Menu

Mode Gelap
KA Blora Jaya Tumbuh 72,76% pada Triwulan I 2026, Perjalanan yang Menghubungkan Harapan Banyak Masyarakat KAI Kirim 780 Gerbong Datar Produk Dalam Negeri ke Palembang, Perkuat Angkutan Batu Bara dan Logistik Nasional AISMOLI Sebut Sodium Ion Pas untuk Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia ASDP Hadirkan Fasilitas Belajar Modern Inklusif, Dukung SDM Unggul CANSO Apresiasi Penerapan ATMAS AirNav Indonesia BPSDMP Kemenhub Gencar Sosialisasi SIPENCATAR 2026

RAGAM

Catatan Halimah Munawir : Algojo Anak

badge-check


 Catatan Halimah Munawir : Algojo Anak Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Dua peristiwa di penghujung 2025 seolah menampar kesadaran publik. Di Bengkulu, Agustus 2025, seorang anak perempuan membunuh ibunya. Beberapa bulan berselang, Desember 2025 di Medan, seorang anak perempuan kelas VI SD menusuk ibunya hingga tewas—di hari yang semestinya menjadi perayaan “ibu sebagai ratu sehari”. Masih di bulan yang sama, seorang remaja laki-laki menghadiahi ibunya status “janda” dengan membunuh sang ayah, seorang dosen Universitas Sumatera Utara.

Dua “kado” berdarah untuk ibu, dalam satu bulan, dari tangan anak-anak. Peristiwa itu bukan sekadar tragedi keluarga. Ia mencengangkan sekaligus mengusik nalar sosial: bagaimana mungkin anak—yang selama ini diposisikan sebagai pihak paling rentan—berubah menjadi algojo?

Jika ditarik benang merah, latar belakang para pelaku menunjukkan spektrum sebab yang kompleks. Dalam kasus Bengkulu, sang anak diketahui sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sementara pada kasus Medan, anak cilik tersebut menyimpan akumulasi rasa kesal, kecewa, dan luka batin yang terpendam—semacam trauma yang tak pernah mendapat ruang pemulihan.

Kasus ketiga memperlihatkan wajah lain dari kekerasan yang diwariskan. Sang remaja mengaku tak lagi tahan menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan ayahnya terhadap ibunya. Hari itu, kekerasan kembali terjadi, menjadi pemantik bagi “bom waktu” yang telah lama tertanam di lubuk jiwanya. Kekerasan yang terus dibiarkan, akhirnya meledak dalam bentuk yang paling ekstrem.

Fenomena ini mestinya menjadi lampu kuning—bahkan lampu merah—bagi negara. Selama ini, perlindungan anak kerap dipahami secara normatif: mencegah anak menjadi korban kekerasan fisik. Namun kasus-kasus ini menunjukkan celah besar dalam sistem: jiwa anak yang terluka sering luput dari perlindungan.

Anak-anak hidup dalam pusaran tekanan psikologis, konflik keluarga, kemiskinan emosional, dan keteladanan yang rapuh. Trauma yang dibiarkan menumpuk, tanpa pendampingan, tanpa ruang bicara, tanpa pendidikan pengelolaan emosi, berpotensi berubah menjadi kekerasan baru—bahkan terhadap orang yang paling dekat: orang tua mereka sendiri.

Sudah saatnya negara melampaui wacana teoritis perlindungan anak. Perlindungan tidak cukup hanya dengan regulasi dan slogan. Yang mendesak adalah upaya nyata melindungi kesehatan mental anak, membekali mereka dengan kemampuan mengelola emosi negatif secara sehat dan realistis.

Peran sekolah, guru, tokoh agama, rohaniwan, dan lingkungan sosial menjadi krusial. Pendidikan akhlak tidak boleh berhenti pada hafalan nilai, tetapi hadir sebagai kontrol moral dan emosional yang hidup. Anak-anak perlu diajari bukan hanya mana yang benar dan salah, tetapi juga bagaimana menghadapi marah, takut, kecewa, dan luka batin tanpa harus melukai.

Jika tidak, kekerasan akan terus beranak-pinak—diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan wajah yang kian mengerikan.

Semoga tahun 2026 tidak lagi mencatat lahirnya “algojo-anak” baru.***

Duren Sawit, 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

FIFASTRA Raih Silver WOW Brand 2026 Kategori Motorcycle Leasing

17 April 2026 - 14:49 WIB

Maret 2026, IPC TPK Jambi Catat Pertumbuhan Arus Peti Kemas 22,5 Persen

17 April 2026 - 14:10 WIB

360 PPIH Daker Madinah Siap Sukseskan Haji 2026

17 April 2026 - 12:15 WIB

Panen Melimpah Pasca Bencana, Petani Kopi Gayo Kekurangan Buruh Petik

17 April 2026 - 11:31 WIB

Bersama Rumah Aksara, Guru SMA Asah Kompetensi Menulis di Perpustakaan Bogor

17 April 2026 - 11:04 WIB

Pemulihan Pascabencana Aceh Didorong Terintegrasi, Dana Rp 824,8 Miliar Disiapkan

16 April 2026 - 20:01 WIB

Tokoh Pemuda Aceh di Jakarta Soroti Lambannya Penanganan Bencana

16 April 2026 - 18:39 WIB

Kajati Sulteng Kunker ke Tolitoli, Resmikan Mess Kejari Hasil Hibah Pemda

16 April 2026 - 16:40 WIB

HBH Seusama Jadi Momentum Penggalangan Dana Balai Pengajian, Kegiatan Digelar di Jakarta dan Aceh

16 April 2026 - 14:09 WIB

SEUSAMA Gelar Halal Bihalal dan Mulai Pembangunan Balai Pengajian di Aceh Utara

16 April 2026 - 11:35 WIB

Trending di RAGAM