Menu ✖

Mode Gelap
Hamdi Afkar Hadirkan Keindahan Alam Aceh dalam Kanvas di Pameran Internasional USK Thomas Oentoro jadi Dirut Garuda Indonesia, ini Profilnya KKP Luncurkan Aturan Pengelolaan Alat Tangkap Tertinggal, Hilang, dan Rusak Krishna Sakti Buktikan Talenta Anak Indonesia, Rilis Dua Single dengan Dua Wajah Berbeda PELNI Salurkan Ribuan Life Jacket, Perkuat Kespel Masyarakat Pesisir Perlintasan Tak Dijaga Dominasi Kecelakaan, KAI Perkuat Keselamatan

Uncategorized

Catatan Iwan Piliang: Menanam Kebaikan, Menanam Kehidupan

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Menanam Kebaikan, Menanam Kehidupan Perbesar

Wartatrans.com, BALI — Ada satu gambaran tentang surga yang selalu menarik untuk direnungkan: hijau yang menenangkan dan air yang mengalir. Gambaran itu bukan hanya simbol keindahan, tetapi juga lambang kehidupan, keseimbangan, dan keberlanjutan. Dalam banyak kesempatan, gagasan sederhana itu kerap saya sampaikan kepada para pemimpin yang sedang memulai perjalanan menuju puncak kepemimpinan.

Bukan dalam bentuk teori rumit, melainkan pesan sederhana: pemimpin yang baik adalah mereka yang menghadirkan kehidupan. Kehidupan itu tampak dari lingkungan yang terawat, air yang mengalir bersih, pohon yang tumbuh, dan ruang hidup rakyat yang terasa teduh.

Pesan itu pernah saya sampaikan kepada Joko Widodo ketika awal maju sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kala itu, Jakarta sedang menghadapi banyak persoalan klasik: banjir, saluran air yang buruk, kawasan kumuh, dan ruang hijau yang semakin sempit. Di tengah hiruk-pikuk politik ibu kota, perhatian terhadap got dan saluran air mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari hal-hal mendasar itulah kualitas kepemimpinan diuji.

Dan memang, dalam perjalanan kepemimpinannya, perhatian terhadap infrastruktur dasar menjadi salah satu ciri yang menonjol. Dari normalisasi sungai hingga pembenahan ruang publik, ada pesan bahwa kota tidak bisa hanya dibangun dengan beton, tetapi juga dengan perhatian pada aliran kehidupan masyarakatnya.

Pesan serupa juga pernah saya sampaikan kepada Dedi Mulyadi ketika beliau masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta. Saat itu mungkin belum banyak yang membayangkan bagaimana gaya kepemimpinannya akan berkembang. Namun satu hal yang tampak konsisten adalah keberpihakan pada lingkungan dan identitas budaya.

Kini, publik menyaksikan bagaimana kawasan pinggir kali mulai dihijaukan, pohon-pohon ditanam, dan lanskap kota dibangun dengan pendekatan yang lebih alami. Salah satu yang menarik perhatian adalah penanaman pohon kelapa di berbagai sisi aliran sungai dan jalan. Sebuah langkah yang mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki makna simbolik yang kuat.

Indonesia sejak lama dikenal melalui ungkapan “tanah air tempat nyiur melambai.” Kalimat itu bukan sekadar romantisme lama dalam lagu dan puisi, tetapi identitas ekologis bangsa. Kelapa adalah simbol kehidupan masyarakat nusantara: akarnya menguatkan tanah, batangnya memberi manfaat, buahnya menjadi sumber kehidupan, dan daunnya digunakan dalam tradisi budaya.

Ketika pohon-pohon kelapa kembali ditanam di ruang-ruang publik, sesungguhnya ada upaya mengembalikan ingatan kolektif bangsa terhadap alamnya sendiri. Bahwa pembangunan tidak harus selalu identik dengan gedung tinggi dan beton tanpa jiwa. Pembangunan juga bisa berarti menghadirkan kembali kesejukan, keteduhan, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Hal serupa juga pernah menjadi perhatian almarhum Alex Noerdin. Banyak pemimpin datang dan pergi, tetapi jejak terbaik mereka biasanya bukan hanya proyek fisik besar, melainkan warisan cara pandang tentang kehidupan. Pemimpin yang memikirkan air, pohon, dan ruang hidup rakyat sejatinya sedang memikirkan masa depan.

Di tengah dunia yang semakin panas akibat perubahan iklim, krisis air, dan kerusakan lingkungan, perhatian terhadap hal-hal sederhana justru menjadi sangat penting. Menanam pohon, membersihkan sungai, memperbaiki saluran air, dan menghadirkan ruang hijau bukan pekerjaan kecil. Itu adalah investasi peradaban.

Karena pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau tingginya gedung pencakar langit, tetapi juga dari seberapa nyaman rakyatnya hidup. Apakah anak-anak masih bisa bermain di bawah pohon? Apakah sungai masih mengalir bersih? Apakah udara masih bisa dihirup dengan lega?

Kebaikan memang sering berawal dari gagasan sederhana. Dari percakapan kecil. Dari nasihat yang mungkin terdengar sepele. Namun jika terus disampaikan, terus diperjuangkan, dan menemukan pemimpin yang mau mendengar, maka ia bisa tumbuh menjadi gerakan besar.

Prinsipnya sederhana: jangan pernah lelah menyampaikan sesuatu yang menurut nalar kita adalah kebaikan. Sebab kebaikan yang terus ditanam, cepat atau lambat akan berakar. Dan ketika akar itu tumbuh kuat, ia akan menghadirkan kehidupan bagi banyak orang.***

Bali – 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Politikus PSI Dian Sandi: Putusan MK Bukti Negara Tidak Dikelola Amatiran

8 Oktober 2026 - 15:36 WIB

HUT ke-79 Korpasgat, Donor Darah Serentak Digelar di Lhokseumawe

8 Oktober 2026 - 15:31 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Dorong Pengelolaan Sampah Jawa Barat Tuntas dari Hulu Hingga Hilir

8 Oktober 2026 - 10:59 WIB

WASPADA ! Udara di Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama Masuk Kategori BERBAHAYA pada 9 Oktober 2026

8 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Di Tengah Kekeringan Hampir Empat Bulan, PUPR2KP  Alirkan Air Bersih ke Kampung Lusiferi

8 Oktober 2026 - 10:41 WIB

PERADI: Kantor Hukum Tidak Boleh Menjadi Sarana Menampung atau Menyamarkan Dana Hasil Kejahatan

8 Oktober 2026 - 10:36 WIB

Trenggono Tekankan Komunikasi Publik untuk Kawal Enam Program Prioritas KKP

8 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja

8 Oktober 2026 - 00:22 WIB

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Trending di ANJUNGAN