Wartatrans.com, BOGOR — Tak jauh dari Rancamaya, sebuah kawasan perbukitan bernama Gunung Gadung kini lebih dikenal sebagai kompleks pemakaman Tionghoa. Nisan-nisan batu berdiri rapat, menandai kematian satu demi satu. Namun jauh sebelum fungsi itu melekat, Gunung Gadung adalah lanskap hidup—tanah subur dengan pepohonan rimbun, denyut kehidupan, sekaligus ruang persembunyian terakhir bangsawan Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Dalam catatan pantun Sunda dan tradisi tutur Bogor, Gunung Gadung menempati posisi penting pada fase runtuhnya Pajajaran. Di bukit inilah, seorang puteri kerajaan bersama para santana bersembunyi, menghindari pasukan Banten yang menyerbu ibu kota Pakuan melalui Lawang Gintung. Dari ketinggian bukit, mereka menyaksikan sendiri pusat kekuasaan Sunda itu dilalap api.

Pantun Bogor Dadap Malang Sisi Cimandiri menyebut Gunung Gadung sebagai saksi perlawanan Nyi Puteri Purnamasari, Rakean Kalang Sunda, dan Rahyang Kumbang Bagus Setra. Dari sana, kobaran api terlihat melahap panca persada Pakuan—Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati—dalam satu malam yang menentukan akhir sebuah kerajaan.
Kesaksian kehancuran itu tidak hanya hadir dalam narasi sejarah, tetapi juga dalam gambaran puitik juru pantun. Malam Gunung Gadung digambarkan bukan sebagai malam yang hening, melainkan malam yang penuh suara alam yang gelisah: binatang liar berhamburan, burung malam bersahutan, anjing hutan mendengus lapar. Api dan darah mengubah lanskap menjadi ruang ketakutan.
Dalam transkripsi Aki Bajurambeng Pakulonan Jasinga yang dicatat Muchtar Kala, kaki Gunung Gadung bahkan menjadi medan kematian. Mayat berserakan, darah mengalir, dan binatang buas turun memangsa tubuh-tubuh yang belum sempat dikubur. Sejarah di sini tidak tampil sebagai kisah heroik, melainkan sebagai luka terbuka yang dibiarkan membusuk di ingatan kolektif.
Ironisnya, justru ingatan itulah yang perlahan menghilang. Gunung Gadung yang dahulu menjadi benteng alam dan titik penting jalur pelarian menuju Pakidulan—kini Pelabuhan Ratu—nyaris tak menyisakan penanda sejarah. Tidak ada prasasti, tidak ada penunjuk situs, tidak pula narasi resmi yang menghubungkan ruang ini dengan peristiwa besar runtuhnya Pajajaran.
Yang tersisa hanyalah tanah sunyi dengan deretan makam. Ruang yang dulu menyimpan teriakan, api, dan darah kini menjadi tempat hening, terputus dari konteks sejarahnya sendiri. Gunung Gadung seolah mengalami pemutusan ingatan—sebuah tragedi kedua setelah kehancuran Pajajaran: hilangnya makna.
Di sinilah Gunung Gadung berdiri hari ini, bukan hanya sebagai lokasi pemakaman, tetapi sebagai simbol bagaimana sejarah dapat tergeser oleh waktu dan perubahan fungsi ruang. Ia tetap menyimpan cerita, namun tak lagi banyak yang mau mendengar. Dan seperti api yang pernah melahap Pakuan, ingatan tentangnya perlahan padam—tanpa suara.*** (BS)
























