Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Banjir dan longsor yang melanda wilayah dataran tinggi Aceh Tengah pada 26 November 2025 meninggalkan luka mendalam dan kesaksian pahit bagi warga. Bencana ini dinilai sebagai kejadian luar biasa, bahkan disebut belum pernah tercatat dalam sejarah masyarakat setempat.
Wen Rudi Bathen, salah satu saksi mata, mengaku sengaja mendatangi langsung lokasi-lokasi terparah yang diterjang banjir dan longsor. Ia ingin menyaksikan sendiri kondisi lapangan sekaligus merekonstruksi betapa dahsyatnya peristiwa tersebut.

![]()
“Hasilnya sangat parah. Ini kejadian luar biasa yang sebelumnya tidak pernah dialami masyarakat dataran tinggi ini,” ujar Wen Rudi dalam catatan reflektifnya, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, jika pun pernah terjadi bencana besar di wilayah Aceh, umumnya tercatat di kawasan pesisir seperti tsunami, atau letusan gunung berapi Burni Telong yang terjadi ratusan tahun silam. Namun banjir dan longsor dengan skala sebesar ini di era modern menjadi pengalaman baru yang kini disaksikan bersama oleh generasi saat ini.
Wen Rudi kemudian mengaitkan bencana tersebut dengan pesan moral dan spiritual yang pernah disampaikan seorang khatib dalam khutbah Jumat di Masjid Sabilillah, Kampung Umah Opat, Kecamatan Bebesen. Dalam khutbah itu, khatib mengingatkan jamaah tentang keberadaan “Tentara Allah”.
![]()
“Tentara Allah itu banyak. Mereka bergerak sesuai perintah-Nya, kapan saja dan di mana saja. Wujudnya bukan manusia,” demikian pesan khutbah yang ia kutip.
Menurut Wen Rudi, tentara Allah adalah kekuatan yang bekerja secara senyap (silent army), sempurna, tak terbayangkan oleh akal dan imajinasi manusia. Ia menilai kekuatan tersebut hanya benar-benar disadari oleh orang-orang yang takut kepada Tuhan dan ulama yang tidak terpaut pada kecintaan duniawi.
Ia juga menyinggung perilaku manusia yang kerap merusak alam atas nama keinginan, bukan kebutuhan. Padahal, manusia dianugerahi akal untuk menjaga, bukan menghancurkan.
“Apa yang terjadi pada banjir dan longsor ini adalah bagian dari pekerjaan tentara Allah, atas komando-Nya,” tulis Wen Rudi. “Hasilnya kita saksikan bersama: mengerikan.”
Di akhir refleksinya, Wen Rudi mempertanyakan sikap manusia dalam menyikapi bencana. Apakah peristiwa ini akan menjadi bahan renungan dan kesadaran bersama, atau justru dianggap sekadar fenomena alam biasa tanpa perubahan sikap terhadap lingkungan.
“Semua terserah kita. Karena Tuhan tidak pernah membutuhkan manusia. Kitalah yang membutuhkan Tuhan,” pungkasnya.*** (Kamaruzzaman)
![]()


