Wartatrans.com, BANDUNG — Gerakan Literasi Nasional (GLN) Gareulis meluncurkan program TALENTA 2026 melalui kegiatan Launching dan Diklat I yang digelar secara daring, Sabtu, 18 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong partisipasi aktif generasi muda dan masyarakat dalam meningkatkan indeks literasi, minat baca, serta pengembangan budaya literasi.
Acara yang dipusatkan dari Aula Balairung Lantai 3 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Kota Bandung ini diikuti peserta dari berbagai daerah melalui Zoom Meeting. Sejak pagi, peserta mulai bergabung dengan identitas institusi masing-masing, diiringi penampilan gamelan dari SMP YAS.

Pembukaan berlangsung singkat, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Gareulis, serta doa bersama. Suasana kemudian berlanjut ke sesi opening launching TALENTA 2026 yang ditampilkan oleh SMP Negeri 18 Bandung.
Ketua panitia dalam laporannya menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat gerakan literasi nasional. Setelah itu, sambutan disampaikan oleh Ketua Dewan Pembina GLN Gareulis, Dr. H. Syahrir, serta Gubernur Jawa Barat, H. Dedi Mulyadi. Keduanya menyoroti literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia di tengah arus digitalisasi.
Ketua GLN Gareulis Nasional, Hj. R. Yulia Yulianti, dalam pidato kunci bertajuk Strategi GLN Mewujudkan Generasi dan Masyarakat Literat, menekankan bahwa literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan harus menjadi gerakan transformatif yang menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Memasuki sesi materi, Herlina Mustikasari membawakan topik literasi sebagai gerakan transformatif, termasuk penguatan literasi digital dan pemanfaatan e-library.
“Literasi hari ini harus mampu menjawab tantangan zaman. Tidak cukup hanya membaca, tetapi bagaimana masyarakat bisa memilah informasi dan memanfaatkannya secara produktif,” ujarnya dalam sesi diskusi yang dimoderatori Esih Sukaesih.
Sesi berikutnya diisi Prof. Dr. Cecep Darmawan yang mengulas kebijakan pemerintah terkait Gerakan Literasi Nasional serta implementasinya di sekolah. Ia menekankan pentingnya peran guru dalam membangun budaya baca sejak dini.
“Sekolah harus menjadi ruang hidup literasi. Metode seperti read aloud bukan sekadar teknik, tetapi cara membangun kedekatan siswa dengan bacaan,” katanya.
Setelah jeda, peserta kembali mengikuti materi praktik pengelolaan website media TALENTA yang disampaikan Yayan Mulyana. Ia menyoroti pentingnya penguasaan media digital sebagai sarana publikasi.
“Platform digital harus dimanfaatkan sebagai ruang ekspresi karya sekaligus memperluas jangkauan gerakan literasi,” ujarnya.
Pada sesi penutup materi, penulis Putra Gara membawakan pelatihan menulis puisi, sajak, dan pantun. Ia mendorong peserta untuk berani mengekspresikan gagasan melalui karya sastra.
“Menulis adalah cara paling jujur untuk merekam realitas. Dari puisi, kita belajar merasakan dan memahami kehidupan,” katanya.
Kegiatan ditutup dengan sesi informasi teknis lomba serta penutupan resmi. Melalui TALENTA 2026, GLN Gareulis berharap lahir generasi literat yang tidak hanya cakap membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.*** (Susi)

























