Wartatrans.com, PADANG — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif kini tidak hanya memengaruhi dunia teknologi, tetapi juga mulai mengguncang ranah kepenulisan, kepenyairan, hingga kebudayaan. Fenomena itulah yang akan menjadi pokok pembahasan dalam Orasi Budaya bertajuk “Deepfake AI dan Disrupsi Dunia Kepenulisan, Kepenyairan, dan Kebudayaan” yang akan digelar pada Selasa, 2 Juni 2026 mendatang di Convention Hall Kampus Universitas Andalas (Unand), Limau Manih, Padang.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 13.00 WIB tersebut terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Media Sumatera Barat (Hamas) bersama Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas.

Dalam orasi budaya tersebut, Riri Satria dijadwalkan menyampaikan pandangannya mengenai ancaman sekaligus tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi deepfake AI terhadap dunia kreatif dan kebudayaan. Tema ini dinilai sangat relevan di tengah kondisi ketika batas antara realitas dan rekayasa digital semakin tipis, bahkan sulit dibedakan.
“Deepfake AI bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi juga menyentuh aspek etika, keaslian karya, identitas budaya, hingga masa depan kreativitas manusia,” demikian semangat yang diangkat dalam kegiatan tersebut.
Perhelatan ini diharapkan menjadi ruang dialog yang mempertemukan kata, makna, dan zaman, sebuah ruang di mana seni dan kebudayaan tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga dipertanyakan secara kritis. Melalui forum ini, masyarakat diajak memahami bagaimana teknologi dapat memengaruhi cara manusia menulis, mencipta puisi, membangun narasi, bahkan memproduksi budaya di era digital.
Selain menjadi forum intelektual dan kebudayaan, kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Universitas Andalas yang pada tahun 2026 genap berusia 70 tahun. Tujuh dekade perjalanan Unand disebut bukan sekadar angka, melainkan akumulasi tradisi intelektual, jejak sejarah, serta kontribusi terhadap pembangunan bangsa.
Perayaan Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas sendiri mengusung semangat “Tumbuh Berdaya, Mendunia Berdampak”, yang mencerminkan tekad kampus tersebut untuk terus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam poster kegiatan yang beredar, acara ini turut mendapat dukungan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas serta Komunitas Pemerhati Sumbar. Sementara pelaksana utama kegiatan adalah Himpunan Media Sumbar.
Melalui orasi budaya ini, publik diharapkan tidak hanya memahami perkembangan AI dari sisi teknologi, tetapi juga menyadari pentingnya menjaga literasi kritis, kearifan budaya, serta nilai-nilai kemanusiaan di tengah derasnya inovasi digital.
Acara ini terbuka bagi mahasiswa, akademisi, pegiat seni, penulis, penyair, jurnalis, dan masyarakat umum yang ingin ikut berdiskusi mengenai masa depan kebudayaan di era kecerdasan buatan.*** (Ifal)



























