Wartatrans.com, ACEH — Wilayah barat Aceh kembali diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 4,5 pada Rabu pagi (20/5/2026) sekitar pukul 09.03 WIB. Getaran gempa dirasakan warga di kawasan Sinabang dan sekitarnya hingga membuat sebagian masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah.
Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut sekitar 19 kilometer barat Sinabang, Kabupaten Simeulue, dengan kedalaman 16 kilometer. Titik koordinat gempa tercatat di 2,44 Lintang Utara dan 96,20 Bujur Timur.

BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi lempeng di kawasan barat Sumatra. Meski tidak berpotensi tsunami, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Getaran gempa dilaporkan dirasakan di wilayah Simeulue dengan skala intensitas II–III MMI. Pada skala tersebut, getaran terasa nyata di dalam rumah dan benda-benda ringan yang digantung tampak bergoyang. Sejumlah warga mengaku merasakan getaran selama beberapa detik sehingga aktivitas masyarakat sempat terhenti sesaat, terutama di kawasan pesisir yang rawan terdampak bencana.
Hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. Aparat bersama petugas terkait masih melakukan pemantauan di sejumlah wilayah terdampak guna memastikan kondisi masyarakat tetap aman.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Aceh Besar menjelaskan bahwa gempa di wilayah Simeulue merupakan bagian dari aktivitas tektonik aktif di jalur subduksi Sumatra yang memang kerap memicu gempa bumi di kawasan Aceh dan sekitarnya. Hingga pukul 09.47 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya serta tetap mengikuti informasi resmi pemerintah maupun kanal resmi BMKG.
Aceh sendiri merupakan salah satu daerah paling rawan gempa di Indonesia karena berada di kawasan cincin api Pasifik (Ring of Fire) dan jalur pertemuan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia. Kondisi ini membuat wilayah Aceh kerap mengalami aktivitas seismik, baik gempa kecil maupun gempa berkekuatan besar.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya edukasi mitigasi bencana, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir dan daerah rawan gempa. Kesiapsiagaan masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko ketika bencana terjadi sewaktu-waktu.*** (Kamaruzzaman)

























