Menu

Mode Gelap
Walikota Pekalongan Menentang Kebijakan WFH Pemerintah Pusat, Ada Apa ?  Hujan Es Hantam Atu Lintang, Puluhan Hektare Kebun dan Rumah Warga Rusak Sedekah Sumur Bor ke-8 Dimulai, Warga Bidari Aceh Utara Sambut Harapan Baru Pengamanan Akses Wisata Kepulauan Seribu di Dermaga Muara Angke Berjalan Aman Angkutan Lebaran 2026 KAI Cetak Rekor Tertinggi, Okupansi Harian Tembus Lebih 140% Satgas Antinarkoba Dibentuk, Pemkab Bogor Perluas Jangkauan hingga Desa

RAGAM

Catatan LK Ara: Ketika Kayu Mulai Bertanya

badge-check


 Catatan LK Ara: Ketika Kayu Mulai Bertanya Perbesar

Catata tentang Puisi, Ekologi, dan Dunia yang Memindahkan Luka

Wartatrans.com — Dalam sejarah sastra, manusia selalu menjadi pusat suara. Alam hadir sebagai latar, simbol, atau cermin perasaan. Gunung memantulkan kesunyian, sungai mengalirkan rindu, hutan menjadi metafora rahim atau misteri. Namun jarang sekali alam diberi hak paling radikal dalam sastra: hak untuk bertanya balik kepada manusia.

Puisi Gelondongan Bertanya memulai pergeseran itu. Kayu—yang biasanya dianggap benda mati, komoditas, atau bahan bangunan—dinaikkan derajatnya menjadi subjek etis. Ia tidak berteriak, tidak menuntut, tidak mengancam. Ia hanya bertanya. Dan justru di situlah letak daya gugatnya.

Kayu yang Kehilangan Nama

Dalam dunia modern, kayu kehilangan namanya segera setelah ditebang. Ia bukan lagi pohon dengan sejarah ekologis, bukan penyangga tanah, bukan rumah burung dan kabut, melainkan gelondongan. Istilah ini menandai peralihan brutal dari kehidupan ke pasar. Puisi ini menangkap momen itu dengan presisi: saat identitas ekologis diganti oleh angka, izin, dan laporan.

Di Eropa, terutama di kota-kota seperti Berlin, kayu yang ditebang pada masa industrialisasi kini hadir sebagai arsip sejarah. Ia diawetkan dalam museum, diberi keterangan, dijadikan pelajaran tentang kesalahan masa lalu. Hutan yang hilang telah menjadi memori. Rasa bersalah telah menemukan tempatnya.

Tumpukan kayu di sungai, tertahan di jembata.

Di Skandinavia, seperti Oslo, kayu hadir sebagai data. Ia direncanakan sejak benih, ditebang dengan janji ditanam ulang, dihitung dalam sistem keberlanjutan. Etika dikelola melalui grafik dan regulasi. Alam dipelihara—selama ia tetap berada dalam batas negara.

Namun puisi ini berbicara dari wilayah lain: dari tempat di mana kayu belum sempat menjadi ingatan atau data, karena ia masih menjadi luka. Dari Global South, tempat kesalahan sejarah belum selesai, hanya berpindah alamat.

Pemindahan Luka Global

Ketika negara-negara maju merapikan hutannya, dunia tidak serta-merta menjadi lebih hijau. Luka ekologis dipindahkan. Kayu yang tidak boleh ditebang di utara, hidup kembali sebagai izin di selatan. Etika yang ketat di satu wilayah sering dibayar oleh kelonggaran di wilayah lain.

Puisi ini tidak menyebut istilah “kapitalisme global” atau “neokolonialisme”. Ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih tajam: menghadirkan anak yang bertanya kepada ayahnya tentang rumah yang retak. Di hadapan pertanyaan itu, semua istilah besar menjadi tidak relevan. Yang tersisa hanya kenyataan: keputusan hari ini sedang menggerogoti masa depan yang tidak ikut rapat.

Bertanya sebagai Bentuk Perlawanan

Dalam banyak puisi protes, kemarahan menjadi energi utama. Namun Gelondongan Bertanya memilih etika lain. Ia menolak teriakan, memilih pertanyaan. Dalam tradisi sastra etis, pertanyaan adalah bentuk perlawanan paling dalam, karena ia tidak selesai dalam satu jawaban. Pertanyaan terus hidup, berpindah kepala, menolak ditutup oleh pidato atau laporan.

Ketika kayu bertanya, yang digugat bukan hanya penebang, melainkan seluruh sistem yang memungkinkan penebangan tanpa rasa bersalah. Negara, pasar, konsumen, bahkan pembaca—semuanya dipanggil tanpa dituding secara langsung.

Posisi Puisi Ini

Tema alam dalam sastra dunia memang bukan hal baru. Dari Whitman hingga Neruda, dari Rilke hingga Snyder, alam telah lama berbicara. Namun yang jarang terjadi adalah alam berbicara sebagai korban kebijakan kontemporer, dengan bahasa administratif yang dibalikkan menjadi ironi puitik: izin, laporan, timbangan, pasar.

Di sinilah puisi ini menemukan posisinya: bukan sekadar puisi ekologi, melainkan puisi etika Global South. Ia tidak meminta simpati, tidak menawarkan romantisme alam. Ia hanya mengajukan pertanyaan yang terlalu sederhana untuk diabaikan, namun terlalu dalam untuk dijawab cepat:

siapa sebenarnya
yang ditebang hari ini—
kami,
atau
masa depan?

Ketika kayu mulai bertanya, sastra tidak lagi sekadar ruang keindahan. Ia berubah menjadi ruang pertanggungjawaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Walikota Pekalongan Menentang Kebijakan WFH Pemerintah Pusat, Ada Apa ? 

4 April 2026 - 23:21 WIB

Sedekah Sumur Bor ke-8 Dimulai, Warga Bidari Aceh Utara Sambut Harapan Baru

4 April 2026 - 21:02 WIB

Satgas Antinarkoba Dibentuk, Pemkab Bogor Perluas Jangkauan hingga Desa

4 April 2026 - 18:18 WIB

Tiga Titik Tanggul Sungai Tuntang di Demak Jebol Sekaligus, Empat Kecamatan Terendam Air

4 April 2026 - 17:52 WIB

Tradisi Membaca, Memahami Kita – Memahami Gen-Z

4 April 2026 - 16:03 WIB

Pelatihan CTO Perkuat SDM Andal di Terminal Petikemas Berlian untuk Akselerasi Transformasi

3 April 2026 - 19:12 WIB

Polemik Toko Kue Gambang Semarang Kian Berkembang Liar, Owner Sesungguhnya Sulit Ditemui

3 April 2026 - 14:09 WIB

Pascagempa Sulut, PGE Pastikan PLTP Lahendong Aman dan Beroperasi Stabil

3 April 2026 - 13:42 WIB

Badai Siap Poles Peserta Band Academy Jadi Musisi Profesional

3 April 2026 - 12:27 WIB

Komunitas Seni Kuflet Gelar Tur Literasi Sumatera di Jambi, Sasar Kampus hingga Komunitas

3 April 2026 - 05:36 WIB

Trending di SENI BUDAYA