Menu ✖

Mode Gelap
Menhub Dudy Pastikan Diskon Perjalanan di Libur Nataru Kembali Ada Kemenhub Perkuat Aksi Nyata Penanganan Kendaraan ODOL di Jatim Catatan Iwan Piliang: Nazali Lempo untuk Jaksa Agung – Menguji Kapasitas, Integritas, dan Kepastian Hukum Naik JakLingko dari Stasiun MRT Mulai Senin dapat Gunakan Semua Jenis Kartu Uang Elektronik Nazali Lempo dan Wacana Jaksa Agung: Pengalaman Militer, Kepastian Hukum, dan Perluasan Peran TNI di Era Prabowo Kemenhub Perkuat Standar Pedoman Alat Penolong Kapal

BANDARA

Di Mandailing Natal Pesawat Sudah Mendarat, Apakah Ekosistem Siap Terbang?

badge-check


 Di Mandailing Natal Pesawat Sudah Mendarat, Apakah Ekosistem Siap Terbang? Perbesar

Oleh: Ludfan Nasution

Penerbangan perdana hanyalah garis start. Yang menentukan masa depan Bandara AH Nasution adalah konsistensi membangun ekosistemnya.

Wartatrans.com, SUMUT — Sebuah pesawat ATR Wings Air akhirnya menyentuh landasan Bandara AH Nasution (JHN). Siraman water salute menyambut kedatangannya. Tepuk tangan pecah. Senyum para pejabat mengembang. Masyarakat menyaksikan dengan penuh harapan.

Mimpi panjang tentang keterhubungan Mandailing Natal dengan dunia luar terasa selangkah lebih nyata. Momentum itu patut dirayakan.

Namun, sejarah pembangunan mengajarkan satu pelajaran penting: yang paling sulit bukan membangun bandara, melainkan membuat bandara tetap hidup.

Bandara yang sepi bukan semata-mata karena landasannya kurang panjang atau terminalnya kurang megah. Bandara menjadi sepi ketika daerah di sekitarnya gagal menciptakan alasan agar orang datang, tinggal, berbelanja, berwisata, berinvestasi, lalu kembali lagi.

Di sinilah pertanyaan besar mulai layak diajukan: Apakah Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal telah memiliki konsistensi yang cukup untuk membangun ekosistem Bandara AH Nasution?

Pertanyaan ini bukan untuk mengecilkan keberhasilan penerbangan perdana. Justru sebaliknya. Karena penerbangan sudah dimulai, maka saatnya publik berbicara tentang pekerjaan yang sesungguhnya.

Selama ini, pembicaraan mengenai bandara lebih banyak berhenti pada persoalan infrastruktur: terminal, landasan, jadwal penerbangan hingga seremoni penyambutan.

Padahal, maskapai tidak mempertahankan sebuah rute hanya karena seremoni. Maskapai bertahan karena kursi penumpang terisi, arus barang bergerak, kegiatan ekonomi tumbuh, dan pasar terus tersedia.

Artinya, keberhasilan Bandara AH Nasution sangat bergantung pada hadirnya sebuah ekosistem ekonomi dan sosial yang kuat.

Ekosistem itu bukan hanya urusan Dinas Perhubungan. Ia melibatkan Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian, pelaku hotel dan restoran, biro perjalanan, komunitas, media, perguruan tinggi, Pokdarwis hingga masyarakat desa.

Semuanya harus bergerak dalam satu orkestrasi. Jika setiap sektor berjalan sendiri-sendiri, bandara berisiko hanya menjadi tempat pesawat datang dan pergi, tanpa memberikan dampak ekonomi yang maksimal bagi daerah.

Menariknya, bahkan sebelum penerbangan perdana Wings Air dilaksanakan, Gerep Institute telah berinisiatif menawarkan konsep kegiatan untuk menyemarakkan sekaligus menjadi pemantik awal ekosistem Bandara AH Nasution.

Gagasan tersebut dibahas dalam sebuah pertemuan dengan Kepala Dinas Perhubungan yang juga merangkap Asisten III. Bagi Gerep Institute, langkah itu merupakan bentuk partisipasi masyarakat sipil yang ingin ikut memikul tanggung jawab pembangunan daerah.

