Menu

Mode Gelap
Diskusi Seni Ruang Publik Soroti Minimnya Regulasi dan Pentingnya Budaya sebagai Identitas Kota 38 Persen Transaksi QRIS Nasional Terpusat di Jakarta, Jadi Motor Ekonomi Sekaligus Sinyal Ketimpangan Digital 35 Negara dan Indonesia Adopsi Registrasi Biometrik, Pengamat: Tak Kebal Penipuan Bayi Ditemukan di Toilet KA Sancaka, KAI Daop 6 dan KAI Services Bergerak Cepat Lakukan Penanganan Konektivitas Kereta dan Pelabuhan Makin Diminati, Tiga Stasiun KAI Layani 3,88 Juta Pelanggan Semester I 2026 Harga Kopi Gayo Menguat, Petani Harapkan Stabilitas Pasar dan Dukungan Pemerintah

SENI BUDAYA

Gotong Royong Rawat Cagar Budaya Aceh Tengah, Sanggar Kuta Dance Teater Libatkan Warga

badge-check


 Gotong Royong Rawat Cagar Budaya Aceh Tengah, Sanggar Kuta Dance Teater Libatkan Warga Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Upaya pelestarian cagar budaya di Aceh Tengah terus digalakkan melalui kegiatan gotong royong yang melibatkan komunitas seni dan masyarakat desa. Sanggar Kuta Dance Teater bersama warga Desa Jongok, Mendale, Pateri Pukes, Toweren, dan Gunung Suku melakukan kerja bersama di sejumlah lokasi cagar budaya yang tersebar di wilayah tersebut.

Kegiatan ini difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh sebagai bagian dari program penguatan peran masyarakat dalam menjaga warisan budaya. Gotong royong dilakukan dengan membersihkan area situs, menata lingkungan sekitar, serta melakukan pendataan awal kondisi cagar budaya.

Pimpinan Sanggar Kuta Dance Teater – Ana Kobat menyebutkan, keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci utama dalam pelestarian cagar budaya. “Situs-situs ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga bagian dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat Aceh Tengah,” ujarnya di sela kegiatan.

Kolaborasi dengan warga, Sanggar Kuta Dance gotong royong bersihkan cagar budaya.

Desa-desa yang terlibat dikenal memiliki kedekatan historis dengan situs-situs cagar budaya peninggalan peradaban Gayo. Selama ini, sejumlah lokasi tersebut menghadapi tantangan kerusakan akibat faktor alam dan minimnya perawatan rutin.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh menegaskan bahwa pendekatan gotong royong dipilih untuk menumbuhkan rasa memiliki di tengah masyarakat. “Pelestarian tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat adalah penjaga pertama kebudayaan,” katanya.

Selain kerja fisik, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi budaya, khususnya bagi generasi muda desa, agar memahami nilai sejarah dan pentingnya menjaga situs cagar budaya secara berkelanjutan.

Gotong royong lintas desa ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara komunitas seni, masyarakat, dan pemerintah dalam menjaga warisan budaya Aceh Tengah agar tetap hidup dan lestari di tengah perubahan zaman.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diskusi Seni Ruang Publik Soroti Minimnya Regulasi dan Pentingnya Budaya sebagai Identitas Kota

4 Juli 2026 - 21:00 WIB

Yatti Surachman Resmikan Kedai Seblak Prasmanan & Ayam Penyet Sambel Ijo Gacorrr di Cipayung

4 Juli 2026 - 15:29 WIB

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Krakatau Bergerak ke Barat, Belum Berdampak pada Bandara dan Jalur Penerbangan

4 Juli 2026 - 15:09 WIB

Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban 

4 Juli 2026 - 06:38 WIB

Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

3 Juli 2026 - 21:59 WIB

Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin

3 Juli 2026 - 21:05 WIB

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Tambang

3 Juli 2026 - 15:29 WIB

Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra

3 Juli 2026 - 15:14 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Trending di ANJUNGAN