Menu

Mode Gelap
Jalan Mustapa DG. Bunga Rusak Parah Selama Dua Tahun, Warga Tomang Polong Minta Pemkab Gowa Segera Bertindak Aceh Tamiang Mencekam Dilanda Banjir, Warga Butuh Makanan dan Air Bersih Ribuan Warga Terisolir di Perbatasan Bener Meriah–Aceh Utara, Persediaan Pangan Habis PMI Evakuasi Lima Jenazah Korban Banjir, BFLF Lhokseumawe–Aceh Utara Salurkan Bantuan Hingga Menjadi Call Center Darurat Kuflet Siapkan Penerbitan Antologi Puisi Bencana “Air Mata Sumatera” Banjir Putuskan Akses Aceh Tamiang, Warga Masih Terisolir

Uncategorized

Festival Negeri Linge untuk Pelestarian Budaya Gayo

badge-check


					Festival Negeri Linge untuk Pelestarian Budaya Gayo Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Festival Negeri Linge harus digelar di kawasan dataran tinggi yang sarat sejarah ini. Masyarakat Gayo menilai kehadiran festival bukan sekadar hiburan, melainkan sarana penting untuk melestarikan adat, memperkuat persaudaraan, dan mendukung ekonomi lokal. Hal itu dikemukakan penyair dan budayawan LK. Ara pada Selasa (25/11/2025).

Menurut penyair yang sudah berkarya melintasi tiga orde (orde lama, orde baru, dan orde Reformasi) menjelaskan, melalui tari, syair, dan musik tradisi, festival ini berupaya menelusuri kembali jejak leluhur yang pernah membangun Negeri Linge sebagai pusat peradaban Gayo. Panitia menyebut festival menjadi ruang untuk mengingat dan memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

“Sejumlah kesenian tradisional seperti Didong dan Tari Guel ditampilkan di panggung terbuka. Pelaku seni menyambut baik momentum ini sebagai cara menghidupkan kembali seni yang sebelumnya banyak terpinggirkan oleh perkembangan zaman,” ungkap LK Ara.

Lebih jauh LK Ara menambahkan  Gestival Negeri Linge juga menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat Gayo baik dari wilayah Linge, Isaq, Lut Tawar, Rusip maupun warga perantauan. Mereka berkumpul untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat identitas bersama.

Selain atraksi budaya, kegiatan ini turut membuka peluang usaha kecil menengah. Masyarakat setempat menjajakan produk unggulan seperti kopi, madu hutan, serta kerajinan kerawang Gayo kepada para pengunjung, sehingga ekonomi lokal ikut terdongkrak.

Bagi anak-anak dan pelajar, festival menjadi sumber belajar terbuka. Mereka diperkenalkan pada sejarah para reje (raja), bahasa Gayo, serta nilai adat melalui pementasan hingga penuturan para tetua.

Kehadiran wisatawan dan tamu dari luar daerah membuat festival ini menjadi sarana diplomasi budaya. Para pengunjung mendapatkan gambaran langsung mengenai kehidupan masyarakat Gayo yang ramah dan berpegang pada adat.

Festival turut menggaungkan pesan pelestarian lingkungan, mengingat wilayah Linge berdekatan dengan kawasan hutan Leuser. Panitia menekankan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan masyarakat.

“Festival Negeri Linge dapat terus menjadi agenda rutin yang menjaga hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Gayo. Selain melestarikan tradisi, festival dinilai sebagai simbol kebanggaan daerah yang terus menyala dari generasi ke generasi,” tutup LK Ara. *** (Jasa)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jalan Mustapa DG. Bunga Rusak Parah Selama Dua Tahun, Warga Tomang Polong Minta Pemkab Gowa Segera Bertindak

1 Desember 2025 - 06:02 WIB

Ribuan Warga Terisolir di Perbatasan Bener Meriah–Aceh Utara, Persediaan Pangan Habis

30 November 2025 - 22:24 WIB

PMI Evakuasi Lima Jenazah Korban Banjir, BFLF Lhokseumawe–Aceh Utara Salurkan Bantuan Hingga Menjadi Call Center Darurat

30 November 2025 - 21:02 WIB

Kuflet Siapkan Penerbitan Antologi Puisi Bencana “Air Mata Sumatera”

30 November 2025 - 20:39 WIB

Banjir Putuskan Akses Aceh Tamiang, Warga Masih Terisolir

30 November 2025 - 20:20 WIB

Trending di PERISTIWA