Menu ✖

Mode Gelap
Karhutla Tembus 10 Hektare di Bagendang, Kalteng 30 Hektare Lahan Meikarta Disiapkan untuk Rumah Subsidi KA Joglosemarkerto Layani 1,10 Juta Pelanggan, Tumbuh 9,73 Persen Sepanjang 2026 Peduli Generasi Muda, Pengurus FORWAN Gelar Pelatihan Citizen Journalism dan Content Creator di Masjid Kereta Regional Jadi Pilihan Perjalanan Antarkota, KAI Layani 5,57 Juta Pelanggan Estafet Kepemimpinan Garuda Indonesia, Menilik Kiprah Fadjar dan Glenny Mengawal Pemulihan

SENI BUDAYA

Gotong Royong Rawat Cagar Budaya Aceh Tengah, Sanggar Kuta Dance Teater Libatkan Warga

badge-check


 Gotong Royong Rawat Cagar Budaya Aceh Tengah, Sanggar Kuta Dance Teater Libatkan Warga Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Upaya pelestarian cagar budaya di Aceh Tengah terus digalakkan melalui kegiatan gotong royong yang melibatkan komunitas seni dan masyarakat desa. Sanggar Kuta Dance Teater bersama warga Desa Jongok, Mendale, Pateri Pukes, Toweren, dan Gunung Suku melakukan kerja bersama di sejumlah lokasi cagar budaya yang tersebar di wilayah tersebut.

Kegiatan ini difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh sebagai bagian dari program penguatan peran masyarakat dalam menjaga warisan budaya. Gotong royong dilakukan dengan membersihkan area situs, menata lingkungan sekitar, serta melakukan pendataan awal kondisi cagar budaya.

Pimpinan Sanggar Kuta Dance Teater – Ana Kobat menyebutkan, keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci utama dalam pelestarian cagar budaya. “Situs-situs ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga bagian dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat Aceh Tengah,” ujarnya di sela kegiatan.

Kolaborasi dengan warga, Sanggar Kuta Dance gotong royong bersihkan cagar budaya.

Desa-desa yang terlibat dikenal memiliki kedekatan historis dengan situs-situs cagar budaya peninggalan peradaban Gayo. Selama ini, sejumlah lokasi tersebut menghadapi tantangan kerusakan akibat faktor alam dan minimnya perawatan rutin.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh menegaskan bahwa pendekatan gotong royong dipilih untuk menumbuhkan rasa memiliki di tengah masyarakat. “Pelestarian tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat adalah penjaga pertama kebudayaan,” katanya.

Selain kerja fisik, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi budaya, khususnya bagi generasi muda desa, agar memahami nilai sejarah dan pentingnya menjaga situs cagar budaya secara berkelanjutan.

Gotong royong lintas desa ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara komunitas seni, masyarakat, dan pemerintah dalam menjaga warisan budaya Aceh Tengah agar tetap hidup dan lestari di tengah perubahan zaman.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Karhutla Tembus 10 Hektare di Bagendang, Kalteng

12 Oktober 2026 - 05:09 WIB

Peduli Generasi Muda, Pengurus FORWAN Gelar Pelatihan Citizen Journalism dan Content Creator di Masjid

12 Oktober 2026 - 01:25 WIB

Executive Director 4 Pelindo Paparkan Peran Hukum dalam Bisnis BUMN di FH Unhas

11 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Kenalkan Energi Masa Depan, DAMRI Hadirkan Bus H2 DDF di Hydrogen Day 2026

11 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Mardani Ali Sera Ungkap Komunikasi Antarfraksi DPR, Wacana Pansus dan Hak Angket Gibran Mengemuka

11 Oktober 2026 - 15:26 WIB

​Putra Aceh Dr. (Cand) Khaidir Abdurrahman Jalani Upacara Dipeusijuek Sebagai Anggota BPK RI

11 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Ode Untuk Namamu, Ketika Puisi dan Lukisan Merayakan Cinta serta Perjuangan

11 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Pompa Air Sempat Gangguan, Fasilitas Toilet dan Musala Stasiun Jatinegara Kembali Normal

11 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Demokrat Belum Bersikap Soal Pemakzulan Gibran, Soliditas Koalisi Prabowo Jadi Sorotan

11 Oktober 2026 - 10:45 WIB

​46 Tahun Sanggar Matahari: Merawat Seni, Sastra, dan Kemanusiaan Bersama Lintas Generasi

11 Oktober 2026 - 10:03 WIB

Trending di SENI BUDAYA