Wartatrans.com, JAKARTA – Jalur kereta api tua Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan sepanjang sekitar 56 kilometer di Provinsi Banten, berpotensi kembali menjadi penggerak ekonomi wilayah setelah berhenti beroperasi sekitar 42 tahun.
Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut reaktivasi jalur tersebut berpeluang mendukung pengembangan wilayah, konektivitas pedesaan, dan distribusi komoditas.

Hasil riset tersebut dipaparkan Peneliti Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas (PRKSDK) BRIN, Purwoko, dalam Experience Sharing Session bertajuk “Reaktivasi Jalur Kereta Api untuk Pembangunan Desa”, Jumat (31/7/2026).
Purwoko menjelaskan, jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan dibangun pada 1906 dan berhenti beroperasi sekitar 1984, seiring bergesernya orientasi transportasi ke angkutan jalan.
“Saat ini, reaktivasi lintas tersebut telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025–2029. Konstruksi segmen awal direncanakan dimulai pada 2027, sedangkan keseluruhan proyek ditargetkan selesai dan beroperasi pada 2029,” katanya.
Dalam kajiannya, BRIN mengidentifikasi tantangan berupa kerusakan infrastruktur, tidak berfungsinya stasiun lama, serta perubahan sebagian trase menjadi jalan lokal dan permukiman warga.
Namun, hasil analisis Internal Factor Analysis Summary (IFAS) dan External Factor Analysis Summary (EFAS) menempatkan strategi pengembangan pada Kuadran I atau strategi agresif.
Dari sisi ekonomi, jalur reaktivasi ini melintasi wilayah dengan basis produksi yang cukup besar di Banten Selatan.
Kabupaten Lebak sebagai titik awal jalur mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sekitar Rp40,58 triliun pada 2025.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi salah satu penyumbang terbesar ekonomi daerah dengan nilai sekitar Rp11,86 triliun.
Besaran ekonomi tersebut menunjukkan jalur Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan memiliki potensi pasar angkutan, terutama untuk mendukung distribusi hasil produksi sektor primer dari wilayah pedesaan menuju pusat perdagangan.
Posisi Rangkasbitung sebagai simpul jaringan kereta memperkuat nilai strategis jalur tersebut. Stasiun Rangkasbitung telah terhubung dengan layanan Commuter Line menuju kawasan Jabodetabek dan menjadi titik penghubung mobilitas masyarakat Banten.
Penguatan konektivitas itu berpotensi memperluas akses pasar bagi aktivitas ekonomi di wilayah selatan.
Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata yang juga Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno, menilai reaktivasi jalur kereta dapat menjadi instrumen pemerataan akses dan penguatan ekonomi wilayah.
BRIN merekomendasikan agar reaktivasi tidak hanya berfokus pada pembangunan rel, tetapi juga integrasi transportasi pengumpan menuju stasiun, peningkatan layanan, serta kesiapan masyarakat sekitar trase.
Dengan basis ekonomi pertanian, perikanan, dan potensi kawasan pesisir Banten, jalur tua tersebut berpeluang menjadi infrastruktur yang membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru di Banten Selatan. (Artha Tidar)
