Yang ditawarkan bukan sekadar kegiatan seremonial. Gagasan besarnya adalah membangun sebuah gerakan jangka panjang yang dapat menciptakan “mesin” bagi bandara: menghadirkan penumpang, menggerakkan kegiatan ekonomi, mempromosikan pariwisata, membuka ruang bagi UMKM, serta memperluas jejaring kolaborasi antarlembaga.

Namun, setelah pembahasan tersebut, tindak lanjut yang diharapkan belum terlihat. Upaya meminta kejelasan mengenai kelanjutan pembicaraan pun belum memperoleh respons sebagaimana yang diharapkan.

Tentu saja, bisa terdapat alasan administratif, teknis maupun pertimbangan kebijakan di balik situasi tersebut.

Tetapi pengalaman itu memunculkan pertanyaan yang lebih besar: Seberapa terbuka ruang kolaborasi yang disediakan pemerintah bagi masyarakat sipil yang ingin ikut membangun ekosistem bandara?

Pertanyaan ini penting. Sebab membangun bandara tidak mungkin hanya menjadi pekerjaan pemerintah.

Ia membutuhkan sebuah orkestra besar yang melibatkan banyak pemain. Pemerintah tetap menjadi dirigen. Tetapi musik pembangunan tidak akan terdengar maksimal apabila para pemain yang telah membawa instrumennya justru dibiarkan menunggu tanpa aba-aba.

Karena itu, setelah penerbangan perdana, ukuran keberhasilan harus mulai bergeser. Bukan lagi sekadar: “Apakah pesawat sudah bisa mendarat?”

Melainkan: “Apakah Mandailing Natal mampu menciptakan cukup banyak alasan agar pesawat itu terus datang?”

Apakah wisatawan memiliki alasan untuk berkunjung? Apakah investor melihat peluang? Apakah UMKM memiliki akses pasar? Apakah hotel dan restoran mendapatkan manfaat? Apakah produk pertanian dan komoditas lokal bisa ikut bergerak? Apakah biro perjalanan mampu menciptakan paket wisata? Apakah masyarakat lokal menjadi bagian dari rantai ekonomi yang tumbuh?

Dan yang tidak kalah penting: apakah pemerintah, dunia usaha, komunitas, akademisi, media dan masyarakat sipil memiliki ruang yang cukup untuk duduk bersama dan bekerja dalam satu agenda?

Di situlah masa depan Bandara AH Nasution sesungguhnya ditentukan. Sebab keberhasilan sebuah bandara tidak semata-mata diukur dari panjang landasan, megahnya terminal atau meriahnya seremoni penerbangan perdana.

Keberhasilan bandara diukur dari seberapa hidup ekosistem yang tumbuh di sekelilingnya.

Pesawat telah mendarat. Kini pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih penting: Apakah ekosistem Mandailing Natal juga benar-benar siap terbang?***

(Penulis adalah Pemerhati Kebijakan Publik, wartawan Wartatrans.com biro Sumatera Utara)

Baca Lainnya

Menhub Dudy Pastikan Diskon Perjalanan di Libur Nataru Kembali Ada

10 Oktober 2026 - 18:27 WIB

Jadi Panelis Forum ICAO 2026, Dirop AirNav Paparkan Penerapan FRTO di Wilayah Kepulauan

10 Oktober 2026 - 11:24 WIB

Yes, MotoGP Mandalika 2026 Gairahkan Penerbangan

9 Oktober 2026 - 15:29 WIB

Optimalkan Layanan Berbasis Teknologi AI, AirNav–Telkom University Perkuat Riset dan Pengembangan

8 Oktober 2026 - 21:26 WIB

TJSL Bandara Soekarno-Hatta, Perkuat Kontribusi bagi Masyarakat

8 Oktober 2026 - 13:51 WIB

Kemenhub Dorong Layanan Penumpang Lebih Mudah dan Terintegrasi saat di Bandara

8 Oktober 2026 - 05:12 WIB

Bandara Lombok Sambut Kedatangan Ofisial, Kru, Pembalap, dan Kargo MotoGP 2026

7 Oktober 2026 - 16:53 WIB

Garuda Indonesia Group Siapkan 14 Ribu Kursi, Antisipasi Lonjakan Jelang MotoGP Mandalika

7 Oktober 2026 - 14:47 WIB

GMF Teken Pengembangan Operasional MRO di Oman

5 Oktober 2026 - 16:54 WIB

InJourney Airports Pastikan Kesiapan 3 Bandara Dukung MotoGP Mandalika

4 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Trending di BANDARA