekat dengan realitas sosial.

Dalam prosesnya, Aziz tak ragu berinovasi. Ia pernah mementaskan lenong tanpa iringan musik gambang kromong—sebuah langkah yang menuai kritik dari kalangan pelaku seni tradisi. Namun bagi Aziz, inovasi adalah jalan agar lenong tak membeku dalam pakem.

“Kalau terlalu kaku, anak muda tidak akan datang,” ujarnya.

Selain aktif di dunia pendidikan, Aziz juga menggerakkan pemuda karang taruna agar terlibat dalam kegiatan berkesenian. Sanggar Bintang Timur pun berkembang menjadi ruang kolektif, tempat seni Betawi dipelajari, diperdebatkan, dan dipentaskan ulang sesuai konteks zaman.

Bagi Aziz, pelestarian budaya bukan sekadar menjaga bentuk lama, melainkan memastikan nilai dan semangatnya tetap hidup. Lenong, di tangannya, bukan nostalgia masa lalu, melainkan percakapan yang terus diperbarui dengan generasi hari ini.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Perankan Tan Malaka, Tanta Ginting Temukan Banyak Sisi yang Belum Banyak Diketahui

14 Agustus 2026 - 22:06 WIB

81 Tahun Merdeka, Meradjoet Sendja Ajak Generasi Muda Menemukan Kembali Role Model dan Makna Kemerdekaan

14 Agustus 2026 - 21:53 WIB

SCTV Siapkan Pesta Musik dan Hiburan Spektakuler di HUT ke-36

14 Agustus 2026 - 21:48 WIB

Mural Masuk Sekolah Mengokohkan SMPN 2 Semarang Tiada Hari Tanpa Prestasi 

14 Agustus 2026 - 18:46 WIB

Patricia Gouw Turun Langsung, Peserta Main Drama Casting Diuji Bangun Chemistry

14 Agustus 2026 - 17:58 WIB

Lima Tahun Vakum, Olivia Zalianty Kembali ke Panggung Teater

14 Agustus 2026 - 17:52 WIB

ATL Beri Mandat Salman Yoga Bentuk Kepengurusan ATL Gayo 2026–2030

14 Agustus 2026 - 16:13 WIB

“Duta” Rimba Raya Gerilya di Ibu Kota, Bawa Kembali Jejak Suara; “Indonesia Masih Ada”

13 Agustus 2026 - 21:39 WIB

Trending di PERISTIWA