Wartatrans.com, JAKARTA — Dalam komunikasi publik, seorang anchor televisi kerap terjebak pada kecenderungan untuk menselebriti. Alih-alih menggali informasi, mengajukan pertanyaan kritis, dan mengulik substansi dari narasumber yang sudah susah payah dihadirkan ke studio, justru sosok sang komunikator yang lebih menonjol.
Padahal, ada teladan baik yang pernah ditunjukkan Peter Gontha melalui QTV dengan program *IMPACT*. Kala itu, istilah podcast bahkan belum populer. Namun, Peter sudah mempraktikkan apa yang hari ini dikenal sebagai budaya podcast: menghadirkan narasumber, mengajukan pertanyaan, dan membiarkan gagasan berkembang melalui dialog. Bagi saya, Peter Gontha adalah Mbah Podcaster.
Kita juga mengenal Larry King di CNN. Ia menjadi sosok legendaris bukan semata-mata karena tampil di layar kaca, melainkan karena kemampuannya bertanya. Ia tahu bagaimana menggali pikiran, pengalaman, dan pandangan orang yang diwawancarainya.
Bertanya adalah kecerdasan. Di situlah kekuatan seorang pewawancara: bukan pada seberapa sering dirinya tampil, melainkan seberapa dalam ia mampu menggali informasi dan membuka ruang bagi publik untuk memahami persoalan.
Dalam konteks komunikasi pemerintahan, kecenderungan menselebriti ini patut menjadi bahan evaluasi. Dari era Hasan Nasbi, Angga Raka, Qodari, hingga terlebih Syahganda Nainggolan sebagai Kabakomri, ada kesan bahwa figur komunikator lebih sering menjadi sorotan. Padahal, menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, begitu banyak capaian, program, dan kebijakan yang dapat dikemas menjadi konten komunikasi publik yang menarik, substantif, dan berdampak luas.
Mengapa energi komunikasi tidak lebih banyak diarahkan untuk menghadirkan konten-konten yang keren, bermanfaat, dan memiliki daya penetrasi kuat di tengah masyarakat?
Pemerintah sesungguhnya memiliki banyak bahan. Ada kebijakan yang perlu dijelaskan, program yang perlu diperlihatkan hasilnya, persoalan yang harus dijawab, serta kerja lapangan yang layak diketahui publik. Semua itu dapat dikemas melalui video pendek, dokumenter, dialog tematik, infografik, hingga podcast yang menghadirkan pihak-pihak kompeten.
Kabakomri dapat mengambil peran sebagai pengarah dan penggerak ekosistem komunikasi tersebut. Bahkan, ketika harus tampil di televisi, penampilannya akan jauh lebih bermakna apabila membawa data, gagasan, dan konten yang menjadi rujukan publik. Kerendahan hati untuk menempatkan pesan di atas figur justru bisa menjadi kekuatan komunikasi tersendiri.
Apalagi, jika ditopang oleh mesin pemantauan terhadap berbagai isu yang sedang menjadi perhatian masyarakat, komunikasi pemerintah semestinya mampu bergerak lebih cepat, terukur, dan tepat sasaran. Isu yang sedang ramai tidak cukup direspons dengan pernyataan. Ia perlu dijawab dengan informasi yang akurat, penjelasan yang jernih, dan bukti yang dapat diperiksa publik.
Mohon maaf, inilah risiko ketika penempatan sumber daya manusia tidak sepenuhnya sesuai dengan kompetensi inti yang dibutuhkan. Dalam komunikasi publik, kekeliruan membaca peran dapat menjadi bumerang. Alih-alih memperkuat pesan pemerintah, yang muncul justru polemik tentang komunikatornya.
Terlebih ketika sebagian ruang komunikasi dipenuhi nada konfrontatif, seolah-olah setiap kritik harus dibalas dengan genderang perang. Padahal, masyarakat bukan medan tempur komunikasi. Masyarakat adalah penerima informasi yang berhak memperoleh penjelasan secara jujur, terbuka, dan masuk akal.
Komunikasi publik bukan panggung untuk membesarkan figur. Ia adalah ruang untuk membangun pemahaman, kepercayaan, dan partisipasi masyarakat.
Belajarlah dari Peter Gontha dan Larry King: kekuatan komunikasi tidak selalu terletak pada siapa yang paling banyak berbicara, tetapi pada siapa yang paling tepat bertanya dan paling mampu menghadirkan substansi.
Pemerintahan Presiden Prabowo memiliki banyak hal untuk dikomunikasikan. Tantangannya bukan sekadar siapa yang tampil di televisi, melainkan bagaimana pesan pemerintah sampai kepada masyarakat dengan cara yang cerdas, relevan, dan berdampak.
Sebab, pada akhirnya, yang seharusnya menjadi selebritas dalam komunikasi publik adalah gagasan, kerja nyata, dan manfaat bagi rakyat – bukan semata-mata orang yang menyampaikannya.***






















