Menu

Mode Gelap
Anggota DPR Kesal Menteri KP Tak Beri Tahu Kunjungan ke Aceh Tamiang Evaluasi Nataru, Ditjen Hubdat Catat 3 Aspek ini Bus Sekolah di Pakpak Bharat: Solusi di Kaki Bukit Barisan Hari Pertama Libur Panjang Isra Miraj, Lebih 37 Ribu Penumpang Tinggalkan Jakarta dengan Kereta Api BPSPL Pontianak Pastikan Video Viral Bukan Penangkapan Pesut Mahakam ASDP Resmi Buka Lintasan Perintis Banggai–Paisulamo–Dungkean

PERISTIWA

Banjir Meluas di Aceh: Gelap, Terisolasi, dan Menunggu Uluran Tangan

badge-check


					Banjir Meluas di Aceh: Gelap, Terisolasi, dan Menunggu Uluran Tangan Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH – Bencana banjir dan longsor yang dipicu curah hujan ekstrem dan cuaca buruk telah melanda sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Bahkan beberapa wilayah sudah mulai terjadi beberapa hari

Hingga Kamis (27/11/2025), sedikitnya 10 dari 23 kabupaten/kota di provinsi itu dilaporkan terdampak, menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal sementara dan infrastruktur penting rusak. Ada juga provinsi lain di Medan hingga Sumatera Barat yang mengalami banjir.

Warga terpaksa mengungsi ke lokasi pengungsian akibat rumah mereka terendam atau rusak.

Akibat hujan intensitas tinggi yang berlangsung sejak 18 November 2025, kondisi di banyak wilayah makin kritis. Curah hujan yang terus-menerus membuat saluran drainase jebol, sungai meluap, dan tanah menjadi labil — memicu banjir, genangan, dan longsor di sejumlah titik.

Akibatnya, aktivitas masyarakat lumpuh total.

Di beberapa daerah — seperti di wilayah terdampak — listrik dan akses komunikasi terputus, ruas jalan menganga atau tertutup air, sementara jembatan dan infrastruktur vital lainnya rusak atau ambles.

Malam tiba tanpa cahaya. Di banyak wilayah terdampak banjir di Aceh, listrik padam total.

Warga berkelompok banyak mengungsi ke bangunan sekolah dan masjid yang lebih tinggi. Diinformasikan hujan masih terjadi hingga Jumat dini hari.

Tanpa listrik, persediaan makanan menipis. Tidak ada jaringan internet, bahkan sinyal telepon pun hilang.

Warga kesulitan menghubungi keluarga atau meminta bantuan. Banyak yang tidak tahu bagaimana kondisi desa lain, bahkan tetangga kampung sekalipun.

Akses jalan banyak yang terputus akibat genangan air dan tanah longsor.

Bantuan dari pusat belum tampak. Beberapa relawan lokal berinisiatif membawa bantuan seadanya dengan alat seadanya.

Di pengungsian, rumah lerabat anak-anak menangis karena lapar dan kelelahan. Lansia menggigil karena kedinginan.

Warga menanti, dalam gelap dan diam, berharap bantuan segera datang sebelum segalanya terlambat.

Menanggapi kondisi darurat ini, Gubernur Aceh Muzakir Manaf menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di seluruh provinsi. Status darurat tersebut berlaku sejak 28 November hingga 11 Desember 2025 guna mendukung percepatan evakuasi, distribusi bantuan darurat, dan koordinasi lintas lembaga.

Pemerintah Provinsi Aceh bersama BPBA kini fokus pada penanganan darurat, penyelamatan korban, dan pemulihan layanan dasar. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas, serta mengungsi ke tempat aman bila wilayahnya dianggap rawan banjir atau longsor.(****)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Anggota DPR Kesal Menteri KP Tak Beri Tahu Kunjungan ke Aceh Tamiang

15 Januari 2026 - 17:04 WIB

BPSPL Pontianak Pastikan Video Viral Bukan Penangkapan Pesut Mahakam

15 Januari 2026 - 15:12 WIB

Seniman Kembali Turun ke Jalan, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki

15 Januari 2026 - 11:51 WIB

Bupati Bogor Bersama Forkopimda Tinjau Lokasi Munculnya Asap di Area PT Aneka Tambang, Pastikan Tidak Ada Korban

15 Januari 2026 - 11:43 WIB

KMMI Dibentuk, Pelaku Usaha Sepakat Kawal Program Presiden Percepat Penempatan PMI Terampil

15 Januari 2026 - 10:31 WIB

Trending di EKOBIS