Menu

Mode Gelap
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditersangkakan, Dugaan Korupsi Asabri hingga PLN KKP Tambah 10 Kapal Pengawas dan Perluas Dermaga Batam untuk Berantas Illegal Fishing di Natuna Lewat Program TJSL, KAI Salurkan Beasiswa Rp300 Juta untuk Lima Anak Korban Kecelakaan KA di Bekasi Timur Lima KA Berrelasi Terpanjang di Sumatra Catat Kenaikan Penumpang pada Semester I 2026 Gedung GOS Resmi Berubah Fungsi Menjadi Taman Budaya Negeri Gayo Bima Alfath Perkenalkan Single “Cinta Tak Bernyawa”, Siap Tampil Perdana di Panggung NEW CELEBRITY

Uncategorized

Hari Guru Nasional: Janji yang Terpendam dan Guru Honorer yang Menunggu

badge-check


 Hari Guru Nasional: Janji yang Terpendam dan Guru Honorer yang Menunggu Perbesar

Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

______

Setiap 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional. Di panggung upacara, guru dielu-elukan sebagai pilar bangsa, agen peradaban, sekaligus pelita masa depan. Namun, jauh dari sorotan, masih ada ratusan ribu guru honorer yang merayakan hari ini dengan satu rasa: menunggu.

Guru Honorer: Pahlawan yang Belum Diakui

“Saya sudah mengabdi sebelas tahun sebagai guru honorer di SMP di kabupaten kecil. Honor saya masih di bawah UMR. Anak saya ingin kuliah, saya menabung perlahan. Sedangkan saya? Status saya masih menunggu.”
— Bu Dewi, guru honorer, Jawa Tengah

Data PGRI memperkirakan 1,75 juta guru di Indonesia berstatus honorer, atau lebih dari 52 persen dari total guru di sekolah negeri. Sebagian besar adalah guru-guru yang menopang layanan pendidikan di daerah yang kekurangan tenaga ASN.

Menurut survei IDEAS, 74 persen guru honorer menerima upah di bawah UMR. Tidak heran jika profesi mulia ini sering hanya bisa dijalani dengan penuh pengorbanan, bukan kesejahteraan.

Perspektif Kepala Sekolah: Keadilan yang Tertunda

“Saya melihat setiap hari kerja keras guru honorer. Jam mengajar sama, tanggung jawab sama. Tapi honor dan status tidak sama. Ini membuat sekolah seolah memanggul utang moral yang tidak bisa dilunasi,”
— Bapak Hadi, Kepala Sekolah SMP Negeri di Kabupaten X.

Ia menambahkan, “Ketika mereka merasa dipinggirkan oleh sistem, motivasi mengajar terganggu. Pada akhirnya, yang paling dirugikan adalah masa depan peserta didik.”

Di sini kita melihat, persoalan honorer bukan hanya isu kesejahteraan individu. Ia adalah ancaman terhadap kualitas pendidikan nasional.

Retorika vs Realitas

Tema nasional tahun ini: Guru Hebat, Indonesia Kuat.
Namun bagi sebagian guru honorer, itu belum lebih dari seruan yang ditulis dengan font besar di spanduk upacara.

Kebijakan peningkatan kesejahteraan memang terus digaungkan: rekrutmen ASN, insentif, pelatihan. Tetapi banyak yang masih menganga jaraknya antara janji dan pancapaian.

Seorang guru honorer lain berkomentar lirih:
“Kalau tidak mengajar, saya merasa kehilangan diri saya. Tapi mengajar seperti ini, saya kehilangan masa depan saya.”

Betapa getir dunia yang menuntut guru terus menyalakan harapan, sementara harapan mereka sendiri terus diredupkan.

Apa yang Harus Negara Tagih pada Dirinya?

Jika guru adalah profesi mulia, maka kemuliaan itu harus hadir dalam:
✔ Status kerja yang jelas dan profesional
✔ Honor yang layak untuk hidup manusiawi
✔ Jaminan sosial: kesehatan, ketenagakerjaan, pensiun
✔ Peluang pengembangan kompetensi yang adil
✔ Penghapusan diskriminasi atas nama status

Apresiasi satu hari belum cukup. Yang dibutuhkan guru honorer adalah kepastian setiap hari.

Karena Guru Adalah Fondasi

Bangsa yang besar bukan hanya yang memuja guru dalam upacara, tetapi yang menjamin kehidupannya ketika sorak-sorai selesai.
Terutama guru honorer yang tetap datang setiap pagi, meski sistem belum berpihak.

Hari Guru Nasional harus menjadi lebih dari sekadar seremoni—melainkan momentum perubahan kebijakan yang berpihak pada mereka yang menjadi tulang punggung sekolah-sekolah kita.

Selamat Hari Guru Nasional.
Untuk guru honorer—yang terus mengajar di tengah ketidakpastian.
Untuk nyala kecil yang tanpa lelah menjaga terang pendidikan bangsa.***

Ajibarang, 25 Nop 2025


Tentang Penulis:

Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah seorang guru IPA dan menulis esai reflektif mengaitkan sains, budaya, dan spiritualitas dalam narasi pendidikan humanistik. Ia percaya bahwa belajar bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang energi yang menghubungkan hati manusia. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Akhirnya, Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus

11 Juli 2026 - 07:53 WIB

Wali Kota Langsa Serahkan Seragam Sekolah Gratis bagi Anak Yatim Piatu di Langsa Lama

11 Juli 2026 - 01:56 WIB

Jum’at Berkah Aceh Bangun Ukhuwah Lewat Segelas Kopi dan Sepotong Kue di Masjid tansaran 

10 Juli 2026 - 20:37 WIB

Nobar Perempatfinal Hingga Final Piala Dunia 2026 Dihadirkan InJourney Airports di 7 Bandara

10 Juli 2026 - 18:55 WIB

Febrie Setelah Digeledah Tegaskan Tidak Mundur, Penanganan Kasus Asabri hingga MBG Tetap Berjalan

10 Juli 2026 - 18:07 WIB

Revtalisasi MTSN Subulussalam Diduga Minim Koordinasi, Kegiatan Belajar Mengajar Terganggu

10 Juli 2026 - 17:33 WIB

Omah Jangan Diam Terus, Resto di Depok yang Menyajikan Kelezatan, Perjalanan, dan Nilai Kemanusiaan

10 Juli 2026 - 17:05 WIB

Pelita Air Hadirkan Senandung Musikal Maliq & D’Essentials di Penerbangan

10 Juli 2026 - 15:42 WIB

Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel Meninggal Dunia di Usia 63 Tahun

10 Juli 2026 - 09:27 WIB

Sengkarut 4 Blok Lahan Kosong Negara di Kemayoran: Ketegasan Negara Menghilang?

10 Juli 2026 - 09:11 WIB

Trending di RAGAM