Menu

Mode Gelap
Aceh Tengah Kembali Dikepung Banjir, Warga Panik — Kampung Terisolir, Akses Lumpuh Penyumbang emas untuk pembelian pesawat RI 01. Wafat Perkuat Peran sebagai Flag State, Indonesia Partisipasi dalam Sidang IMO SSE ke-12 Wakil Bupati Kudus Bellinda Mengangkat Adik Mendikdasmen Sebagai ‘Anak Buahnya’ Naik Kereta Saat Lebaran 2026, Pelanggan KAI Bantu Tekan Emisi hingga Puluhan Juta Kg CO₂e Gerakan Penanganan dari Hulu Ke Hilir menuju Kendaraan Zero ODOL 2027

Uncategorized

Hari Guru Nasional: Janji yang Terpendam dan Guru Honorer yang Menunggu

badge-check


 Hari Guru Nasional: Janji yang Terpendam dan Guru Honorer yang Menunggu Perbesar

Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

______

Setiap 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional. Di panggung upacara, guru dielu-elukan sebagai pilar bangsa, agen peradaban, sekaligus pelita masa depan. Namun, jauh dari sorotan, masih ada ratusan ribu guru honorer yang merayakan hari ini dengan satu rasa: menunggu.

Guru Honorer: Pahlawan yang Belum Diakui

“Saya sudah mengabdi sebelas tahun sebagai guru honorer di SMP di kabupaten kecil. Honor saya masih di bawah UMR. Anak saya ingin kuliah, saya menabung perlahan. Sedangkan saya? Status saya masih menunggu.”
— Bu Dewi, guru honorer, Jawa Tengah

Data PGRI memperkirakan 1,75 juta guru di Indonesia berstatus honorer, atau lebih dari 52 persen dari total guru di sekolah negeri. Sebagian besar adalah guru-guru yang menopang layanan pendidikan di daerah yang kekurangan tenaga ASN.

Menurut survei IDEAS, 74 persen guru honorer menerima upah di bawah UMR. Tidak heran jika profesi mulia ini sering hanya bisa dijalani dengan penuh pengorbanan, bukan kesejahteraan.

Perspektif Kepala Sekolah: Keadilan yang Tertunda

“Saya melihat setiap hari kerja keras guru honorer. Jam mengajar sama, tanggung jawab sama. Tapi honor dan status tidak sama. Ini membuat sekolah seolah memanggul utang moral yang tidak bisa dilunasi,”
— Bapak Hadi, Kepala Sekolah SMP Negeri di Kabupaten X.

Ia menambahkan, “Ketika mereka merasa dipinggirkan oleh sistem, motivasi mengajar terganggu. Pada akhirnya, yang paling dirugikan adalah masa depan peserta didik.”

Di sini kita melihat, persoalan honorer bukan hanya isu kesejahteraan individu. Ia adalah ancaman terhadap kualitas pendidikan nasional.

Retorika vs Realitas

Tema nasional tahun ini: Guru Hebat, Indonesia Kuat.
Namun bagi sebagian guru honorer, itu belum lebih dari seruan yang ditulis dengan font besar di spanduk upacara.

Kebijakan peningkatan kesejahteraan memang terus digaungkan: rekrutmen ASN, insentif, pelatihan. Tetapi banyak yang masih menganga jaraknya antara janji dan pancapaian.

Seorang guru honorer lain berkomentar lirih:
“Kalau tidak mengajar, saya merasa kehilangan diri saya. Tapi mengajar seperti ini, saya kehilangan masa depan saya.”

Betapa getir dunia yang menuntut guru terus menyalakan harapan, sementara harapan mereka sendiri terus diredupkan.

Apa yang Harus Negara Tagih pada Dirinya?

Jika guru adalah profesi mulia, maka kemuliaan itu harus hadir dalam:
✔ Status kerja yang jelas dan profesional
✔ Honor yang layak untuk hidup manusiawi
✔ Jaminan sosial: kesehatan, ketenagakerjaan, pensiun
✔ Peluang pengembangan kompetensi yang adil
✔ Penghapusan diskriminasi atas nama status

Apresiasi satu hari belum cukup. Yang dibutuhkan guru honorer adalah kepastian setiap hari.

Karena Guru Adalah Fondasi

Bangsa yang besar bukan hanya yang memuja guru dalam upacara, tetapi yang menjamin kehidupannya ketika sorak-sorai selesai.
Terutama guru honorer yang tetap datang setiap pagi, meski sistem belum berpihak.

Hari Guru Nasional harus menjadi lebih dari sekadar seremoni—melainkan momentum perubahan kebijakan yang berpihak pada mereka yang menjadi tulang punggung sekolah-sekolah kita.

Selamat Hari Guru Nasional.
Untuk guru honorer—yang terus mengajar di tengah ketidakpastian.
Untuk nyala kecil yang tanpa lelah menjaga terang pendidikan bangsa.***

Ajibarang, 25 Nop 2025


Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wakil Bupati Kudus Bellinda Mengangkat Adik Mendikdasmen Sebagai ‘Anak Buahnya’

7 April 2026 - 18:38 WIB

12 Kepala Keluarga di Selmak Lubok Pusaka Masih Bertahan di Bawah Terpal Pasca Bencana

7 April 2026 - 15:49 WIB

Titi DJ: Mental Jadi Penentu Peserta Raih Gelar Jawara

7 April 2026 - 15:25 WIB

Excavator Nyaris Terseret Banjir di Sungai Burlah yang Meluap

7 April 2026 - 15:18 WIB

DAMRI Dukung Pemulangan Santri Pasca Idul Fitri 1447 H, Fasilitasi Perjalanan Aman dan Nyaman dari Jepara ke Berbagai Pesantren

7 April 2026 - 14:16 WIB

Perkuat Kualitas Pelayanan, Pelindo Regional 2 Sunda Kelapa Gelar Sosialisasi Prosedur Kapal Penumpang

7 April 2026 - 14:02 WIB

DLH Aceh Barat Terapkan Sanksi Denda bagi Pembuang Sampah Sembarangan di Meulaboh

7 April 2026 - 06:01 WIB

Ahmad Dhani Meyakini Faktor Rejeki Penentu Seorang Bisa Menjadi Penyanyi Populer

7 April 2026 - 05:09 WIB

Pekan Pertama Final Four Proliga 2026, Hasilnya Beragam

6 April 2026 - 19:24 WIB

Istana Di Tengah Hutan Borneo

6 April 2026 - 09:05 WIB

Trending di RAGAM