Wartatrans.com, ACEH TAMIANG – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang memulai proses pemulihan sektor pertanian dengan menggelar tanam padi perdana di lahan sawah pascabencana di Kampung Teluk Halban, Kecamatan Bendahara, Kamis (16/7/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah awal menghidupkan kembali produktivitas lahan yang rusak akibat banjir bandang lumpur pada November 2025.

Pada musim tanam kali ini, pemerintah menerapkan sistem Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) melalui metode tebar benih langsung menggunakan peralatan mekanis. Penerapan teknologi tersebut terintegrasi dengan program intervensi Optimasi Lahan (Oplah) Bencana dari Kementerian Pertanian.
Program tersebut ditujukan untuk memulihkan sebanyak 2.673 hektare lahan sawah terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, seluas 712 hektare masuk kategori Oplah sedang dengan rehabilitasi menyeluruh terhadap vegetasi tanah, sementara sekitar 1.900 hektare lainnya masuk kategori Oplah ringan guna mempercepat masa tanam.
Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, menilai penggunaan teknologi pertanian modern di lahan pascabencana menjadi simbol kebangkitan sektor agraria sekaligus upaya mempercepat pemulihan ekonomi petani.
“Tanam perdana ini bukan sekadar memulai musim tanam, melainkan bukti nyata pemanfaatan teknologi untuk mempercepat kebangkitan petani,” kata Ismail saat kegiatan.
Menurut Ismail, sinergi antara program Oplah Bencana dan metode PM-AAS diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah tersebut.
“Melalui sinergi Oplah Bencana dan metode PM-AAS, kita menargetkan kenaikan angka produktivitas hasil panen dari tiap lahan sawah yang ada,” ujar Ismail.
Langkah modernisasi pertanian ini melanjutkan upaya pemulihan yang sebelumnya telah dimulai melalui penanaman padi perdana pascabencana di Kampung Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, yang dipimpin Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, bersama Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Balai Riset dan Manajemen Perbibitan (BRMP) Ruminansia Kecil, Muhammad Syawal, yang mewakili Kementerian Pertanian, mengatakan fokus penanganan diarahkan pada pemulihan struktur tanah agar lahan dapat kembali produktif.
Untuk mendukung keberhasilan program tersebut, pemerintah juga menyelaraskannya dengan program pompanisasi nasional melalui penyediaan 70 unit pompa irigasi yang akan ditempatkan di sejumlah titik rawan kekeringan. Selain itu, Kementerian Pertanian turut menyalurkan bantuan lima unit traktor roda empat guna memperkuat modernisasi alat dan mesin pertanian di tingkat kelompok tani.
Ismail berharap penerapan teknologi PM-AAS dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mengembalikan posisi Aceh Tamiang sebagai salah satu lumbung pangan utama di Provinsi Aceh.(fahmi)




























