Menu

Mode Gelap
Akhyar Kamil Kecam Pembatasan Kehadiran Warga Aceh pada Mubes PP TIM Haji Fikri Sampaikan Ucapan HUT ke-81 Jawa Barat Semoga Semakin Maju dan Masyarakat Semakin Sejahtera OJK: Perusahaan Modal Ventura Berizin Berada dalam Pengawasan Ayo Serbu 390 Ribu Kursi Promo di Garuda Indonesia Travel Festival KAI Kembangkan TOD Manggarai Seluas 129 Hektare, Integrasikan KRL hingga TransJakarta Tak Bisa Berangkat Sesuai Jadwal? KAI Daop 1 Jakarta Sediakan Layanan Batal dan Reschedule Tiket

Uncategorized

Catatan Iwan Piliang: Menanam Kebaikan, Menanam Kehidupan

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Menanam Kebaikan, Menanam Kehidupan Perbesar

Wartatrans.com, BALI — Ada satu gambaran tentang surga yang selalu menarik untuk direnungkan: hijau yang menenangkan dan air yang mengalir. Gambaran itu bukan hanya simbol keindahan, tetapi juga lambang kehidupan, keseimbangan, dan keberlanjutan. Dalam banyak kesempatan, gagasan sederhana itu kerap saya sampaikan kepada para pemimpin yang sedang memulai perjalanan menuju puncak kepemimpinan.

Bukan dalam bentuk teori rumit, melainkan pesan sederhana: pemimpin yang baik adalah mereka yang menghadirkan kehidupan. Kehidupan itu tampak dari lingkungan yang terawat, air yang mengalir bersih, pohon yang tumbuh, dan ruang hidup rakyat yang terasa teduh.

Pesan itu pernah saya sampaikan kepada Joko Widodo ketika awal maju sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kala itu, Jakarta sedang menghadapi banyak persoalan klasik: banjir, saluran air yang buruk, kawasan kumuh, dan ruang hijau yang semakin sempit. Di tengah hiruk-pikuk politik ibu kota, perhatian terhadap got dan saluran air mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari hal-hal mendasar itulah kualitas kepemimpinan diuji.

Dan memang, dalam perjalanan kepemimpinannya, perhatian terhadap infrastruktur dasar menjadi salah satu ciri yang menonjol. Dari normalisasi sungai hingga pembenahan ruang publik, ada pesan bahwa kota tidak bisa hanya dibangun dengan beton, tetapi juga dengan perhatian pada aliran kehidupan masyarakatnya.

Pesan serupa juga pernah saya sampaikan kepada Dedi Mulyadi ketika beliau masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta. Saat itu mungkin belum banyak yang membayangkan bagaimana gaya kepemimpinannya akan berkembang. Namun satu hal yang tampak konsisten adalah keberpihakan pada lingkungan dan identitas budaya.

Kini, publik menyaksikan bagaimana kawasan pinggir kali mulai dihijaukan, pohon-pohon ditanam, dan lanskap kota dibangun dengan pendekatan yang lebih alami. Salah satu yang menarik perhatian adalah penanaman pohon kelapa di berbagai sisi aliran sungai dan jalan. Sebuah langkah yang mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki makna simbolik yang kuat.

Indonesia sejak lama dikenal melalui ungkapan “tanah air tempat nyiur melambai.” Kalimat itu bukan sekadar romantisme lama dalam lagu dan puisi, tetapi identitas ekologis bangsa. Kelapa adalah simbol kehidupan masyarakat nusantara: akarnya menguatkan tanah, batangnya memberi manfaat, buahnya menjadi sumber kehidupan, dan daunnya digunakan dalam tradisi budaya.

Ketika pohon-pohon kelapa kembali ditanam di ruang-ruang publik, sesungguhnya ada upaya mengembalikan ingatan kolektif bangsa terhadap alamnya sendiri. Bahwa pembangunan tidak harus selalu identik dengan gedung tinggi dan beton tanpa jiwa. Pembangunan juga bisa berarti menghadirkan kembali kesejukan, keteduhan, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Hal serupa juga pernah menjadi perhatian almarhum Alex Noerdin. Banyak pemimpin datang dan pergi, tetapi jejak terbaik mereka biasanya bukan hanya proyek fisik besar, melainkan warisan cara pandang tentang kehidupan. Pemimpin yang memikirkan air, pohon, dan ruang hidup rakyat sejatinya sedang memikirkan masa depan.

Di tengah dunia yang semakin panas akibat perubahan iklim, krisis air, dan kerusakan lingkungan, perhatian terhadap hal-hal sederhana justru menjadi sangat penting. Menanam pohon, membersihkan sungai, memperbaiki saluran air, dan menghadirkan ruang hijau bukan pekerjaan kecil. Itu adalah investasi peradaban.

Karena pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau tingginya gedung pencakar langit, tetapi juga dari seberapa nyaman rakyatnya hidup. Apakah anak-anak masih bisa bermain di bawah pohon? Apakah sungai masih mengalir bersih? Apakah udara masih bisa dihirup dengan lega?

Kebaikan memang sering berawal dari gagasan sederhana. Dari percakapan kecil. Dari nasihat yang mungkin terdengar sepele. Namun jika terus disampaikan, terus diperjuangkan, dan menemukan pemimpin yang mau mendengar, maka ia bisa tumbuh menjadi gerakan besar.

Prinsipnya sederhana: jangan pernah lelah menyampaikan sesuatu yang menurut nalar kita adalah kebaikan. Sebab kebaikan yang terus ditanam, cepat atau lambat akan berakar. Dan ketika akar itu tumbuh kuat, ia akan menghadirkan kehidupan bagi banyak orang.***

Bali – 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Akhyar Kamil Kecam Pembatasan Kehadiran Warga Aceh pada Mubes PP TIM

20 Agustus 2026 - 00:18 WIB

Haji Fikri Sampaikan Ucapan HUT ke-81 Jawa Barat Semoga Semakin Maju dan Masyarakat Semakin Sejahtera

19 Agustus 2026 - 22:35 WIB

Percepat Respons Darurat Gempa NTT, IDSurvey Group Salurkan 2,4 Ton Bantuan melalui BNPB

19 Agustus 2026 - 18:55 WIB

Pelindo Raih Apresiasi atas Dukungan Mudik Gratis Sulsel 2026

19 Agustus 2026 - 17:19 WIB

PFN Targetkan Bioskop Sinewara Beroperasi 2027

19 Agustus 2026 - 14:07 WIB

Perayaan Hari Didong Didorong Miliki Landasan Perda

19 Agustus 2026 - 13:17 WIB

KKP Kibarkan Merah Putih di Perairan Teluk Banten

19 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Meriahkan HUT Ke-81 RI, Terminal Teluk Lamong Gelar Beragam Lomba dan Pesta Rakyat

18 Agustus 2026 - 21:53 WIB

IPCC Perkuat Keselamatan Kerja TKBM melalui Pelatihan Basic K3

18 Agustus 2026 - 21:44 WIB

Pesan Rakyat Aceh Kepada Juha Christensen

18 Agustus 2026 - 19:40 WIB

Trending di RAGAM