Wartatrans.com, JAKARTA –+ Kegiatan Halal Bihalal yang digelar Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia bukan sekadar ajang temu kangen pasca-Lebaran. Lebih dari itu, momentum ini justru dimanfaatkan sebagai titik awal pembenahan arah organisasi ke depan.
Bertempat di Humble Baker pada Minggu, 12 April 2026, acara ini memperlihatkan adanya kesadaran kolektif di tubuh FORWAN bahwa penguatan internal menjadi kebutuhan mendesak. Selama ini, dinamika organisasi dinilai belum sepenuhnya ditopang oleh rasa memiliki yang kuat dari seluruh anggota.

Ketua Umum FORWAN, Sutrisno Buyil, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya seremoni, melainkan bagian dari upaya membangun ulang kedekatan antaranggota yang sempat terhambat berbagai keterbatasan, termasuk anggaran.
Dorongan perubahan juga datang dari Dewan Kehormatan, Nina Nugroho, yang melihat bahwa lemahnya ikatan emosional menjadi salah satu faktor belum optimalnya kinerja organisasi. Menurutnya, organisasi tidak cukup hanya berjalan secara struktural, tetapi harus ditopang oleh kedekatan personal antaranggota.
Pandangan serupa disampaikan Ratna Listy yang menekankan pentingnya konsolidasi internal sebelum memperluas aktivitas eksternal. Ia mengingatkan agar FORWAN tidak terjebak pada banyaknya program tanpa keselarasan di dalam.
Di sisi lain, pembahasan juga mulai mengarah pada masa depan organisasi. dr. Dhodon menyoroti pentingnya regenerasi dengan melibatkan generasi muda yang akrab dengan dunia digital. Menurutnya, FORWAN perlu beradaptasi dengan perubahan lanskap media yang kini didominasi platform sosial.
Gagasan tersebut diperkuat oleh Budi Ace yang mengusulkan program konkret berupa workshop kreatif dengan menghadirkan praktisi industri hiburan yang sukses di dunia digital.
Dari rangkaian diskusi yang mengemuka, terlihat bahwa Halal Bihalal ini justru menjadi ruang refleksi sekaligus perumusan langkah strategis. FORWAN tampaknya mulai bergerak dari sekadar wadah profesi menjadi organisasi yang lebih adaptif, solid, dan relevan dengan perkembangan industri hiburan.
Dengan demikian, kegiatan ini bukan hanya menutup jarak antaranggota, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi organisasi ke arah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.*** (Tebe)

























