Menu

Mode Gelap
Arus Balik Nataru Menguat, Okupansi Layanan AKAP DAMRI Tembus 81 Persen Minat Kereta Panoramic Meningkat, KAI Catat 150.176 Pelanggan Sepanjang 2025 Libur Tahun Baru, Penumpang Commuter Line Tembus 15 Juta Orang Selama Nataru Fort Canning Tree Tunnel Jadi Spot Favorit Wisatawan di Singapura Relawan Sahabat Safar Dampingi Anak Korban Longsor di Desa Jongok Meluem KAI Daop 6 Yogyakarta Layani 1,004 Juta Penumpang hingga Hari ke-16 Angkutan Nataru

SENI BUDAYA

HSBI Bahas Masa Depan Seni Islam: Dari Jihad Seni hingga Peran Film Santri

badge-check


					HSBI Bahas Masa Depan Seni Islam: Dari Jihad Seni hingga Peran Film Santri Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) menggelar diskusi budaya bertema Masa Depan Seni Islam di Galeri Darmin Kopi, Jakarta Selatan, Sabtu (15/11/2025).

Hadir sebagai narasumber Wakil Sekretaris HSBI Budi Sumarno dan Wakil Ketua Bidang Sastra Putra Gara, diskusi menyoroti pentingnya gerakan kolektif dalam mengembangkan seni Islam sebagai medium dakwah dan ekspresi budaya yang inklusif.

Diskusi ini menjadi ajang pertukaran pandangan mengenai potensi dan tantangan dalam menggerakkan seni Islam di tengah perubahan zaman. Dalam pembukaannya, Putra Gara menyampaikan bahwa seni Islam perlu digerakkan secara masif dengan niat yang kuat dan orientasi jihad seni.

“Menggerakkan Seni Islam memang tidak mudah. Perlu kesungguhan dan niat jihad seni. Karena itulah dalam kesempatan kali ini perlu kita diskusikan lalu kita adakan kegiatan yang nyata,” ujar Gara, yang juga dikenal sebagai penulis novel-novel sejarah.

Sementara itu, Budi Sumarno lebih banyak menyoroti potensi syiar Islam melalui media film. Ia menekankan bahwa dakwah tidak selalu harus dilakukan secara verbal, tetapi dapat disampaikan secara visual dengan pendekatan sinematik yang kuat.

“Dakwah tidak harus secara ferbal, tetapi bisa dilakukan melalui film. Pesan-pesan universal bisa disisipkan melalui film tersebut,” kata Budi.

Ia menambahkan, saat ini HSBI melalui Kementerian Kebudayaan tengah menjalankan program Santri Film Festival (Saffest) 2025 sebagai bagian dari edukasi dan pelatihan kreatif kepada kalangan santri.

“Melalui Sanffest ini kita ingin mengedukasi para santri agar bergerak secara kreatif mengabarkan nilai-nilai Islam melalui film,” terang Budi lagi.

Diskusi berlangsung dalam suasana terbuka dan interaktif. Para peserta secara bergantian menyampaikan pandangan terkait kondisi seni budaya Islam saat ini. Beberapa peserta menilai bahwa seni Islam masih kurang mendapatkan ruang dan dukungan memadai.

“Melalui HSBI kami berharap agar Seni budaya Islam dapat tempat dan ruang, tidak hanya berkutat di ruang sempit seperti saat Ramadhan atau pengajian,” ungkap Eka, salah satu peserta.

Senada dengan itu, peserta lain bernama Boy menyoroti bahwa seni budaya Islam selama ini sering kali dianggap eksklusif, sehingga tidak membumi.

“Harus adanya gerakan bersama agar Seni budaya Islam lebih dikenal,” ungkap Boy.

Diskusi yang berlangsung hangat tersebut diakhiri dengan harapan agar HSBI dapat terus menjadi motor penggerak kemajuan seni budaya Islam secara komunal, bukan hanya personal.

“HSBI sebagai rumah besar para pelaku seni budaya Islam, diharapkan menjadi penggerak dari kemajuan seni budaya Islam itu sendiri,” tutup Gara.(****)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PERUJA Rayakan Enam Tahun dengan Aksi Melukis “Bela Rasa” di Balai Budaya Jakarta

1 Januari 2026 - 07:54 WIB

Masyarakat Nglobo Sambut Tahun Baru 2026 dengan Apresiasi Seni di Sanggar Pule

1 Januari 2026 - 06:33 WIB

Kuyang Legenda Kalimantan Diangkat Ke Dalam Film

30 Desember 2025 - 09:31 WIB

Catatan LK Ara: Ketika Kayu Mulai Bertanya

30 Desember 2025 - 08:29 WIB

Komunitas Rancage Manunggal Rasa Bahas Program 2026

29 Desember 2025 - 08:16 WIB

Trending di RAGAM