Menu

Mode Gelap
KAI Wisata Gandeng Jakarta Infrastruktur Propertindo, Hadirkan Integrasi Transportasi Wisata dan Media Iklan Digital Meningkat, Pengguna Commuter Line Jabodetabek Tembus 86,8 Juta pada Triwulan I 2026 Dica Melo Sukses Sebagai Brand Ambassador, Kembali Dikontrak Meinl. Jumat Berkah di Tanjung Priok: Wujud Kepedulian Polri Pererat Silaturahmi dengan Masyarakat KA Blora Jaya Tumbuh 72,76% pada Triwulan I 2026, Perjalanan yang Menghubungkan Harapan Banyak Masyarakat KAI Kirim 780 Gerbong Datar Produk Dalam Negeri ke Palembang, Perkuat Angkutan Batu Bara dan Logistik Nasional

PERISTIWA

Gunung Gadung: Dari Benteng Pajajaran ke Ruang Sunyi Ingatan

badge-check


 Gunung Gadung: Dari Benteng Pajajaran ke Ruang Sunyi Ingatan Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Tak jauh dari Rancamaya, sebuah kawasan perbukitan bernama Gunung Gadung kini lebih dikenal sebagai kompleks pemakaman Tionghoa. Nisan-nisan batu berdiri rapat, menandai kematian satu demi satu. Namun jauh sebelum fungsi itu melekat, Gunung Gadung adalah lanskap hidup—tanah subur dengan pepohonan rimbun, denyut kehidupan, sekaligus ruang persembunyian terakhir bangsawan Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Dalam catatan pantun Sunda dan tradisi tutur Bogor, Gunung Gadung menempati posisi penting pada fase runtuhnya Pajajaran. Di bukit inilah, seorang puteri kerajaan bersama para santana bersembunyi, menghindari pasukan Banten yang menyerbu ibu kota Pakuan melalui Lawang Gintung. Dari ketinggian bukit, mereka menyaksikan sendiri pusat kekuasaan Sunda itu dilalap api.

Pantun Bogor Dadap Malang Sisi Cimandiri menyebut Gunung Gadung sebagai saksi perlawanan Nyi Puteri Purnamasari, Rakean Kalang Sunda, dan Rahyang Kumbang Bagus Setra. Dari sana, kobaran api terlihat melahap panca persada Pakuan—Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati—dalam satu malam yang menentukan akhir sebuah kerajaan.

Kesaksian kehancuran itu tidak hanya hadir dalam narasi sejarah, tetapi juga dalam gambaran puitik juru pantun. Malam Gunung Gadung digambarkan bukan sebagai malam yang hening, melainkan malam yang penuh suara alam yang gelisah: binatang liar berhamburan, burung malam bersahutan, anjing hutan mendengus lapar. Api dan darah mengubah lanskap menjadi ruang ketakutan.

Dalam transkripsi Aki Bajurambeng Pakulonan Jasinga yang dicatat Muchtar Kala, kaki Gunung Gadung bahkan menjadi medan kematian. Mayat berserakan, darah mengalir, dan binatang buas turun memangsa tubuh-tubuh yang belum sempat dikubur. Sejarah di sini tidak tampil sebagai kisah heroik, melainkan sebagai luka terbuka yang dibiarkan membusuk di ingatan kolektif.

Ironisnya, justru ingatan itulah yang perlahan menghilang. Gunung Gadung yang dahulu menjadi benteng alam dan titik penting jalur pelarian menuju Pakidulan—kini Pelabuhan Ratu—nyaris tak menyisakan penanda sejarah. Tidak ada prasasti, tidak ada penunjuk situs, tidak pula narasi resmi yang menghubungkan ruang ini dengan peristiwa besar runtuhnya Pajajaran.

Yang tersisa hanyalah tanah sunyi dengan deretan makam. Ruang yang dulu menyimpan teriakan, api, dan darah kini menjadi tempat hening, terputus dari konteks sejarahnya sendiri. Gunung Gadung seolah mengalami pemutusan ingatan—sebuah tragedi kedua setelah kehancuran Pajajaran: hilangnya makna.

Di sinilah Gunung Gadung berdiri hari ini, bukan hanya sebagai lokasi pemakaman, tetapi sebagai simbol bagaimana sejarah dapat tergeser oleh waktu dan perubahan fungsi ruang. Ia tetap menyimpan cerita, namun tak lagi banyak yang mau mendengar. Dan seperti api yang pernah melahap Pakuan, ingatan tentangnya perlahan padam—tanpa suara.*** (BS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

FIFASTRA Raih Silver WOW Brand 2026 Kategori Motorcycle Leasing

17 April 2026 - 14:49 WIB

Maret 2026, IPC TPK Jambi Catat Pertumbuhan Arus Peti Kemas 22,5 Persen

17 April 2026 - 14:10 WIB

360 PPIH Daker Madinah Siap Sukseskan Haji 2026

17 April 2026 - 12:15 WIB

Panen Melimpah Pasca Bencana, Petani Kopi Gayo Kekurangan Buruh Petik

17 April 2026 - 11:31 WIB

Bersama Rumah Aksara, Guru SMA Asah Kompetensi Menulis di Perpustakaan Bogor

17 April 2026 - 11:04 WIB

Helikopter Jatuh di Sekadau, Seluruh Penumpang Dilaporkan Tewas

17 April 2026 - 10:42 WIB

Pemulihan Pascabencana Aceh Didorong Terintegrasi, Dana Rp 824,8 Miliar Disiapkan

16 April 2026 - 20:01 WIB

Tokoh Pemuda Aceh di Jakarta Soroti Lambannya Penanganan Bencana

16 April 2026 - 18:39 WIB

Kajati Sulteng Kunker ke Tolitoli, Resmikan Mess Kejari Hasil Hibah Pemda

16 April 2026 - 16:40 WIB

HBH Seusama Jadi Momentum Penggalangan Dana Balai Pengajian, Kegiatan Digelar di Jakarta dan Aceh

16 April 2026 - 14:09 WIB

Trending di RAGAM