Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat volume angkutan retail sebesar 42.405 ton pada periode Januari–Februari 2026. Capaian ini menjadi indikator pergerakan distribusi barang yang tetap terjaga di awal tahun, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan persiapan kebutuhan Ramadan hingga Lebaran.
Kinerja tersebut melanjutkan tren pertumbuhan dalam dua tahun terakhir. Sepanjang 2025, angkutan retail KAI mencapai 252.976 ton, meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 224.865 ton. Peningkatan ini menunjukkan peran transportasi berbasis rel dalam memperkuat rantai pasok antardaerah secara konsisten.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa layanan retail menjadi salah satu penggerak distribusi barang konsumsi, produk kebutuhan harian, hingga komoditas pendukung sektor perdagangan. Awal tahun merupakan fase penting bagi pelaku usaha untuk memastikan ketersediaan stok sebelum memasuki periode permintaan tinggi.
Melalui pola pengiriman terjadwal dan kapasitas angkut yang terukur, kereta api membantu pelaku UMKM serta distributor menjaga kelancaran suplai. Kepastian waktu tempuh memberikan ruang perencanaan yang lebih presisi, sehingga arus barang dari sentra produksi ke pusat konsumsi dapat berjalan efisien.
Model bisnis angkutan retail KAI dijalankan melalui dua pendekatan yaitu business to business (B2B) dengan mitra logistik resmi, serta business to customer (B2C) yang memungkinkan masyarakat umum, termasuk UMKM mengirimkan barangnya melalui jaringan mitra KAI. Layanan ini kini terintegrasi dengan berbagai jasa ekspedisi, e-commerce fulfillment, dan pengiriman antarkota, sehingga pelaku usaha dapat menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya kompetitif.
Menjelang Lebaran, intensitas pergerakan barang cenderung meningkat seiring bertambahnya kebutuhan masyarakat. Distribusi yang lancar berdampak pada stabilitas pasokan di pasar serta menjaga ritme aktivitas ekonomi di berbagai kota. Angkutan retail KAI hadir sebagai bagian dari sistem logistik yang menopang momentum tersebut.
Efisiensi biaya logistik juga menjadi faktor penting bagi pelaku usaha. Di sisi lain, distribusi berbasis kereta api turut mendukung pengurangan beban lalu lintas jalan raya.
Anne menambahkan bahwa KAI terus melakukan penyesuaian operasional agar kapasitas angkut tetap selaras dengan kebutuhan pasar sepanjang 2026. Koordinasi dengan mitra usaha diperkuat untuk menjaga keandalan layanan dan ketepatan waktu pengiriman.
Dengan realisasi 42.405 ton pada dua bulan pertama tahun ini serta tren peningkatan dari 224.865 ton pada 2024 menjadi 252.976 ton pada 2025, angkutan retail menunjukkan kontribusi yang terus berkembang terhadap perekonomian.
“Distribusi barang yang terjaga menjadi elemen penting dalam mendukung UMKM, perdagangan, serta kesiapan masyarakat menyambut Lebaran,” tutup Anne.(fahmi)



