Menu ✖

Mode Gelap
Wahyu Zein, Penyany Sekaligus Komposer Rilis EP dan Sukses Tembus 8 Ribuan Montly Listeners di Spotify Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 Digelar di USK, Hadirkan Seniman dari Berbagai Negara Hajatan FIFGROUP Pondok Gede Hadirkan Beragam Promo, Hiburan, dan Kegiatan Sosial untuk Masyarakat Apresiasi Pencapaian Prestasi Bank Jakarta oleh Kamaksi Jejak Kereta Api di Ujung Jawa dan Sumatra: Merak, Ketapang, Krueng Mane dan Tanjungkarang OPINI: Peralihan Pucuk Pimpinan Polri – Murni Bebenah atau Sekadar Alat Kekuasaan Baru?

PERON

KAI Bidik Pertumbuhan Baru Menuju 2045, Perkuat Aset dan Teknologi

badge-check


 KAI Bidik Pertumbuhan Baru Menuju 2045, Perkuat Aset dan Teknologi Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyiapkan transformasi bisnis untuk memperluas sumber pertumbuhan perusahaan menuju 2045. Strategi tersebut diarahkan melalui optimalisasi aset, pemanfaatan teknologi, penguatan kapabilitas, serta pengembangan bisnis non-farebox.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan arah transformasi tersebut dalam SBM ITB Industrial Summit 2026 di Hotel AYANA Midplaza Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Dalam forum yang mempertemukan pemimpin industri, regulator, investor, dan akademisi tersebut, Bobby menjadi pembicara pada Parallel Session – Transportation Sector dengan paparan bertajuk “Growth Beyond the Limits: Transforming Railways for Indonesia’s Economic Future.”

Bobby mengatakan pertumbuhan KAI ke depan tidak cukup hanya mengandalkan bisnis transportasi. Perusahaan perlu memperluas sumber nilai dengan mengoptimalkan aset, teknologi, keahlian, dan basis pelanggan.

Pada 2025, KAI Group mencatat 503,5 juta pelanggan atau meningkat 8,52 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 464 juta pelanggan. KAI juga mencatat sekitar 2,8 juta interaksi pelanggan setiap hari.

“Skala KAI sudah sangat besar. Tantangan sekaligus peluang berikutnya adalah meningkatkan kontribusi aset, teknologi, keahlian, dan basis pelanggan sebagai sumber pertumbuhan baru yang memberi nilai lebih besar bagi perusahaan dan perekonomian,” ujar Bobby.

Saat ini, sekitar 94 persen pendapatan KAI masih berasal dari bisnis transportasi. Sementara kontribusi bisnis non-farebox baru sekitar 6 persen.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi KAI untuk mengembangkan empat mesin pertumbuhan, yakni aset operasional, aset berwujud, aset berbasis kapabilitas, dan aset teknologi.

KAI memiliki sekitar 327,8 juta meter persegi aset lahan perkeretaapian yang dapat dikembangkan melalui optimalisasi kawasan dan properti, Transit-Oriented Development (TOD), layanan digital, maintenance, repair, and overhaul (MRO), manufaktur, hingga pengembangan keahlian perkeretaapian.

“Pertumbuhan ke depan harus lebih produktif. KAI perlu semakin kuat dalam operasi, semakin optimal dalam mengelola aset, dan semakin cepat memanfaatkan teknologi,” kata Bobby.

Transformasi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kontribusi kereta api terhadap efisiensi transportasi dan logistik nasional. Menurut Bobby, semakin besarnya peran kereta api dapat memperkuat daya saing industri melalui mobilitas orang dan barang yang lebih efisien.

KAI juga mulai mendorong pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas operasi sekaligus mengoptimalkan kapasitas jaringan yang tersedia.

Dalam peta jalan menuju 2045, KAI menargetkan volume pelanggan mencapai sekitar 1,4 miliar pelanggan per tahun. Pada saat yang sama, kontribusi bisnis non-farebox ditargetkan meningkat menjadi sekitar 20–25 persen.

“Kita perlu bergerak dari menunggu permintaan menjadi menciptakan peluang. Industri yang maju membangun kesempatan, lalu pertumbuhan mengikuti,” ujar Bobby.

Bobby menegaskan, transformasi menuju 2045 membutuhkan kemampuan KAI dalam membaca perubahan, memperkuat sumber pertumbuhan, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat.

“Menuju 2045, KAI menargetkan posisi sebagai world-class railway operator. Untuk mencapainya, kami harus memperkuat produktivitas, memperluas sumber pertumbuhan, dan memastikan perkeretaapian memberi kontribusi yang semakin besar terhadap konektivitas serta daya saing Indonesia,” tutup Bobby.(fahmi)

 

Baca Lainnya

Jejak Kereta Api di Ujung Jawa dan Sumatra: Merak, Ketapang, Krueng Mane dan Tanjungkarang

4 Oktober 2026 - 19:58 WIB

KA Mutiara Timur Catat 304.522 Pelanggan, Banyuwangi Makin Terhubung dengan Surabaya

4 Oktober 2026 - 17:26 WIB

KAI Catat 11,34 Juta Pergerakan Pelanggan di Sumatra, Naik 12,02 Persen

4 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Commuter Run 2026 Diikuti 2.500 Peserta, KAI Commuter Dorong Gaya Hidup Sehat dan Transportasi Publik

4 Oktober 2026 - 09:07 WIB

KA Harina Tembus 567 Ribu Pelanggan, Hubungkan Bandung-Surabaya via Jalur Utara

3 Oktober 2026 - 16:20 WIB

Dilema Aturan Impor KRL Bekas dan Kebutuhan Layanan Publik

3 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Menhub Dudy Tegaskan  Keselamatan Transportasi Harus jadi Perhatian Utama

3 Oktober 2026 - 14:48 WIB

Angkutan Non-Batu Bara KAI Capai 9,15 Juta Ton, Hasil Pertanian Banyuwangi–Jakarta Mulai Dibidik

2 Oktober 2026 - 18:10 WIB

Keributan Terjadi di Eskalator Stasiun Bekasi, Diduga Dipicu Perselisihan Pasangan

2 Oktober 2026 - 08:47 WIB

Pencuri Kabel Whoosh Berhasil Ditangkap, KCIC: Aksinya Bisa Membahayakan Keselamatan Perjalanan

1 Oktober 2026 - 19:07 WIB

Trending di PERON