Menu ✖

Mode Gelap
Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎ KAI Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang, 748 Petugas PJL Disertifikasi hingga Tutup 1.329 Perlintasan Liar

SOSOK

Abdul Azis Menjaga Lenong Tetap Hidup di Tangan Generasi Muda

badge-check


 Abdul Azis Menjaga Lenong Tetap Hidup di Tangan Generasi Muda Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Abdul Aziz memilih jalan sunyi: menjaga denyut kesenian Betawi agar tak tergerus zaman. Sejak 2007, pegiat budaya ini mendirikan Sanggar Seni Bintang Timur sebagai ruang regenerasi lenong dan kesenian lokal Betawi, khususnya bagi generasi muda.

Aziz melihat tantangan besar dalam pelestarian budaya tradisional di tengah perubahan selera dan gaya hidup anak muda. Karena itu, ia tak sekadar mempertahankan tradisi, melainkan berusaha menafsirkannya ulang agar tetap relevan.

“Budaya Betawi harus hidup di keseharian, bukan hanya dipajang sebagai artefak,” kata Aziz suatu waktu.

Pertunjukan lenong.

Upayanya mendekatkan lenong kepada generasi muda dilakukan secara langsung. Aziz kerap turun ke sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMA, untuk mengenalkan lenong sebagai seni pertunjukan yang cair, komunikatif, dan dekat dengan realitas sosial.

Dalam prosesnya, Aziz tak ragu berinovasi. Ia pernah mementaskan lenong tanpa iringan musik gambang kromong—sebuah langkah yang menuai kritik dari kalangan pelaku seni tradisi. Namun bagi Aziz, inovasi adalah jalan agar lenong tak membeku dalam pakem.

“Kalau terlalu kaku, anak muda tidak akan datang,” ujarnya.

Selain aktif di dunia pendidikan, Aziz juga menggerakkan pemuda karang taruna agar terlibat dalam kegiatan berkesenian. Sanggar Bintang Timur pun berkembang menjadi ruang kolektif, tempat seni Betawi dipelajari, diperdebatkan, dan dipentaskan ulang sesuai konteks zaman.

Bagi Aziz, pelestarian budaya bukan sekadar menjaga bentuk lama, melainkan memastikan nilai dan semangatnya tetap hidup. Lenong, di tangannya, bukan nostalgia masa lalu, melainkan percakapan yang terus diperbarui dengan generasi hari ini.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

30 September 2026 - 08:17 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Jaja Mihardja Mengidolakan Almarhum Bing Slamet 

29 September 2026 - 03:02 WIB

Trending di SENI BUDAYA