Menu

Mode Gelap
Gerakan Penanganan dari Hulu Ke Hilir menuju Kendaraan Zero ODOL 2027 KAI Wisata Hadirkan “Scenic Chill April Thrill”, Tawarkan Perjalanan Premium Mulai Rp300 Ribu Operasi Gaktibplin dan Tes Urine di Polsek Sunda Kelapa Seluruh Personel Negatif Narkoba Indonesia AirAsia Sesuaikan Jadwal, Janji Layanan Tetap Terjaga 12 Kepala Keluarga di Selmak Lubok Pusaka Masih Bertahan di Bawah Terpal Pasca Bencana Titi DJ: Mental Jadi Penentu Peserta Raih Gelar Jawara

RAGAM

Excavator Nyaris Terseret Banjir di Sungai Burlah yang Meluap

badge-check


 Excavator Nyaris Terseret Banjir di Sungai Burlah yang Meluap Perbesar

Wartatrans.com, TAKENGON – lagi lagi sungai burlah meluap,sebuah eskalator yang sedang bekerja memperbaiki jembatan darurat nyaris terbawa arus.

Empat desa di Kecamatan Ketol kembali terisolir setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Tingginya curah hujan membuat aliran sungai di kawasan Berawang kembali meluap dan berarus deras. Akibatnya, akses jalan penghubung antara Berawang dan Burlah rusak parah dan tidak bisa dilalui.

Bahkan, satu unit alat berat jenis ekskavator yang tengah melakukan perbaikan jalan nyaris hanyut terseret derasnya arus sungai.

Seorang warga mengungkapkan kondisi mencekam yang dialaminya saat hendak pulang.

“Saya dari Bintang Pepara, mau pulang ke huntara jalan tengah, terperangkap di sana, tidak bisa lewat. Akhirnya nyebrang pakai tali, kereta ditinggal di Burlah,” ujarnya.

Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat lumpuh total. Warga kesulitan keluar masuk desa, termasuk untuk keperluan penting seperti berobat, sekolah, hingga mengangkut hasil pertanian.

Jika hujan kembali turun, kondisi jalan semakin parah dan bahkan tidak bisa dilalui kendaraan roda dua sekalipun.

Selain itu, distribusi bahan pokok ikut terganggu sehingga berpotensi menyebabkan kenaikan harga di wilayah terdampak.

Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat untuk melakukan penanganan darurat, mengingat kondisi ini kerap terjadi dan sangat merugikan masyarakat.

Saat ini, warga hanya bisa mengandalkan jalur alternatif yang berisiko tinggi, bahkan harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi sungai menggunakan tali.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

12 Kepala Keluarga di Selmak Lubok Pusaka Masih Bertahan di Bawah Terpal Pasca Bencana

7 April 2026 - 15:49 WIB

Titi DJ: Mental Jadi Penentu Peserta Raih Gelar Jawara

7 April 2026 - 15:25 WIB

Perkuat Kualitas Pelayanan, Pelindo Regional 2 Sunda Kelapa Gelar Sosialisasi Prosedur Kapal Penumpang

7 April 2026 - 14:02 WIB

DLH Aceh Barat Terapkan Sanksi Denda bagi Pembuang Sampah Sembarangan di Meulaboh

7 April 2026 - 06:01 WIB

Ahmad Dhani Meyakini Faktor Rejeki Penentu Seorang Bisa Menjadi Penyanyi Populer

7 April 2026 - 05:09 WIB

Istana Di Tengah Hutan Borneo

6 April 2026 - 09:05 WIB

Atas Intervensi Presiden Prabowo, Makam Serka Anumerta M. Nur Ichwan Digeser dari TPU ke TMP

5 April 2026 - 16:19 WIB

Teater Puisi “Sengkewe Sepanjang Musim” Hidupkan Ruang Publik Takengon

5 April 2026 - 08:15 WIB

Walikota Pekalongan Menentang Kebijakan WFH Pemerintah Pusat, Ada Apa ? 

4 April 2026 - 23:21 WIB

Sedekah Sumur Bor ke-8 Dimulai, Warga Bidari Aceh Utara Sambut Harapan Baru

4 April 2026 - 21:02 WIB

Trending di RAGAM