Menu

Mode Gelap
Diskusi Seni Ruang Publik Soroti Minimnya Regulasi dan Pentingnya Budaya sebagai Identitas Kota 38 Persen Transaksi QRIS Nasional Terpusat di Jakarta, Jadi Motor Ekonomi Sekaligus Sinyal Ketimpangan Digital 35 Negara dan Indonesia Adopsi Registrasi Biometrik, Pengamat: Tak Kebal Penipuan Bayi Ditemukan di Toilet KA Sancaka, KAI Daop 6 dan KAI Services Bergerak Cepat Lakukan Penanganan Konektivitas Kereta dan Pelabuhan Makin Diminati, Tiga Stasiun KAI Layani 3,88 Juta Pelanggan Semester I 2026 Harga Kopi Gayo Menguat, Petani Harapkan Stabilitas Pasar dan Dukungan Pemerintah

RAGAM

Catatan LK Ara: Ketika Kayu Mulai Bertanya

badge-check


 Catatan LK Ara: Ketika Kayu Mulai Bertanya Perbesar

Catata tentang Puisi, Ekologi, dan Dunia yang Memindahkan Luka

Wartatrans.com — Dalam sejarah sastra, manusia selalu menjadi pusat suara. Alam hadir sebagai latar, simbol, atau cermin perasaan. Gunung memantulkan kesunyian, sungai mengalirkan rindu, hutan menjadi metafora rahim atau misteri. Namun jarang sekali alam diberi hak paling radikal dalam sastra: hak untuk bertanya balik kepada manusia.

Puisi Gelondongan Bertanya memulai pergeseran itu. Kayu—yang biasanya dianggap benda mati, komoditas, atau bahan bangunan—dinaikkan derajatnya menjadi subjek etis. Ia tidak berteriak, tidak menuntut, tidak mengancam. Ia hanya bertanya. Dan justru di situlah letak daya gugatnya.

Kayu yang Kehilangan Nama

Dalam dunia modern, kayu kehilangan namanya segera setelah ditebang. Ia bukan lagi pohon dengan sejarah ekologis, bukan penyangga tanah, bukan rumah burung dan kabut, melainkan gelondongan. Istilah ini menandai peralihan brutal dari kehidupan ke pasar. Puisi ini menangkap momen itu dengan presisi: saat identitas ekologis diganti oleh angka, izin, dan laporan.

Di Eropa, terutama di kota-kota seperti Berlin, kayu yang ditebang pada masa industrialisasi kini hadir sebagai arsip sejarah. Ia diawetkan dalam museum, diberi keterangan, dijadikan pelajaran tentang kesalahan masa lalu. Hutan yang hilang telah menjadi memori. Rasa bersalah telah menemukan tempatnya.

Tumpukan kayu di sungai, tertahan di jembata.

Di Skandinavia, seperti Oslo, kayu hadir sebagai data. Ia direncanakan sejak benih, ditebang dengan janji ditanam ulang, dihitung dalam sistem keberlanjutan. Etika dikelola melalui grafik dan regulasi. Alam dipelihara—selama ia tetap berada dalam batas negara.

Namun puisi ini berbicara dari wilayah lain: dari tempat di mana kayu belum sempat menjadi ingatan atau data, karena ia masih menjadi luka. Dari Global South, tempat kesalahan sejarah belum selesai, hanya berpindah alamat.

Pemindahan Luka Global

Ketika negara-negara maju merapikan hutannya, dunia tidak serta-merta menjadi lebih hijau. Luka ekologis dipindahkan. Kayu yang tidak boleh ditebang di utara, hidup kembali sebagai izin di selatan. Etika yang ketat di satu wilayah sering dibayar oleh kelonggaran di wilayah lain.

Puisi ini tidak menyebut istilah “kapitalisme global” atau “neokolonialisme”. Ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih tajam: menghadirkan anak yang bertanya kepada ayahnya tentang rumah yang retak. Di hadapan pertanyaan itu, semua istilah besar menjadi tidak relevan. Yang tersisa hanya kenyataan: keputusan hari ini sedang menggerogoti masa depan yang tidak ikut rapat.

Bertanya sebagai Bentuk Perlawanan

Dalam banyak puisi protes, kemarahan menjadi energi utama. Namun Gelondongan Bertanya memilih etika lain. Ia menolak teriakan, memilih pertanyaan. Dalam tradisi sastra etis, pertanyaan adalah bentuk perlawanan paling dalam, karena ia tidak selesai dalam satu jawaban. Pertanyaan terus hidup, berpindah kepala, menolak ditutup oleh pidato atau laporan.

Ketika kayu bertanya, yang digugat bukan hanya penebang, melainkan seluruh sistem yang memungkinkan penebangan tanpa rasa bersalah. Negara, pasar, konsumen, bahkan pembaca—semuanya dipanggil tanpa dituding secara langsung.

Posisi Puisi Ini

Tema alam dalam sastra dunia memang bukan hal baru. Dari Whitman hingga Neruda, dari Rilke hingga Snyder, alam telah lama berbicara. Namun yang jarang terjadi adalah alam berbicara sebagai korban kebijakan kontemporer, dengan bahasa administratif yang dibalikkan menjadi ironi puitik: izin, laporan, timbangan, pasar.

Di sinilah puisi ini menemukan posisinya: bukan sekadar puisi ekologi, melainkan puisi etika Global South. Ia tidak meminta simpati, tidak menawarkan romantisme alam. Ia hanya mengajukan pertanyaan yang terlalu sederhana untuk diabaikan, namun terlalu dalam untuk dijawab cepat:

siapa sebenarnya
yang ditebang hari ini—
kami,
atau
masa depan?

Ketika kayu mulai bertanya, sastra tidak lagi sekadar ruang keindahan. Ia berubah menjadi ruang pertanggungjawaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diskusi Seni Ruang Publik Soroti Minimnya Regulasi dan Pentingnya Budaya sebagai Identitas Kota

4 Juli 2026 - 21:00 WIB

Yatti Surachman Resmikan Kedai Seblak Prasmanan & Ayam Penyet Sambel Ijo Gacorrr di Cipayung

4 Juli 2026 - 15:29 WIB

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Krakatau Bergerak ke Barat, Belum Berdampak pada Bandara dan Jalur Penerbangan

4 Juli 2026 - 15:09 WIB

Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban 

4 Juli 2026 - 06:38 WIB

Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

3 Juli 2026 - 21:59 WIB

Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin

3 Juli 2026 - 21:05 WIB

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Tambang

3 Juli 2026 - 15:29 WIB

Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra

3 Juli 2026 - 15:14 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Trending di ANJUNGAN