Wartatrans.com, JAKARTA — Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney.
Dalam perjalanan menuju ruang rapat melewati lobbi Terminal 3, mata saya menangkap sesuatu yang terasa baru. Di berbagai sudut bandara, tulisan InJourney Airports terpampang jelas. Di dinding, di papan petunjuk, di ruang-ruang yang dulu begitu lekat dengan satu nama yaitu Angkasa Pura.

Nah mungkin muncul pertanyaan di benak banyak orang. Apakah InJourney ini nama baru Angkasa Pura? Apakah Angkasa Pura sudah berganti wajah? Atau sedang berganti peran?
Selama ini Angkasa Pura adalah bandara itu sendiri atau setidaknya begitu yang kita pahami. Ia mengelola terminal, landasan pacu, arus penumpang, dan segala urusan teknis yang membuat pesawat bisa datang dan pergi dengan selamat. Angkasa Pura bekerja dalam diam dalam logika operasional, memastikan sistem berjalan tanpa drama. Kita jarang menyadari keberadaannya, kecuali ketika terjadi keterlambatan atau antrean panjang.
Namun tulisan InJourney Airports seolah memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang berubah. Bukan sekadar pergantian logo atau rebranding visual, melainkan perubahan cara pandang. InJourney bukan operator bandara. Ia bukan pengganti Angkasa Pura dalam pengertian teknis. Angkasa Pura tetap ada, tetap mengelola bandara, tetap memastikan roda penerbangan berputar.
InJourney berada di lapisan yang berbeda. Ia adalah holding, induk strategis, semacam pengatur besar yang mencoba menyatukan potongan-potongan perjalanan yang selama ini terpisah. Bandara, maskapai, hotel, kawasan wisata, pusat perbelanjaan, hingga destinasi budaya, saat ini semuanya dikumpulkan dalam satu ekosistem. Jika Angkasa Pura bertugas memastikan bandara berfungsi, InJourney bertanya lebih jauh, apa arti bandara dalam keseluruhan pengalaman perjalanan?
Bandara dalam kacamata InJourney, bukan lagi sekadar tempat transit. Ia adalah pintu cerita. Kesan pertama dan kesan terakhir. Ruang pertemuan antara negara dan dunia. Maka wajar jika nama InJourney kini hadir di ruang-ruang yang selama ini kita kenal sebagai wilayah Angkasa Pura. Bukan untuk menghapus, melainkan untuk menaungi.
Di ruang tunggu bandara saya menyadari bahwa perubahan ini mencerminkan pergeseran yang lebih besar. Negara tidak lagi hanya mengelola aset, tetapi ingin mengelola pengalaman. Tidak cukup pesawat mendarat dengan aman; perjalanan harus terasa utuh, terhubung, dan bermakna. Dari pesawat Garuda yang mendarat, terminal yang dikelola Angkasa Pura, hotel dan kawasan wisata milik negara, hingga etalase Sarinah, semuanya ingin dirangkai sebagai satu narasi.
Maka jawaban atas pertanyaan tadi menjadi lebih jernih. InJourney bukan nama baru Angkasa Pura. Ia bukan pengganti, melainkan payung. Angkasa Pura adalah pemain yang memastikan musik dimainkan dengan benar. InJourney adalah dirigen yang menentukan irama dan arah pertunjukan.
Apakah orkestrasi ini akan berhasil? Itu pertanyaan lain, yang jawabannya tidak bisa lahir dari satu rapat atau satu tulisan. Ia akan diuji oleh waktu, oleh konsistensi kebijakan, dan oleh pengalaman nyata para penumpang, oleh kita semua.
Namun di Bandara Soekarno-Hatta hari ini, di antara papan bertuliskan InJourney Airports, satu hal terasa jelas, bandara tidak lagi hanya soal keberangkatan dan kedatangan. Ia sedang diposisikan sebagai bagian dari cerita yang lebih panjang yaitu tentang bagaimana Indonesia ingin menyambut dunia, dan bagaimana perjalanan itu ingin dikenang.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, perubahan besar sering kali memang dimulai dari ruang tunggu seperti ini, tempat orang tidak sedang pergi ke mana-mana, tetapi justru mulai bertanya.
Fungsi utama InJourney untuk menyusun strategi besar ekosistem aviasi dan pariwisata Indonesia dengan membangun sinergi dan sinkronisasi bandara, maskapai penerbangan, destinasi wisata, serta hotel dan retail. Injourney juga bertanggung jawab untuk meningkatkan nilai ekonomi pariwisata nasional, serta mengelola aset strategis negara agar terintegrasi Singkatnya InJourney adalah holding strategis dan orkestrator ekosistem.
Berdasarkan sumber yang menggambarkan portofolio, InJourney memiliki beberapa sub-unit inti yang mengelola bagian berbeda dari ekosistem pariwisata dan aviasi yaitu:InJourney Airports mengelola bandara (hasil merger Angkasa Pura I dan II), InJourney Aviation Services (IAS) untuk layanan aviasi (ground, kargo, hospitality), InJourney Tourism Development Corp mengelola kawasan pariwisata besar (termasuk ITDC Nua Dua Bali serta kawasan Mandalika), InJourney Destination Management mengelola destinasi budaya dan wisata, InJourney Hospitality untuk layanan hotel dan hospitality (termasuk Hotel Indonesia group), sertaInJourney Retail untuk mengelola retail dan pusat belanja (termasuk Sarinah)
Saya orang Pelindo. Dunia pelabuhan membentuk cara berpikir saya, yaitu keras, sistemik, dan presisi. Di pelabuhan, kompleksitas tampak jelas dan berisik, kapal, crane, kontainer, truk, jadwal sandar, cuaca, dan regulasi yang saling mengunci. Satu simpul terganggu, seluruh rantai logistik ikut tersendat. Di sini makna kompleksitas adalah soal barang, waktu, dan biaya.
Ketika saya mencermati InJourney, saya menyadari bahwa kompleksitas tidak selalu berbunyi bising. InJourney mengelola bandara, pariwisata, hospitality, dan retail, ebuah ekosistem yang berurusan langsung dengan manusia. Jika Pelindo bekerja di wilayah efisiensi, InJourney bekerja di wilayah pengalaman. Bandara bukan sekadar simpul transportasi, melainkan wajah pertama dan terakhir sebuah negara. Pariwisata bukan hanya angka kunjungan, tetapi rasa, kesan, dan cerita yang dibawa pulang.
Perbedaan ini semakin terasa di ranah digital. Tranformasi ddigital Pelindo berorientasi pada presisi, sistem harus stabil, terstandar, dan minim kesalahan agar barang bergerak lancar. Keberhasilannya diukur dari kecepatan dan efisiensi.
Sementara itu transformasi digital InJourney berurusan dengan persepsi, kenyamanan penumpang, alur perjalanan, kemudahan layanan, dan citra. Gangguan kecil bisa berdampak besar karena berhadapan langsung dengan publik.
Dari situ saya belajar bahwa mengelola pelabuhan menuntut ketangguhan sistem, sedangkan mengelola bandara dan pariwisata menuntut kepekaan rasa. Keduanya sama-sama kompleks, hanya berbeda wajah. Menggerakkan barang memang sulit, tetapi mengelola pengalaman manusia sering kali jauh lebih rumit.***

(Riri Satria – Bandara Intrnasional Sokarno Hatta, 9 Januari 2026)









