Menu

Mode Gelap
Patroli Dialogis Polsubsektor Inggom, Wujudkan Keamanan dan Ketertiban di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok KA Rajabasa Layani 221 Ribu Pelanggan pada Triwulan I 2026, Mobilitas Warga Sumatra Selatan Meningkat Pengukuhan GLS SIGMA SMPIT Sinergi IBS dan Pembekalan TALENTA 2026 Bersama GLN GAREULIS Nasional Di Tengah Kenaikan Harga BBM, PRESSOLIND Diesel Tawarkan Solusi Efisiensi bagi Pengguna Kendaraan Ati Ganda Siap Berbagi Pengalaman di Diskusi Kartini Seni Musik dan Film 2026 KAI Daop 7 Imbau Penumpang Datang Lebih Awal ke Stasiun Kediri karena Agenda Kelas Malam

RAGAM

Depok di Persimpangan Ekologi: Tanah Terlalu Subur, Risiko Pohon Tumbang Meningkat

badge-check


 Depok di Persimpangan Ekologi: Tanah Terlalu Subur, Risiko Pohon Tumbang Meningkat Perbesar

 

Wartatrans.com DEPOK  — Kota Depok menyimpan paradoks ekologis yang jarang disadari publik. Tanahnya dikenal sangat subur dan ideal untuk pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Namun, kondisi yang tampak sebagai anugerah ini justru menimbulkan potensi bencana baru: meningkatnya risiko pohon tumbang, terutama saat cuaca ekstrem.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Abdurahman (Abra), dalam perbincangan dengan wartatrans.com di Balai Kota Depok, Kamis (11/12/2025).

Menurut riset yang dimiliki DLHK, sekitar 60 persen wilayah Depok berada di ketinggian 110 mdpl, sehingga secara teoritis Depok tidak seharusnya mengalami banjir besar.

“Secara topografi, Depok idealnya tidak banjir. Ini yang menjadi pertanyaan, sekaligus pekerjaan rumah yang harus kami jawab,” ujar Abra.

Ia menegaskan bahwa akar persoalan banjir Depok tidak hanya bergantung pada faktor alam, tetapi lebih pada manajemen tata ruang, kapasitas drainase, dan tekanan urbanisasi.

Abra menjelaskan, 72 persen tanah Depok merupakan tanah merah dari material tuf vulkanik, yang kaya mineral dan sangat mendukung pertumbuhan tanaman.

Namun, tanah yang subur ini membuat pepohonan tumbuh cepat, besar, dan rimbun—meningkatkan risiko tumbang saat angin kencang atau hujan ekstrem. DLHK mencatat saat ini mereka tengah memelihara 27.797 pohon di seluruh wilayah kota.

“Semakin subur tanahnya, semakin cepat pohon berkembang. Tapi bila tidak diimbangi pemangkasan, penguatan akar, dan tata ruang yang tepat, risikonya meningkat,” jelas Abra.

Karena itu, DLHK memperkuat upaya mitigasi risiko, mulai dari pendataan hingga pemeriksaan berkala, pemangkasan rutin, hingga identifikasi titik rawan.

Abra menegaskan bahwa mitigasi pohon tumbang bukan hanya soal pemangkasan pohon, tetapi juga penataan lingkungan sekitar pohon. Area yang tertutup bangunan, perubahan kontur tanah, hingga pengerasan lahan tanpa resapan dapat membuat akar kehilangan kekuatannya.

“Kami menilai pohon bukan hanya sebagai peneduh, tapi juga sebagai struktur ekologis yang harus dikelola dengan benar,” ujarnya.

Program ‘Satu Minggu Satu Tabebuya’ untuk Identitas Kota

Sementara banyak kota memilih menanam pohon buah untuk memperkuat ketahanan pangan, Depok memilih pendekatan berbeda. Abra menyebut penanaman pohon buah membutuhkan area luas dan perawatan intensif, sehingga tidak selalu cocok untuk ruang kota yang terbatas.

Karena itu, DLHK mendorong program “Satu Minggu, Satu Tabebuya”, tanaman yang dikenal memiliki mahkota indah dan dapat tumbuh di ruang sempit.

“Tabebuya mudah tumbuh, kuat, dan memiliki estetika tinggi. Kami ingin Depok bukan hanya hijau, tapi juga indah dan punya identitas visual,” kata Abra.

Paradoks tanah subur dan risiko ekologis menunjukkan bahwa Depok tidak hanya membutuhkan penghijauan, tetapi juga pengelolaan lingkungan berbasis sains.

DLHK menegaskan komitmennya untuk menjadikan Depok kota yang tidak hanya hijau, tetapi juga tangguh menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pengukuhan GLS SIGMA SMPIT Sinergi IBS dan Pembekalan TALENTA 2026 Bersama GLN GAREULIS Nasional

19 April 2026 - 08:59 WIB

Di Tengah Kenaikan Harga BBM, PRESSOLIND Diesel Tawarkan Solusi Efisiensi bagi Pengguna Kendaraan

19 April 2026 - 08:39 WIB

Melalui TJSL, Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Perkuat Pelestarian Terumbu Karang dan Ekosistem Laut Kepulauan Seribu

18 April 2026 - 19:09 WIB

Mahasiswa FH Unsyiah Perdalam Peran Advokat dalam Perkara Narkotika Jelang Moot Court Competition XI

18 April 2026 - 17:29 WIB

AHY Ingin Partai Demokrat Membirukan Jawa Tengah, Rinto Subekti Jadi Calon Tunggal Ketua DPD

18 April 2026 - 16:38 WIB

Distribusi Bantuan untuk Warga Lubok Pusaka Terus Berlanjut, Sumur Bor hingga Terpal Disalurkan

18 April 2026 - 15:27 WIB

GLN Gareulis Luncurkan TALENTA 2026, Dorong Literasi sebagai Gerakan Transformatif

18 April 2026 - 15:00 WIB

Tani Merdeka Aceh Tengah Terdepan Menjaga Kedaulatan Pangan

18 April 2026 - 12:11 WIB

Zakat untuk Guru Al-Quran di Gaza, Menjaga Nyala Pendidikan di Tengah Krisis

18 April 2026 - 10:31 WIB

FIFASTRA Raih Silver WOW Brand 2026 Kategori Motorcycle Leasing

17 April 2026 - 14:49 WIB

Trending di EKOBIS