Menu

Mode Gelap
Evakuasi Ibu Hamil di Tengah Bencana, Bayi Lahir Selamat di RSUD Datu Beru Takengon KAI Daop 1 Jakarta Siapkan 158.959 Kursi Selama Libur Panjang Isra Miraj Sambut Libur Panjang Isra’ Mi’raj, KAI Daop 6 Kerahkan KA Tambahan KAI Siapkan 649.780 Tempat Duduk pada Libur Panjang Isra Mikraj, Mobilitas Liburan Kian Lancar Perlindungan Konsumen Penerbangan Butuh Revolusi Regulasi Kementerian-KP Bongkar Impor 99 Ton Ikan Ilegal di Pelabuhan Tanjung Priok

RAGAM

Depok di Persimpangan Ekologi: Tanah Terlalu Subur, Risiko Pohon Tumbang Meningkat

badge-check


					Depok di Persimpangan Ekologi: Tanah Terlalu Subur, Risiko Pohon Tumbang Meningkat Perbesar

 

Wartatrans.com DEPOK  — Kota Depok menyimpan paradoks ekologis yang jarang disadari publik. Tanahnya dikenal sangat subur dan ideal untuk pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Namun, kondisi yang tampak sebagai anugerah ini justru menimbulkan potensi bencana baru: meningkatnya risiko pohon tumbang, terutama saat cuaca ekstrem.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Abdurahman (Abra), dalam perbincangan dengan wartatrans.com di Balai Kota Depok, Kamis (11/12/2025).

Menurut riset yang dimiliki DLHK, sekitar 60 persen wilayah Depok berada di ketinggian 110 mdpl, sehingga secara teoritis Depok tidak seharusnya mengalami banjir besar.

“Secara topografi, Depok idealnya tidak banjir. Ini yang menjadi pertanyaan, sekaligus pekerjaan rumah yang harus kami jawab,” ujar Abra.

Ia menegaskan bahwa akar persoalan banjir Depok tidak hanya bergantung pada faktor alam, tetapi lebih pada manajemen tata ruang, kapasitas drainase, dan tekanan urbanisasi.

Abra menjelaskan, 72 persen tanah Depok merupakan tanah merah dari material tuf vulkanik, yang kaya mineral dan sangat mendukung pertumbuhan tanaman.

Namun, tanah yang subur ini membuat pepohonan tumbuh cepat, besar, dan rimbun—meningkatkan risiko tumbang saat angin kencang atau hujan ekstrem. DLHK mencatat saat ini mereka tengah memelihara 27.797 pohon di seluruh wilayah kota.

“Semakin subur tanahnya, semakin cepat pohon berkembang. Tapi bila tidak diimbangi pemangkasan, penguatan akar, dan tata ruang yang tepat, risikonya meningkat,” jelas Abra.

Karena itu, DLHK memperkuat upaya mitigasi risiko, mulai dari pendataan hingga pemeriksaan berkala, pemangkasan rutin, hingga identifikasi titik rawan.

Abra menegaskan bahwa mitigasi pohon tumbang bukan hanya soal pemangkasan pohon, tetapi juga penataan lingkungan sekitar pohon. Area yang tertutup bangunan, perubahan kontur tanah, hingga pengerasan lahan tanpa resapan dapat membuat akar kehilangan kekuatannya.

“Kami menilai pohon bukan hanya sebagai peneduh, tapi juga sebagai struktur ekologis yang harus dikelola dengan benar,” ujarnya.

Program ‘Satu Minggu Satu Tabebuya’ untuk Identitas Kota

Sementara banyak kota memilih menanam pohon buah untuk memperkuat ketahanan pangan, Depok memilih pendekatan berbeda. Abra menyebut penanaman pohon buah membutuhkan area luas dan perawatan intensif, sehingga tidak selalu cocok untuk ruang kota yang terbatas.

Karena itu, DLHK mendorong program “Satu Minggu, Satu Tabebuya”, tanaman yang dikenal memiliki mahkota indah dan dapat tumbuh di ruang sempit.

“Tabebuya mudah tumbuh, kuat, dan memiliki estetika tinggi. Kami ingin Depok bukan hanya hijau, tapi juga indah dan punya identitas visual,” kata Abra.

Paradoks tanah subur dan risiko ekologis menunjukkan bahwa Depok tidak hanya membutuhkan penghijauan, tetapi juga pengelolaan lingkungan berbasis sains.

DLHK menegaskan komitmennya untuk menjadikan Depok kota yang tidak hanya hijau, tetapi juga tangguh menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Evakuasi Ibu Hamil di Tengah Bencana, Bayi Lahir Selamat di RSUD Datu Beru Takengon

14 Januari 2026 - 06:58 WIB

Pelindo Hadir di Tengah Banjir Tanjung Priok, Ringankan Beban Warga Lewat Bantuan Pangan

13 Januari 2026 - 16:47 WIB

Polsek Kawasan Muara Baru Sigap Bantu Warga Terdampak Genangan Rob dan Hujan

13 Januari 2026 - 16:39 WIB

KIP Perintahkan KPU Memberikan Informasi Salinan Ijasah Sarjana Jokowi ke Publik

13 Januari 2026 - 14:36 WIB

BPS Provinsi Kalbar Rilis Gambaran Terkini Kondisi Ketenagakerjaan

13 Januari 2026 - 14:32 WIB

Trending di RAGAM