Menu

Mode Gelap
Semester I 2026 Layani 1,39 Juta Pelanggan, KAI Siapkan Dukungan untuk Kajian KA Sumut-Aceh Akhirnya, Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus Mahalnya Hak Siar FIFA dan Agresi Raksasa Streaming, TVRI Pertaruhkan Rp1,3 Triliun demi Piala Dunia 2026 Wali Kota Langsa Serahkan Seragam Sekolah Gratis bagi Anak Yatim Piatu di Langsa Lama Lelang Frekuensi 700 MHz-26 GHz: Ajukan Rp5,458 Triliun, Telkomsel Kuasai “Jalur Emas” Dari Manggarai ke Kiaracondong: 5.484 Rusun TOD PT KAI Jadi Ramah Kantong atau Jerat Lahan HPL ?

RAGAM

Depok di Persimpangan Ekologi: Tanah Terlalu Subur, Risiko Pohon Tumbang Meningkat

badge-check


 Depok di Persimpangan Ekologi: Tanah Terlalu Subur, Risiko Pohon Tumbang Meningkat Perbesar

 

Wartatrans.com DEPOK  — Kota Depok menyimpan paradoks ekologis yang jarang disadari publik. Tanahnya dikenal sangat subur dan ideal untuk pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Namun, kondisi yang tampak sebagai anugerah ini justru menimbulkan potensi bencana baru: meningkatnya risiko pohon tumbang, terutama saat cuaca ekstrem.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Abdurahman (Abra), dalam perbincangan dengan wartatrans.com di Balai Kota Depok, Kamis (11/12/2025).

Menurut riset yang dimiliki DLHK, sekitar 60 persen wilayah Depok berada di ketinggian 110 mdpl, sehingga secara teoritis Depok tidak seharusnya mengalami banjir besar.

“Secara topografi, Depok idealnya tidak banjir. Ini yang menjadi pertanyaan, sekaligus pekerjaan rumah yang harus kami jawab,” ujar Abra.

Ia menegaskan bahwa akar persoalan banjir Depok tidak hanya bergantung pada faktor alam, tetapi lebih pada manajemen tata ruang, kapasitas drainase, dan tekanan urbanisasi.

Abra menjelaskan, 72 persen tanah Depok merupakan tanah merah dari material tuf vulkanik, yang kaya mineral dan sangat mendukung pertumbuhan tanaman.

Namun, tanah yang subur ini membuat pepohonan tumbuh cepat, besar, dan rimbun—meningkatkan risiko tumbang saat angin kencang atau hujan ekstrem. DLHK mencatat saat ini mereka tengah memelihara 27.797 pohon di seluruh wilayah kota.

“Semakin subur tanahnya, semakin cepat pohon berkembang. Tapi bila tidak diimbangi pemangkasan, penguatan akar, dan tata ruang yang tepat, risikonya meningkat,” jelas Abra.

Karena itu, DLHK memperkuat upaya mitigasi risiko, mulai dari pendataan hingga pemeriksaan berkala, pemangkasan rutin, hingga identifikasi titik rawan.

Abra menegaskan bahwa mitigasi pohon tumbang bukan hanya soal pemangkasan pohon, tetapi juga penataan lingkungan sekitar pohon. Area yang tertutup bangunan, perubahan kontur tanah, hingga pengerasan lahan tanpa resapan dapat membuat akar kehilangan kekuatannya.

“Kami menilai pohon bukan hanya sebagai peneduh, tapi juga sebagai struktur ekologis yang harus dikelola dengan benar,” ujarnya.

Program ‘Satu Minggu Satu Tabebuya’ untuk Identitas Kota

Sementara banyak kota memilih menanam pohon buah untuk memperkuat ketahanan pangan, Depok memilih pendekatan berbeda. Abra menyebut penanaman pohon buah membutuhkan area luas dan perawatan intensif, sehingga tidak selalu cocok untuk ruang kota yang terbatas.

Karena itu, DLHK mendorong program “Satu Minggu, Satu Tabebuya”, tanaman yang dikenal memiliki mahkota indah dan dapat tumbuh di ruang sempit.

“Tabebuya mudah tumbuh, kuat, dan memiliki estetika tinggi. Kami ingin Depok bukan hanya hijau, tapi juga indah dan punya identitas visual,” kata Abra.

Paradoks tanah subur dan risiko ekologis menunjukkan bahwa Depok tidak hanya membutuhkan penghijauan, tetapi juga pengelolaan lingkungan berbasis sains.

DLHK menegaskan komitmennya untuk menjadikan Depok kota yang tidak hanya hijau, tetapi juga tangguh menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Akhirnya, Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus

11 Juli 2026 - 07:53 WIB

Jum’at Berkah Aceh Bangun Ukhuwah Lewat Segelas Kopi dan Sepotong Kue di Masjid tansaran 

10 Juli 2026 - 20:37 WIB

Nobar Perempatfinal Hingga Final Piala Dunia 2026 Dihadirkan InJourney Airports di 7 Bandara

10 Juli 2026 - 18:55 WIB

Febrie Setelah Digeledah Tegaskan Tidak Mundur, Penanganan Kasus Asabri hingga MBG Tetap Berjalan

10 Juli 2026 - 18:07 WIB

Omah Jangan Diam Terus, Resto di Depok yang Menyajikan Kelezatan, Perjalanan, dan Nilai Kemanusiaan

10 Juli 2026 - 17:05 WIB

Pelita Air Hadirkan Senandung Musikal Maliq & D’Essentials di Penerbangan

10 Juli 2026 - 15:42 WIB

Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel Meninggal Dunia di Usia 63 Tahun

10 Juli 2026 - 09:27 WIB

Sengkarut 4 Blok Lahan Kosong Negara di Kemayoran: Ketegasan Negara Menghilang?

10 Juli 2026 - 09:11 WIB

Pasar K-Culture Melejit, Destinasi Baru Incar Cuan di Jakarta

10 Juli 2026 - 04:10 WIB

Sabet Penghargaan, Model 3R mGanik Jadi Terobosan Kebuntuan Diabetes Tipe 2

10 Juli 2026 - 04:05 WIB

Trending di RAGAM