Menu

Mode Gelap
Security KAI Gagalkan Pencurian Kabel Grounding LRT Jabodebek Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket

Uncategorized

Festival Negeri Linge untuk Pelestarian Budaya Gayo

badge-check


 Festival Negeri Linge untuk Pelestarian Budaya Gayo Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Festival Negeri Linge harus digelar di kawasan dataran tinggi yang sarat sejarah ini. Masyarakat Gayo menilai kehadiran festival bukan sekadar hiburan, melainkan sarana penting untuk melestarikan adat, memperkuat persaudaraan, dan mendukung ekonomi lokal. Hal itu dikemukakan penyair dan budayawan LK. Ara pada Selasa (25/11/2025).

Menurut penyair yang sudah berkarya melintasi tiga orde (orde lama, orde baru, dan orde Reformasi) menjelaskan, melalui tari, syair, dan musik tradisi, festival ini berupaya menelusuri kembali jejak leluhur yang pernah membangun Negeri Linge sebagai pusat peradaban Gayo. Panitia menyebut festival menjadi ruang untuk mengingat dan memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

“Sejumlah kesenian tradisional seperti Didong dan Tari Guel ditampilkan di panggung terbuka. Pelaku seni menyambut baik momentum ini sebagai cara menghidupkan kembali seni yang sebelumnya banyak terpinggirkan oleh perkembangan zaman,” ungkap LK Ara.

Lebih jauh LK Ara menambahkan  Gestival Negeri Linge juga menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat Gayo baik dari wilayah Linge, Isaq, Lut Tawar, Rusip maupun warga perantauan. Mereka berkumpul untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat identitas bersama.

Selain atraksi budaya, kegiatan ini turut membuka peluang usaha kecil menengah. Masyarakat setempat menjajakan produk unggulan seperti kopi, madu hutan, serta kerajinan kerawang Gayo kepada para pengunjung, sehingga ekonomi lokal ikut terdongkrak.

Bagi anak-anak dan pelajar, festival menjadi sumber belajar terbuka. Mereka diperkenalkan pada sejarah para reje (raja), bahasa Gayo, serta nilai adat melalui pementasan hingga penuturan para tetua.

Kehadiran wisatawan dan tamu dari luar daerah membuat festival ini menjadi sarana diplomasi budaya. Para pengunjung mendapatkan gambaran langsung mengenai kehidupan masyarakat Gayo yang ramah dan berpegang pada adat.

Festival turut menggaungkan pesan pelestarian lingkungan, mengingat wilayah Linge berdekatan dengan kawasan hutan Leuser. Panitia menekankan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan masyarakat.

“Festival Negeri Linge dapat terus menjadi agenda rutin yang menjaga hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat Gayo. Selain melestarikan tradisi, festival dinilai sebagai simbol kebanggaan daerah yang terus menyala dari generasi ke generasi,” tutup LK Ara. *** (Jasa)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

16 Agustus 2026 - 22:20 WIB

Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat

16 Agustus 2026 - 21:55 WIB

3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops

16 Agustus 2026 - 21:07 WIB

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

16 Agustus 2026 - 16:35 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Trending di RAGAM