Menu

Mode Gelap
KAI Commuter Siagakan 126 Personel di Stasiun Strategis Antisipasi Aksi Massa Kembali ke Kampus, Wabup Bireuen Razuardi Jadi Pemateri PKKMB Universitas Almuslim 2026 PARFI ’56 Ingin Bangun Dana Abadi untuk Seniman Pelindo Solusi Digital Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI KAI Terapkan B50, Tekan Emisi Karbon Operasional Kereta Api

Uncategorized

Hari Guru Nasional: Janji yang Terpendam dan Guru Honorer yang Menunggu

badge-check


 Hari Guru Nasional: Janji yang Terpendam dan Guru Honorer yang Menunggu Perbesar

Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

______

Setiap 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional. Di panggung upacara, guru dielu-elukan sebagai pilar bangsa, agen peradaban, sekaligus pelita masa depan. Namun, jauh dari sorotan, masih ada ratusan ribu guru honorer yang merayakan hari ini dengan satu rasa: menunggu.

Guru Honorer: Pahlawan yang Belum Diakui

“Saya sudah mengabdi sebelas tahun sebagai guru honorer di SMP di kabupaten kecil. Honor saya masih di bawah UMR. Anak saya ingin kuliah, saya menabung perlahan. Sedangkan saya? Status saya masih menunggu.”
— Bu Dewi, guru honorer, Jawa Tengah

Data PGRI memperkirakan 1,75 juta guru di Indonesia berstatus honorer, atau lebih dari 52 persen dari total guru di sekolah negeri. Sebagian besar adalah guru-guru yang menopang layanan pendidikan di daerah yang kekurangan tenaga ASN.

Menurut survei IDEAS, 74 persen guru honorer menerima upah di bawah UMR. Tidak heran jika profesi mulia ini sering hanya bisa dijalani dengan penuh pengorbanan, bukan kesejahteraan.

Perspektif Kepala Sekolah: Keadilan yang Tertunda

“Saya melihat setiap hari kerja keras guru honorer. Jam mengajar sama, tanggung jawab sama. Tapi honor dan status tidak sama. Ini membuat sekolah seolah memanggul utang moral yang tidak bisa dilunasi,”
— Bapak Hadi, Kepala Sekolah SMP Negeri di Kabupaten X.

Ia menambahkan, “Ketika mereka merasa dipinggirkan oleh sistem, motivasi mengajar terganggu. Pada akhirnya, yang paling dirugikan adalah masa depan peserta didik.”

Di sini kita melihat, persoalan honorer bukan hanya isu kesejahteraan individu. Ia adalah ancaman terhadap kualitas pendidikan nasional.

Retorika vs Realitas

Tema nasional tahun ini: Guru Hebat, Indonesia Kuat.
Namun bagi sebagian guru honorer, itu belum lebih dari seruan yang ditulis dengan font besar di spanduk upacara.

Kebijakan peningkatan kesejahteraan memang terus digaungkan: rekrutmen ASN, insentif, pelatihan. Tetapi banyak yang masih menganga jaraknya antara janji dan pancapaian.

Seorang guru honorer lain berkomentar lirih:
“Kalau tidak mengajar, saya merasa kehilangan diri saya. Tapi mengajar seperti ini, saya kehilangan masa depan saya.”

Betapa getir dunia yang menuntut guru terus menyalakan harapan, sementara harapan mereka sendiri terus diredupkan.

Apa yang Harus Negara Tagih pada Dirinya?

Jika guru adalah profesi mulia, maka kemuliaan itu harus hadir dalam:
✔ Status kerja yang jelas dan profesional
✔ Honor yang layak untuk hidup manusiawi
✔ Jaminan sosial: kesehatan, ketenagakerjaan, pensiun
✔ Peluang pengembangan kompetensi yang adil
✔ Penghapusan diskriminasi atas nama status

Apresiasi satu hari belum cukup. Yang dibutuhkan guru honorer adalah kepastian setiap hari.

Karena Guru Adalah Fondasi

Bangsa yang besar bukan hanya yang memuja guru dalam upacara, tetapi yang menjamin kehidupannya ketika sorak-sorai selesai.
Terutama guru honorer yang tetap datang setiap pagi, meski sistem belum berpihak.

Hari Guru Nasional harus menjadi lebih dari sekadar seremoni—melainkan momentum perubahan kebijakan yang berpihak pada mereka yang menjadi tulang punggung sekolah-sekolah kita.

Selamat Hari Guru Nasional.
Untuk guru honorer—yang terus mengajar di tengah ketidakpastian.
Untuk nyala kecil yang tanpa lelah menjaga terang pendidikan bangsa.***

Ajibarang, 25 Nop 2025


Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia. ***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kembali ke Kampus, Wabup Bireuen Razuardi Jadi Pemateri PKKMB Universitas Almuslim 2026

27 Agustus 2026 - 11:21 WIB

Pelindo Solusi Digital Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok

27 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI

27 Agustus 2026 - 05:38 WIB

Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324

26 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI

26 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas, Soroti Banjir, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur

26 Agustus 2026 - 15:03 WIB

KKP Intensifkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Donasi Terkumpul Rp920 Juta

26 Agustus 2026 - 13:02 WIB

Lomba Tahfiz Warnai Peringatan HUT RI dan Maulid Nabi di Sukadanau

26 Agustus 2026 - 12:52 WIB

Dari Tim Alfa hingga Ubi Bombing, Upaya Padamkan Karhutla Way Kambas

26 Agustus 2026 - 09:32 WIB

Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya

26 Agustus 2026 - 08:16 WIB

Trending di RAGAM