GAZA — Di tengah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan, sebanyak 60 guru Al-Quran dan pengajar tahfizh di Jalur Gaza menerima bantuan zakat mal dari Lembaga Amil Zakat Nasional Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) bekerja sama dengan KITA Palestina. Bantuan disalurkan melalui mitra lokal di wilayah utara dan selatan Gaza.
Para penerima merupakan laki-laki dan perempuan yang masuk kategori asnaf fisabilillah—kelompok yang berjuang di jalan Allah. Mereka selama ini tetap mengajar di tengah keterbatasan ekstrem: kekurangan pangan, krisis air bersih, rusaknya fasilitas pendidikan, serta hilangnya sumber penghidupan.

Mitra lokal WIZ di Gaza, Syekh Belal dari DQWS, mengatakan bantuan tersebut menjadi penopang penting bagi para pengajar. “Ini ditujukan bagi guru ngaji dan pengajar tahfizh yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Mereka menjaga generasi, tetapi juga membutuhkan dukungan untuk bertahan hidup,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Jumat, 17 April 2026.

Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, Zaitun Rasmin, menyebut bantuan itu sebagai bentuk solidaritas umat Islam Indonesia terhadap Palestina. Ia menilai peran guru Al-Quran di Gaza tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga penjaga ketahanan spiritual masyarakat di tengah konflik.
“Dengan mendukung mereka, kita memastikan anak-anak Gaza tetap berinteraksi dengan Al-Quran meski berada dalam situasi perang dan blokade,” kata Zaitun.
Direktur WIZ, Syahruddin, memastikan distribusi zakat telah diterima langsung oleh para guru di dua wilayah tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa kebutuhan di Gaza masih jauh dari terpenuhi. “Kami berharap dukungan masyarakat Indonesia terus berlanjut,” ujarnya.
Selain penyaluran zakat, Wahdah Islamiyah bersama Komite Solidaritas Palestina dan WIZ juga menjalankan sejumlah program kemanusiaan lain, seperti dapur umum, distribusi sembako dan buah, serta pembangunan kembali masjid yang rusak.
Di saat yang sama, lembaga ini juga membuka partisipasi publik melalui program Sedekah Daging Palestina. Program itu ditujukan untuk membantu pemenuhan gizi para pengungsi, terutama anak-anak, dengan kontribusi donasi yang relatif kecil per paketnya.
Bagi para guru di Gaza, bantuan tersebut bukan sekadar tambahan penghasilan. Di tengah reruntuhan dan ketidakpastian, ia menjadi penanda bahwa mereka tidak sepenuhnya sendiri.***
Laporan: Humas WIZ & KITA Palestina

























