Oleh: Ludfan Nasution
100 Hari Ini Menentukan Masa Depan Bandara AH Nasution.

Wartatrans.com, SUMUT — Penerbangan perdana Wings Air, melengkapi layanan Susi Air yang telah beroperasi selama setahun, akhirnya berlangsung.
Euforia boleh. Tepuk tangan juga wajar. Tetapi setelah pesawat mendarat dan seremoni selesai, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai.
Bandara AH Nasution (JHN) kini memasuki fase yang jauh lebih berat: bagaimana memastikan bandara ini hidup dan terus digunakan.
Sebab banyak daerah di Indonesia pernah meresmikan bandara dengan gegap gempita. Namun setelah itu, frekuensi penerbangan berkurang, keterisian penumpang menurun, dan aktivitas ekonomi di sekitar bandara tidak tumbuh sebagaimana yang diharapkan.
Mandailing Natal tidak boleh mengulangi cerita tersebut. Karena itu, keberhasilan Bandara JHN tidak boleh diukur hanya dari satu hal: pesawat berhasil mendarat.
Ukuran sesungguhnya adalah apakah bandara mampu menjadi pintu masuk bagi pertumbuhan ekonomi baru.
100 Hari yang Menentukan
Seratus hari pertama setelah penerbangan perdana harus menjadi masa konsolidasi.
Bukan sekadar rapat mengevaluasi penerbangan, tetapi rapat besar untuk memastikan seluruh kekuatan daerah bergerak dalam satu irama.
Pemerintah daerah, OPD, pelaku usaha, pariwisata, UMKM, pertanian, perdagangan, kebudayaan, perguruan tinggi, komunitas, media, hingga masyarakat sipil harus melihat bandara sebagai kepentingan bersama.
Bandara bukan hanya urusan Dinas Perhubungan. Pariwisata harus bergerak. UMKM harus siap. Pertanian dan perdagangan harus mengambil peluang. Kebudayaan harus menjadi daya tarik. Perguruan tinggi dapat menyediakan gagasan dan riset. Komunitas dapat menghidupkan destinasi. Media memperkuat promosi dan membangun narasi.
Jika semua berjalan sendiri-sendiri, bandara hanya menjadi tempat pesawat datang dan pergi. Tetapi jika semua bergerak bersama, bandara dapat menjadi pintu masuk ekonomi baru Mandailing Natal.
Pemerintah Harus Menjadi Dirigen
Pembangunan bandara membutuhkan orkestrasi. Bayangkan seorang dirigen berdiri di depan panggung. Di hadapannya ada biola, piano, drum, dan berbagai alat musik lain.
Masing-masing pemain mungkin hebat. Tetapi tanpa komposisi dan aba-aba yang sama, yang terdengar hanyalah kebisingan.
Begitu pula dengan bandara. Pemerintah daerah adalah dirigen. OPD, pelaku usaha, Pokdarwis, UMKM, komunitas, media, akademisi, dan masyarakat adalah para pemainnya.
Keberhasilan tidak ditentukan oleh siapa yang paling menonjol, tetapi oleh kemampuan memainkan satu komposisi bersama.
MEP dan Alasan Orang Harus Datang
Dalam konteks itulah gagasan Mandailing Experience Project (MEP) menemukan relevansinya.
MEP tidak semestinya dipahami sebagai festival sehari atau seremoni penyambutan tamu.
MEP harus menjadi kerangka kolaborasi jangka panjang yang menghubungkan pariwisata, kebudayaan, UMKM, ekonomi kreatif, transportasi, promosi, dan bandara dalam satu ekosistem.
Bandara adalah pintu. Tetapi setelah melewati pintu itu, wisatawan harus menemukan alasan untuk tinggal.
Ada desa wisata yang siap menerima tamu. Ada Pokdarwis yang terlatih. Ada produk UMKM yang layak jual. Ada kalender budaya yang terjadwal. Ada wisata alam. Ada kuliner khas. Ada transportasi yang nyaman. Ada informasi digital yang mudah ditemukan.
Dengan kata lain, MEP bukan membangun bandara. MEP membangun alasan agar bandara terus digunakan.
Tidak Perlu Berjalan Sendiri
Ekosistem tidak harus dibangun pemerintah seorang diri. Komunitas, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, pelaku usaha, dan media memiliki energi serta gagasan yang dapat menjadi modal sosial.
Semakin banyak pihak merasa memiliki bandara ini, semakin besar peluang keberhasilannya.
Karena itu, tugas pemerintah bukan mengerjakan semuanya sendiri. Tugas pemerintah adalah membuka ruang, menyatukan langkah, dan mengorkestrasi seluruh energi yang sudah tersedia.
Jangan Menunggu Krisis
Jangan sampai pembicaraan tentang ekosistem baru dimulai ketika frekuensi penerbangan sudah dikurangi atau tingkat keterisian penumpang mulai menurun.
Saat itu, semua orang akan sibuk mencari penyebab. Padahal, banyak persoalan bisa dicegah sejak sekarang.
Momentum penerbangan perdana adalah kesempatan emas untuk membangun fondasi.
Bandara AH Nasution telah membuka pintu langit bagi Mandailing Natal. Kini tantangannya bukan lagi bagaimana membuat pesawat datang untuk pertama kali.
Tantangannya adalah bagaimana memastikan setiap penerbangan berikutnya selalu memiliki alasan untuk kembali.
Sebab masa depan sebuah bandara tidak ditentukan semata oleh panjang landasannya. Masa depannya ditentukan oleh luasnya kolaborasi yang tumbuh di sekelilingnya.***

Ludfan Nasution
(Penulis adalah jurnalis, tinggal di Madina – Sumatera Utara)






























