Wartatrans.com, KOTA BOGOR – Sabtu malam (20/12/2025) menjadi penanda penting bagi wajah baru ruang publik Kota Bogor. Alun-alun yang biasanya dipenuhi aktivitas santai warga, mendadak bertransformasi menjadi panggung kolosal seni tradisi saat Drama Tari Wayang “Srikandi Bhuana” dipentaskan di hadapan ribuan penonton dari berbagai kalangan.
Tanpa tiket, tanpa sekat sosial, dan tanpa batas usia, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman budaya yang jarang dirasakan masyarakat kota: seni tradisi kelas besar yang bisa dinikmati langsung di jantung kota. Pementasan ini sekaligus menegaskan bahwa ruang publik bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga wahana edukasi dan peradaban.

Kemegahan tata cahaya, orkestrasi musik, serta koreografi tari yang memadukan pakem tradisi dengan pendekatan visual modern membuat banyak warga terpukau. Alun-alun Bogor pun seolah menjelma menjadi panggung nasional, mempertemukan warisan budaya dengan selera estetika generasi masa kini.
Pertunjukan ini merupakan bagian dari Evaluasi ke-55 Sanggar Seni Getar Pakuan, yang berkolaborasi dengan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 hasil sinergi akademisi ISBI Bandung, mahasiswa, dan praktisi seni lokal. Kolaborasi tersebut menghadirkan format pertunjukan wayang yang lebih komunikatif, tanpa menghilangkan nilai filosofisnya.
Bagi banyak penonton, pengalaman menyaksikan seni tradisi dalam skala besar di ruang terbuka menjadi sesuatu yang baru. Asep (45), warga Tanah Sareal, mengaku selama ini seni wayang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

“Biasanya kan nonton wayang itu di gedung atau acara tertentu. Ini beda. Di alun-alun, terbuka, dan kualitasnya luar biasa. Anak saya malah betah nonton sampai selesai,” ujarnya.
Respons serupa datang dari kalangan muda. Maya (21), mahasiswi asal Bogor, menyebut pertunjukan ini mengubah pandangannya terhadap seni tradisi.
“Wayang itu ternyata bisa sangat modern dan keren. Visualnya seperti pertunjukan internasional. Ini bikin kami yang muda jadi lebih bangga sama budaya sendiri,” katanya.
Pemerintah Kota Bogor pun menilai kegiatan ini sebagai contoh ideal pemanfaatan ruang publik. Alun-alun tidak hanya menjadi simbol kota, tetapi juga ruang ekspresi yang hidup dan bermakna. Pesan yang ingin disampaikan jelas: modernitas kota tidak harus menanggalkan akar budayanya.
Lebih dari sekadar pertunjukan, “Srikandi Bhuana” menjadi bukti bahwa seni tradisi mampu beradaptasi, menjangkau publik luas, dan kembali relevan di tengah kehidupan urban. Malam itu, Bogor tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga merawat ingatan kolektif dan menanamkan kebanggaan budaya lintas generasi.
Alun-alun Kota Bogor pun mencatat sejarah baru—sebagai ruang di mana seni, masyarakat, dan masa depan bertemu dalam satu panggung kebudayaan.*** (Dul/KDR)











