Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Upaya pelestarian cagar budaya di Aceh Tengah terus digalakkan melalui kegiatan gotong royong yang melibatkan komunitas seni dan masyarakat desa. Sanggar Kuta Dance Teater bersama warga Desa Jongok, Mendale, Pateri Pukes, Toweren, dan Gunung Suku melakukan kerja bersama di sejumlah lokasi cagar budaya yang tersebar di wilayah tersebut.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh sebagai bagian dari program penguatan peran masyarakat dalam menjaga warisan budaya. Gotong royong dilakukan dengan membersihkan area situs, menata lingkungan sekitar, serta melakukan pendataan awal kondisi cagar budaya.

Pimpinan Sanggar Kuta Dance Teater – Ana Kobat menyebutkan, keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci utama dalam pelestarian cagar budaya. “Situs-situs ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga bagian dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat Aceh Tengah,” ujarnya di sela kegiatan.

Kolaborasi dengan warga, Sanggar Kuta Dance gotong royong bersihkan cagar budaya.
Desa-desa yang terlibat dikenal memiliki kedekatan historis dengan situs-situs cagar budaya peninggalan peradaban Gayo. Selama ini, sejumlah lokasi tersebut menghadapi tantangan kerusakan akibat faktor alam dan minimnya perawatan rutin.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh menegaskan bahwa pendekatan gotong royong dipilih untuk menumbuhkan rasa memiliki di tengah masyarakat. “Pelestarian tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat adalah penjaga pertama kebudayaan,” katanya.
Selain kerja fisik, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi budaya, khususnya bagi generasi muda desa, agar memahami nilai sejarah dan pentingnya menjaga situs cagar budaya secara berkelanjutan.
Gotong royong lintas desa ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara komunitas seni, masyarakat, dan pemerintah dalam menjaga warisan budaya Aceh Tengah agar tetap hidup dan lestari di tengah perubahan zaman.*** (Jasa)























