Menu

Mode Gelap
Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI KAI Terapkan B50, Tekan Emisi Karbon Operasional Kereta Api Gelar RUA 2026, Iperindo Bahas Order Pembangunan Kapal Baru Dalam Negeri masih Sepi Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324 “Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI

PERISTIWA

Gunung Gadung: Dari Benteng Pajajaran ke Ruang Sunyi Ingatan

badge-check


 Gunung Gadung: Dari Benteng Pajajaran ke Ruang Sunyi Ingatan Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Tak jauh dari Rancamaya, sebuah kawasan perbukitan bernama Gunung Gadung kini lebih dikenal sebagai kompleks pemakaman Tionghoa. Nisan-nisan batu berdiri rapat, menandai kematian satu demi satu. Namun jauh sebelum fungsi itu melekat, Gunung Gadung adalah lanskap hidup—tanah subur dengan pepohonan rimbun, denyut kehidupan, sekaligus ruang persembunyian terakhir bangsawan Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Dalam catatan pantun Sunda dan tradisi tutur Bogor, Gunung Gadung menempati posisi penting pada fase runtuhnya Pajajaran. Di bukit inilah, seorang puteri kerajaan bersama para santana bersembunyi, menghindari pasukan Banten yang menyerbu ibu kota Pakuan melalui Lawang Gintung. Dari ketinggian bukit, mereka menyaksikan sendiri pusat kekuasaan Sunda itu dilalap api.

Pantun Bogor Dadap Malang Sisi Cimandiri menyebut Gunung Gadung sebagai saksi perlawanan Nyi Puteri Purnamasari, Rakean Kalang Sunda, dan Rahyang Kumbang Bagus Setra. Dari sana, kobaran api terlihat melahap panca persada Pakuan—Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati—dalam satu malam yang menentukan akhir sebuah kerajaan.

Kesaksian kehancuran itu tidak hanya hadir dalam narasi sejarah, tetapi juga dalam gambaran puitik juru pantun. Malam Gunung Gadung digambarkan bukan sebagai malam yang hening, melainkan malam yang penuh suara alam yang gelisah: binatang liar berhamburan, burung malam bersahutan, anjing hutan mendengus lapar. Api dan darah mengubah lanskap menjadi ruang ketakutan.

Dalam transkripsi Aki Bajurambeng Pakulonan Jasinga yang dicatat Muchtar Kala, kaki Gunung Gadung bahkan menjadi medan kematian. Mayat berserakan, darah mengalir, dan binatang buas turun memangsa tubuh-tubuh yang belum sempat dikubur. Sejarah di sini tidak tampil sebagai kisah heroik, melainkan sebagai luka terbuka yang dibiarkan membusuk di ingatan kolektif.

Ironisnya, justru ingatan itulah yang perlahan menghilang. Gunung Gadung yang dahulu menjadi benteng alam dan titik penting jalur pelarian menuju Pakidulan—kini Pelabuhan Ratu—nyaris tak menyisakan penanda sejarah. Tidak ada prasasti, tidak ada penunjuk situs, tidak pula narasi resmi yang menghubungkan ruang ini dengan peristiwa besar runtuhnya Pajajaran.

Yang tersisa hanyalah tanah sunyi dengan deretan makam. Ruang yang dulu menyimpan teriakan, api, dan darah kini menjadi tempat hening, terputus dari konteks sejarahnya sendiri. Gunung Gadung seolah mengalami pemutusan ingatan—sebuah tragedi kedua setelah kehancuran Pajajaran: hilangnya makna.

Di sinilah Gunung Gadung berdiri hari ini, bukan hanya sebagai lokasi pemakaman, tetapi sebagai simbol bagaimana sejarah dapat tergeser oleh waktu dan perubahan fungsi ruang. Ia tetap menyimpan cerita, namun tak lagi banyak yang mau mendengar. Dan seperti api yang pernah melahap Pakuan, ingatan tentangnya perlahan padam—tanpa suara.*** (BS)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI

27 Agustus 2026 - 05:38 WIB

Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324

26 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI

26 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas, Soroti Banjir, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur

26 Agustus 2026 - 15:03 WIB

KKP Intensifkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Donasi Terkumpul Rp920 Juta

26 Agustus 2026 - 13:02 WIB

Lomba Tahfiz Warnai Peringatan HUT RI dan Maulid Nabi di Sukadanau

26 Agustus 2026 - 12:52 WIB

Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya

26 Agustus 2026 - 08:16 WIB

Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia

25 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi

25 Agustus 2026 - 18:58 WIB

FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting

25 Agustus 2026 - 16:00 WIB

Trending di NASIONAL